Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Januari 2005

Tarian Terang Bulan

leave a comment »

Tubuh Ratri bergetar turun dari taksi, mengenakan kruk di bawah ketiak tangan kanan. Memandang sejenak bias purnama di atas gedung-gedung kota lama. Bimbang. Termangu. Menggenggam tanganku. Ratri menyatu dengan cahaya bulan yang samar di antara kelelawar yang terbang di atas atap-atap bangunan tanpa penghuni. Bangunan-bangunan tua, gelap, dan tersia-siakan sepanjang musim membuatku terhenyak, terkesima.

Masih seperti sedia kala, kota lama yang ditinggalkan penghuninya diramaikan dengan cericit kelelawar. Perempuan-perempuan berdandan seronok menggoda lelaki lewat. Pedagang berlampu minyak redup di sudut-sudut gang menanti pembeli. Bau lumut lembab di dinding-dinding bangunan tua yang mengelupas tajam menyengat. Aku tersekap ke masa silam yang tertimbun berbagai kenangan. Di antara perempuan-perempuan yang turun dari mobil beraroma harum dengan ketenangan yang memantul dari wajah mereka, Ratri tetaplah wanita yang menjadi pusat perhatian karena kehalusan pancaran wajahnya. Ia serupa cermin yang menyimpan purnama. Beribu-ribu purnama yang pernah singgah di kota lama terpendam dalam wajahnya.

“Mestinya aku menari mengiringi resital piano malam ini,” kata Ratri, yang wajahnya memancarkan keteduhan bulan. Kulitnya bening, rambutnya lurus sebahu, menyempurnakan kecantikan wajahnya-sebagai wanita yang lahir pada tengah malam purnama.

Aku kehilangan kesanggupan untuk menghiburnya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

30 Januari 2005 at 06:55

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Warga Kota Kacang Goreng

with 2 comments

Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Karena itu, hujan dan kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. Kadang-kadang pagi, siang, petang atau malam hari. Adakalanya juga dari pagi sampai malam, ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu.

Tetapi, karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu, warga kota tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung, atau hujan tiba-tiba menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. Paling-paling orang hanya bergumam, seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha, sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka kembangkan payung, melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul, bercakap-cakap, atau makan kacang goreng.

Betul. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Meski cuaca cerah, orang-orang di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya, mirip dengan warga kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling melambai dan menyapa. “Hoi, apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 Januari 2005 at 06:57

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Terompet

leave a comment »

Tidak seperti biasa, Sisi yang meneleponku. Ia memintaku-tentu amat mengharap-agar menemaninya jalan di malam Tahun Baru. Bukan semata karena ia kalau segera kusanggupi, tapi disebabkan Nina. Aku ingin menghiburnya, aku sudah amat rindu berjalan dengannya.

“Nina menyuruhku meneleponmu. Ia mengharap sekali kau mau menemani kami. Yang terpenting ia ingin kau ada di sisinya saat ia merayakan ulang tahun…,” ujar Sisi. Nina lahir pada 31 Desember pukul 19.00 dan kini di usia ke-13 ia minta dirayakan bersamaku. “Katanya, ia telah mengundang teman-teman sekolah.”

Aku pikir apa salahnya membahagiakan putriku yang tengah masuki usia remaja? Selama ini, sejak aku berpisah dengan Sisi, aku cuma mengucapkan ulang tahun melalui telepon. Atau menyuruh office boy mengantarkan kue ulang tahun buat Nina. Dan, sesekali membawanya ke pantai atau tempat bermain di mal.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 Januari 2005 at 06:59

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with ,

Sesuatu Telah Pecah di Senja Itu

with 7 comments

Mendadak semuanya menjadi begitu penting. Caranya menyingkirkan dengan sabar duri-duri ikan di piringku, suaranya ketika melantunkan doa, wajahnya ketika diam memikirkan sesuatu. Ah, ia selalu seperti itu. Sama dalam hal berpikir atau marah: diam. Dengan arah mata ke bawah tertuju pada pucuk hidungnya dan kedua tangannya bertemu di mulut, seperti tengah membungkam suara. Suatu saat ketika aku tanya mengapa, jawabnya, “Keduanya sama, jangan tergesa-gesa supaya tidak ada yang terluka.”

Mendadak semuanya menjadi tidak sederhana. Ia menyetrika sendiri pakaiannya, ia juga sering memasak makanan untuk kami: dirinya, aku, dan Ratri, anak kami yang masih bayi. Seingatku, ia tidak pernah marah dan bahkan bersuara keras padaku. Ia selalu bisa menunda, dan membicarakannya dengan nada sareh di lain waktu. Suatu saat ketika aku tanya mengapa, jawabnya, “Kanjeng Nabi tidak pernah bersuara keras pada istrinya.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

9 Januari 2005 at 07:02

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Perempuan yang Keramas Sebelum Tidur

with 7 comments

Keinginan perempuan itu makin kuat untuk merendamkan diri dalam bathtub justru ketika suaminya mengingatkan agar dia tidak mengeramasi rambutnya karena hari sudah malam.

Keramas malam-malam tak bagus untuk kesehatan,” kata suaminya.

“Oya?” celetuk perempuan itu datar ala kadarnya. Perempuan itu merasa senang atas peringatan suaminya. Berarti suaminya memerhatikannya. Memerhatikan kesehatannya.

“Ya. Gara-gara sering mandi malam, suami teman sekantorku kena paru-paru basah,” kata suaminya menjelaskan.

“Ooo, kan dia mandi malam. Bukan keramas,” pancing perempuan itu. Peringatan suaminya dia maknai sebagai bentuk perhatian yang memang membuat hatinya berkembang-kembang.

“Lha, mandi saja kena paru-paru basah, apalagi keramas. Kan kulit kepala lebih rentan dibanding badan,” kata suaminya masih membeberkan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

2 Januari 2005 at 07:05

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: