Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Orang-orang Tak Bersalah

tinggalkan komentar »

Sudah enam bulan kamar itu kosong, tapi bukan tak berpenghuni. Kamar itu masih berpenghuni karena barang-barang milik penghuninya masih berada di tempatnya. Hanya saja selama sekian bulan itu, penghuninya tidak pernah pulang. Penghuninya tidak memberi kabar sedikit pun, apakah akan kembali ke kamar itu atau tidak.

Radio dan buku-buku yang berada di atas meja kecil di sudut ruangan sudah terbungkus oleh debu. Baju-baju kotor yang tergantung di dinding sudah menjadi sarang laba-laba. Ampas kopi dan puntung rokok sudah mengering di dasar gelas. Bau makanan busuk dari piring di bawah kolong ranjang membuat ruang kamar itu bertambah pengap.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

7 Februari 2010 at 10:20

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap

with 12 comments

Di Kedai Tuak Martohap selalu ada beberapa orang lelaki—biasanya 4 sampai 5 orang—yang bercakap-cakap sambil minum tuak. Selalu ada cerita yang mereka percakapkan. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Karena mereka bercakap-cakap dengan suara tinggi, maka semua tamu di kedai tuak itu tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Tapi ada pula cerita yang mereka percakapkan dengan suara rendah. Kalau bercakap-cakap seperti itu, mereka pasti menggeser gelas dan botol tuak masing-masing ke tengah meja agar dapat menyimak sambil melipat kedua tangan di atas meja.

Dua jam sebelum tengah malam, biasanya Pita mulai sibuk mengelap sisa-sisa makanan dan tuak yang tertumpah di atas meja. Membersihkan dan merapikan kursi-kursi merupakan isyarat bahwa dia sedang bersiap-siap untuk menutup kedai tuaknya. Satu atau dua orang tamu yang masih berada di kedainya harus bersiap-siap pula untuk pulang. Tapi pada malam itu, ada seorang lelaki beruban yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari kursinya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

31 Januari 2010 at 09:38

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Lidah

with 10 comments

Matahari telah muncul di timur. Cahaya kuning menyeruak dan menguasi permukaan langit. Bola api raksasa itu merangkak mendaki hingga sepenggalah ketinggiannya. Biasanya di waktu seperti itu Rena sudah berada di dapur. Memasak atau mencuci tumpukan piring kotor. Tapi tidak di pagi itu. Saat itu dia merasakan tubuhnya capek dan kepala agak pening. Maka dia masih tiduran di dalam kamar.

Di luar kamar, terdengar ibu mertuanya sibuk mengomel. Sesekali juga terdengar perempuan tua itu membentak-bentak.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Januari 2010 at 08:53

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Seekor Anjing Manis

with 17 comments

Manisha nyaris terlambat sekolah. Ia bangun kesiangan karena semalam menonton televisi sampai larut, sampai-sampai justru televisi itu yang menonton dirinya terlelap di sofa ruang tamu. Mungkin acara televisi itu terbawa hingga ke dalam mimpinya, bahkan mungkin saja dalam mimpi itu Manisha kembali menonton televisi, lantas tertidur lagi, maka ia pun akan bermimpi di dalam mimpi. Betapa lelapnya tidur yang seperti itu.

Sayangnya, ia harus masuk sekolah. Maka pagi ini Manisha terjaga setelah ibunya tak henti-henti menggedor pintu kamar.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

17 Januari 2010 at 21:15

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Pengunyah Sirih

with 8 comments


Mulut Sukro senantiasa memerah. Bibir, gigi, dan lidah lelaki setengah baya itu mengundang perhatian orang lantaran memerah. Ludahnya merah segar. Kebiasaannya mengunyah sirih, sebagaimana dilakukan para wanita zaman dulu, membekaskan warna memerah di mulutnya. Tapi menjelang dini hari, di bawah pohon trembesi, bukan hanya mulutnya yang memerah. Sekujur tubuhnya memerah, melelehkan darah. Luka-luka tubuhnya menganga. Darah mengucur kental, merembes di berbagai bagian tubuh dan wajah.

Tak lagi terdengar Sukro mengerang. Orang-orang kampung berhenti melampiaskan kemurkaan: menganiayanya dengan kayu, batu, dan senjata tajam. Tubuh Sukro terkulai. Seseorang memeriksa detak nadi lelaki setengah baya itu. Tak berdenyut. Tubuhnya tak bergerak. Tapi kebencian orang padanya masih tersungkup sumpah serapah, ”Ayo, tampakkan kesaktianmu, Sukro! Mana buktinya kalau kamu kebal? Hiduplah kembali!”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

10 Januari 2010 at 08:06

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Rumi

with 4 comments

Dingin itu memuncak sejak ngambil wudhu untuk shalat subuh. Kabut tebal. Petunjuk waktu pada arloji telah ada di kisaran 6, 3, dan 9. Apa ini termasuk wilayah Indonesia bagian barat, gumamku—memaksakan keluar kamar. Melangkah di papan kusam di tingkat dua, yang sepertinya jarang dibersihkan atau diinjak langkah tamu, pertanda tidak banyak yang datang. Menginap di losmen yang hanya dua tingkat ini, dengan empat kamar di kiri dan enam di kanan. Kamar dengan tempat tidur yang seperti diambil dari peninggalan bencana dua puluh tahun lalu—dengan lemari papa, seprai yang seperti direntang dan terbiar, menyerah di remang lampu yang lelah.

Tangga sempit satu meter menekuk langsung ke lantai dasar, dengan dapur dan jajaran dua kamar mandi bersama. Pengujung lorong yang diapit dua kamar itu: lobi dengan meja panjang penyekat kantor penginapan. Di mana petugas yang renta tanpa gairah menerima tamu, mengurus tetek bengek administrasi nginap, dengan kursi dan meja tamu yang seperti tidak pernah dibersihkan di tentangnya—seperti memberengut malu menyandang debu. Pagi ini ruang dengan pintu tertutup itu sunyi, remang dingin memaksa mengenyak cuma bisa menyulut rokok—meski ingin sarapan, minum kopi dan baca koran. Apa ini ada termasuk wilayah Indonesia bagian barat? gumamku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 Januari 2010 at 10:05

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Kisah Siti Nurjannah

with 4 comments

Setiap kali melewati Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Budi Utomo, aku terkenang kepada dua perempuan, Sobar memulai kisahnya. Perempuan pertama adalah Farida, yang kunikahi ketika berusia 24 tahun. Perempuan kedua bernama Siti Nurjannah. Dia adalah makhluk yang tidak kasatmata dan selalu berbau wangi. Aku bersua dengannya ketika ditahan di RTM. Mata kedua perempuan rupawan itu dapat menyihir para pria hingga tergila-gila, atau mabuk kepayang, lanjut Sobar.

Kau mengada-ada! Kau ’ngarang, ya?” Aku memenggal kisah Sobar. ”Apa maksudmu dengan, Siti Nurjannah adalah makhluk yang tidak kasatmata?” tanyaku heran. Sobar memang muncul tiba-tiba. Dia bagai orang bunian datang di rumah tua, di desa kelahiranku, tempatku sembunyi. Dia tersipu. Saat itu bulan Desember yang berhujan lebat. Matahari senja memerahkan cakrawala di kawasan barat, ketika lelaki yang lama menghilang itu datang. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Pakaian dari bahan dril abu-abu yang membungkus badan mantan tapol kurus itu, lepek, kusut, dan dekil.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

27 Desember 2009 at 06:14

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Kaki yang Terhormat

with 5 comments

Menurut Anda, bagian tubuh manakah yang paling penting? Saya yakin, tak mudah untuk langsung menjawab. Tetapi, bila hal itu ditanyakan kepada nenek saya, serta-merta ia akan bilang, ”Kaki!” seraya mengangkat sebelah kaki, dengan telunjuk menukik lurus ke bawah, dalam hitungan yang tak mencapai detik.

Bila ada peribahasa berkata pelihara lidah, berjalan pelihara kaki, maka Anda boleh yakin, hanya penggal terakhirlah yang penting bagi nenek saya. Sementara untuk penggal pertama, ia akan menyergah, ”Lidah?! Mestinya pelihara ludah!” seraya mengulum menciutkan bibir, lantas mendorong dengan pipi kempotnya. Meludah. Merah, sirih bercampur sedah.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

20 Desember 2009 at 06:07

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Nima

with 7 comments

Sobri bersiul. Jari-jari tangannya yang kasar terus menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Arni. Gadis berusia enam tahun itu sesekali tertawa cekikikan. Kadang terdengar teriaknya, ”Jangan keras-keras, Pak!” Sobri tertawa. Kadang menggelitik ketiak bocah itu. Setelah selesai menjelajahi seluruh tubuh anak itu dengan sabun di tangannya, Sobri menyambar gayung dan menyendok air di bak mandi lalu mengguyur tubuh bocah itu. Arni berjingkrak- jingkrak seperti tengah bermain lompat tali. Mengusir rasa dingin. Dengan handuk yang baru dicuci, Sobri serta-merta menyergap wajah bocah itu. Arni gelagapan. Sobri memindahkan balutan handuk itu ke tubuh bocah itu. Lalu memapahnya keluar dari kamar mandi. ”Seger kan?” katanya kepada gadis itu.

Betul hari ini Makku pulang, Pak?” gadis itu bertanya kepada ayahnya ketika Sobri dengan telaten menyeka sisa-sisa air dari tubuhnya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 Desember 2009 at 21:10

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

15 Hari Bulan

with 9 comments

Di usia yang sudah condong ke barat—begitu Uwak Bandi menggelar masa tuanya—tak ada lagi angan-angan untuk kaya. Menunaikan rukun Islam kelima adalah mutiara keinginannya sebelum ruhnya diraut maut. Uwak Bandi mengerti, seperti kata kebanyakan orang, kaya itu titi utama menuju Tanah Suci. Namun, ia masih percaya, hasratnya akan terkabul dengan niat yang terus mengepul. Tentu ia sadar, niat tersebut harus ditopang kerja keras dan doa. Soal biaya? Ah, bukankah rezeki seumpama teka-teki, sulit-sulit mudah untuk diselidiki?

Banyak orang yang dinilai tak berharta, tapi lulus pergi haji. Uwak Bandi ingin masuk dalam golongan tersebut. Tak kaya, tak mengapa. Tapi, pantang baginya memiskinkan cita-cita. Asal jangan cita-cita yang disusupi cela, titah hatinya. Jangan pula sampai terjangkit penyakit riya: berlomba naik haji biar diseru kaya raya! Andai boleh memilih, ia rela dituding miskin sebelum maupun sepulang dari Mekkah.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 Desember 2009 at 09:22

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan