Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Desember 2003

Sepucuk Surat

with one comment

Ketika Pakemon sedang membaca koran pagi di teras depan rumahnya, sambil menikmati secangkir kopi arabika, seorang kurir dari kantor tempatnya bekerja tempo hari datang. Kurir itu mengabarkan, Pak Presdir baru saja meninggal dunia.

“Saya mengantar ini, Pak,” kata kurir itu seraya mengajukan surat ke tangan Pakemon.

“Dari siapa?” tanya Pakemon.

“Tidak tahu Pak. Saya cuma disuruh antar.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

28 Desember 2003 at 11:26

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ing Ratri

with one comment

Namaku Vampira Suburbia. Gebyar gemerlap berikut semua cahaya kota besar yang menyala serentak di akhir tahun dan suasana pesta pora yang bisa dirasa di mana-mana meremajakan diriku sehingga tak menjadi tua-tua. Sebagai Nycteris javanica yang tergolong berukuran kecil dibanding makhluk sejenisnya, aku bisa terbang lebih leluasa, lebih bebas menjelajah ke mana-mana. Kini, aku memenuhi janjiku untuk menuju ke sebuah kota, yang pesonanya hanya bisa dijangkau oleh kenangan….

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 Desember 2003 at 11:29

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Cakra Punarbhawa

with one comment

(Kisah Lima Penjelmaan)

Aku lahir. Gajahmada melepas jangkar. Melabuhkan armada tempur di pantai leluhurku. Malam biru. Seperti jubah laut masa lalu.

Ayahku nelayan tua bermata ungu. Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk, dan perahu. Ibuku dayang istana, perayu ulung, penakluk muasal kata, penadah titah yang patah. Suatu malam raja melepas lelah dalam rahim ibu. Aku terjaga. Aku benih, gabungan sudra dan ksatria, hanyut menggenangi gema genta pendeta. Aku putra jadah. Rasi bintang yang sendiri. Terbuang, tak diakui. Meski raja mencintaiku, namun takhta adalah utama, setelah titah. Ibu mengeluh. Aku pasrah. Maka, nelayan tua bermata ungu itu, kupanggil ayah.

Aku belia dalam kubangan janji-janji Gajahmada, sang penakluk terkutuk. Aku belajar memanah tangis. Menebas air mata. Raja merestuiku jadi laskar. Di garis depan aku bertempur. Demi leluhur, istana, dan raja-ayah yang dulu tak menghendakiku. Namun lacur, aku gugur. Seperti pokok jati yang rubuh di musim kering. Lambungku lebih mencintai tombak ketimbang ombak.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

14 Desember 2003 at 11:30

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Mawar dan Mbak Menik

with 2 comments

Hari itu hari Minggu. Aku biarkan diriku terduduk di beranda-ah, sebenarnya tak bisa disebut beranda. Bayangkan, hanya 50 kali 200 cm, bagaimana mungkin bisa disebut beranda? Mungkin emper adalah kata yang tepat untuk ruang kecil di depan tembok rumahku ini. Tapi, sebenarnya emper, atau teras adalah kata lain untuk beranda. Ah, entahlah, sering kali aku mengucapkan atau memilih sebuah kata lebih kepada rasa daripada pertimbangan akal sehat.

Aku biarkan diriku terduduk di kursi plastik berdua dengan istriku. Kami diam dan memandang sesuatu yang kami sendiri sebenarnya tak tahu. Jika dilihat dari jalan, mungkin kami ini seperti dua orang yang sedang ada konflik.

“Beli koran, dong Mas,” tiba-tiba istriku nyeletuk. Pecah sudah kebekuan kami bermenit-menit lalu.

“Untuk apa?”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

7 Desember 2003 at 11:33

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: