Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Februari 2008

Dubuque

leave a comment »

Di Bandara Cedar Rapids ia tenggelam dalam kebingungan. Ke mana? Jadi bekerja sebagai asisten manajer makanan siap saji restoran Roy Rogers di Des Moines atau membantu radio pendidikan di Dubuque? Mengapa tidak pulang saja ke Tanah Air dan mencoba mengadu nasib di sana?

Agel masih memiliki banyak waktu untuk mengambil keputusan karena tiket pesawat terbang belum dimilikinya. Namun, keputusan itu yang sukar diambil. Ia ingin pulang dengan alasan sederhana, home sick. Tetapi, sebagai permanent resident yang telah dua belas tahun di negeri ini, keinginannya untuk pulang hanya dengan alasan home sick adalah keinginan yang kekanak-kanakan, karena status sebagai permanent resident-nya bukanlah status yang diperoleh dengan mudah. Sayang, apabila status itu dilepas begitu saja.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Februari 2008 at 12:39

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Kembang Dewaretna

leave a comment »

”Mas, ayo, sudah setengah delapan, lho…,” suara itu terdengar lembut meskipun ada nada khawatir ketika mengucapkan ajakan itu.

Laki-laki yang masih mencangkung dengan sebatang kereteknya itu menoleh sesaat. Sepasang matanya menatap perempuan yang menyapanya.

Yang ditatap merasakan kekosongan. Sepasang mata itu seperti lorong panjang dan gelap tak berlampu; seperti jalan yang dulu sering dilaluinya.

”Sampean sakit?” tanya perempuan itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

17 Februari 2008 at 22:27

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Rumah untuk Kemenakan

with 3 comments

Di bingkai jendela rumah gadang, Kalan menatap jauh ke halaman. Gelap yang terpampang. Sebuah panorama kelam dari malam yang menerjang. Segelap hatinya yang berselimut gundah. Getir. Ngilu. Dan serasa ada sayat yang tak putus-putus membuat dadanya tak henti dari kecamuk. Pikirannya kusut.

Sebulan yang lalu, setelah percintaannya yang panjang dengan Darti, perempuan berambut lebat yang bekerja sebagai pelayan toko dengan gaji yang teramat minim, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Tak ada yang dapat mereka janjikan, sebagaimana mereka tidak bisa membuat komitmen apa-apa selain hidup yang sederhana.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

10 Februari 2008 at 08:19

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Iblis Paris

with one comment

Ya, jika pada malam yang liar dan panas, kekasihmu tiba-tiba menusukkan moncong pistol ke lambungmu, sebaiknya dengarlah kisah brengsekku ini

Segalanya begitu cepat berubah setelah Khun Sa meninggal. Aku, boneka kencana Raja Opium Segitiga Emas yang disembunyikan dan kelak kau kenal sebagai Zita, memang tidak mungkin mengikuti upacara kremasi bersama-sama gerilyawan Shan. Aku tak mungkin mencium harum abu kekasih atau sekadar membayangkan mati perkasa dalam amuk api percintaan. Aku juga tak mungkin berjalan tertatih-tatih di belakang keranda dan mencoba menembakkan pistol di jidat sebelum kekasih lain mempertontonkan kesetiaan hanya dengan menangis sesenggukan. Sejak 1996 yang menyakitkan, Pangeran Kematian memang menyuruhku menghilang ke Prancis. Ia yakin benar Mong Thay Army, serdadu kepercayaannya, tak mungkin bisa melindungiku dari kekejaman para petinggi junta, sehingga memintaku menyingkir ke negeri yang tak terjangkau oleh bedil dan penjara Burma.

”Bukankah kau ingin sekali bertemu dengan Maria di Lourdes? Bukankah kau ingin mendapatkan tuah Bernadette Soubirous?”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 Februari 2008 at 14:28

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: