Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Oktober 2004

Pemintal Kegelapan

with 5 comments

Semasa kecilku Ibu selalu berkisah tentang hantu perempuan yang menghuni loteng rumah kami. Dulu aku ketakutan setengah mati sehingga kusembunyikan kepalaku di balik bantal bila malam tiba. Meski begitu, tidak ada yang lebih menggelitik fantasiku selain cerita misteri.

Aku selalu menganggap diriku detektif cilik dengan rasa ingin tahu berlebih. Malam hari yang kerap diwarnai bunyi-bunyian gaduh dari arah loteng mengundang jiwa penyelidikku. Sebenarnya bunyi itu hanyalah tikus yang berlari-larian, namun masa kecil membuka ruang imajinasi tak berujung. Aku berkhayal di sana ada harta karun tersembunyi dalam peti. Untuk membukanya kita harus terlebih dahulu melawan penjaganya, yakni seekor laba-laba raksasa yang membungkus tubuh korbannya dengan jaring sebelum menyantapnya. Ruangan itu begitu gelap, namun begitu menyalakan lilin kau akan melihat mayat-mayat manusia tergantung kaku.

Siang dan malam kucoba mengintip loteng rumahku, namun Ibu selalu menguncinya. Aku senantiasa berharap, saat kutempelkan telingaku di pintu loteng yang tertutup, aku akan mendengar teriakan seorang anak. Ia adalah putri perompak yang disekap musuh-musuh ayahnya. Jika anak itu kutemukan, ia akan menunjukkan padaku rahasia harta karun terbesar abad ini.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

31 Oktober 2004 at 09:15

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Daun-daun Waru di Samirono

with 3 comments

Matahari bersinar lembut.

Tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega hati. Kemarau tiba-tiba terputus sejenak walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumberé kasèp¹. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah…. Dia baru menyadari bahwa poso atau puasa sudah tampak di ambang waktu. Keluarga Bu Guru yang tinggal di rumah depan mengatakan bahwa hujan itu sebagai tanda bumi Mataram berduka dengan terjadinya ontran-ontran² di Surakarta. Karena menurut dia, meskipun Kartosuro dan Mataram sudah terpisah menjadi dua kerajaan, sesungguhnya masih terjalin kental.

Bagaimanapun juga, setelah meninggalkan keramaian Pasar Ndemangan, ketika Mbah Jum tiba di tanjakan yang membelok, tubuhnya masih terasa segar karena matahari yang redup. Padahal kemarin sore, untuk ke sekian kalinya dia menerima hantaman keras di dada kirinya. Dia tidak terlalu mempersoalkan dari mana asalnya rasa ngilu tersebut. Hingga saat keluarga Bu Guru menyuruh pembantu memanggil dia supaya makan di dapur, Mbah Jum masih tergeletak di ambèn-nya. Selesai makan, dia mengerok sendiri leher, dada, dan bahunya. Merah nyaris ungu warna bilur-bilurnya. Rupanya dia memang menderita masuk angin.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Oktober 2004 at 09:24

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Barbie & Monik

with 3 comments

Berkedip-kedik kelopak mata Lasmi, menahan silau matahari pagi. Sekarang cabe merah di panggung kian terasa berat setelah berjalan hampir tiga kilo meter. Butir-butir keringat terus menetes di seputar wajah, membuat bedaknya luntur dan terlihatlah wajah aslinya yang justru tampak lebih ayu dan matang. Nun di kejauhan, di antara lalu lalang kendaraan, Lasmi melihat suasana pasar cukup ramai. Lasmi kian mempercepat langkah tak ingin kehilangan kesempatan menjual cabenya pada Kartopal, juragan cabe di pasar.

Hari ini Lasmi perlu uang. Puput, anak semata wayangnya yang baru masuk TK, sudah empat hari sakit, tak bisa berangkat sekolah. Lasmi sedih melihat keceriaan Puput yang baru masuk TK pudar gara-gara sakitnya tak kunjung sembuh. Sudah lama Puput merengek minta sekolah. Meski baru empat tahun, Lasmi rela menggadai kalung untuk mendaftarkan Puput di TK. Setiap pagi, sebelum pergi ke sawah Lasmi mengantar Puput ke sekolah dan tersembul rasa bangga melihat Puput berseragam TK, rambut poninya berkibar-kibar, matanya binar-binar.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

17 Oktober 2004 at 09:29

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Petang Panjang di Central Park

leave a comment »

Entah sudah berapa kali Taka bangkit dari duduknya di bangku taman itu. Bangku yang terbuat dari batu alam utuh, dipahat menjadi balok panjang yang nyaman diduduki. Semak-semak rhododendron di belakang bangku itu masih menampakkan rona ungu dari bunga-bunga yang telah mekar sejak awal musim semi. Mungkin karena perdu itu terlindungi dari sinar matahari langsung oleh sederetan pohon cemara rendah, bunga-bunga ungu itu tak cepat menjadi layu. Sebentar lagi musim panas akan tiba. Dan rhododendron akan layu dibakar matahari yang terik. Anicca-tiada makhluk yang abadi di dunia ini.

Kolam air di dekat bangku taman itu memantulkan warna langit yang biru tak berawan. Dedaunan pohon willow yang berderet di salah satu sisi kolam berdesir ditiup angin sepoi. Yanagi, begitu nama pohon itu dalam bahasa Taka. Daun-daunnya yang lembut, dan berdesir-desir bila ditiup angin, selalu mengingatkan Taka akan butir-butir air mata dan desah tangis. Sosok pohon yang selalu menciptakan suasana melankolis.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

12 Oktober 2004 at 09:44

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Kereta Senja

with 6 comments

Kereta itu bergerak di batas senja. Lanskap kota tampak gamang disepuh cahaya. Orang-orang panik, berlarian, seperti baru saja terjadi ledakan. Di tengah serpihan asap dan bau daging terbakar, sebuah ambulans dengan sirene meraung-raung memecah kepanikan. Gedung- gedung menghitam karena hangus, seluruh kacanya rontok sehingga jendela-jendela tampak seperti mulut-mulut yang menganga.

Tepat ketika kereta bergerak di tepi kepanikan itu, aku terbangun. Ini mimpi paling buruk yang pernah kualami di saat- saat pergantian hari.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

10 Oktober 2004 at 09:31

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ketika Sunyi Mengusik Sepi

leave a comment »

Satu dua langkah ia berjalan mondar-mandir di depan jendela. Di luar gerimis turun perlahan mengusapkan kabut ke kaca. Sesekali ia menoleh ke kartu undangan kawin yang bertaburan di atas meja dan kemudian ia duduk menghadap meja dan membolak-balik kartu-kartu undangan itu. Bermacam-macam bentuk kartu itu, ada yang berlipat dua, tiga, dan ada pula yang hanya satu halaman saja. Sampulnya aneka ragam berlukisan dua ekor burung, ada yang gambar calon pengantin, ada pula yang bermotif kain batik dan rumah adat dan pakaian adat. Menarik dan indah. Berulang-ulang ia membaca kata-kata yang tertera di dalam kartu undangan itu, di dalamnya terdapat kata-kata yang manis, kutipan dari Kitab Suci, nama yang dihiasi dengan gelar-gelar, teks yang berbahasa Inggris, Indonesia, dan daerah. Kata, kalimat, huruf, merupakan pilihan yang indah, sangat sopan, dan sarat dengan kata klise.

Telah lama ia mengimpikan kartu undangan seperti itu, impian untuk membuatnya, bukan sekadar menerima. Suatu kali ia mengeluh kepada seorang kawannya, “Ah, hidup ini tidak adil. Dalam usia setengah abad ini saya belum pernah mengedarkan undangan, hanya menerima saja. Rasanya, semakin banyak utang saya.”

Kawannya tersenyum dan berkata, “Segala sesuatu ada waktunya, sabarlah.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 Oktober 2004 at 09:47

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Baju

leave a comment »

“Saya kira ini kejahatan yang luar bisa, bukan saja datang dari pihak Hastinapura, juga dari suami-suamiku, yang dengan gegabah mempertaruhkan diriku sebagai taruhan di meja judi. Ini penghinaan yang luar bisa, aku bukan budak atau selir! Aku permaisuri yang anak raja. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa mencampakkan harga diriku di bawah budak-budak istana? Padahal mereka satria unggulan, karena itu aku memilihnya!”

Aku memilihnya sebagai suamiku dan sekarang yang terlihat adalah ketika seluruh bajuku ditanggalkan oleh Dursosono, suami-suamiku cuma diam-diam saja. Apakah harga diri perempuan yang permaisuri ini di bawah norma hukumnya? Kalau aku tanyakan peristiwa ini, mereka pasti akan menjawab: seorang kesatria harus menepati janjinya?

“Satria-satriaku, tahukah kamu waktu itu, aku lebih tidak menyukaimu daripada Dursosono yang memang tokoh jahat (Krisna tahu karena keperempuananku Krisna tidak membiarkan aku telanjang di muka penjahat-penjahat itu).”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 Oktober 2004 at 09:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: