Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Sunaryono Basuki Ks

Luh Sumaratih

leave a comment »

Delapan obor menyala bersama, sementara wajah-wajah berkeringat duduk membentuk lingkaran, mulut mereka berkeciap bak burung-burung kecil menanti jatah makan dari induknya. Suara gamelan bambu dan tiupan seruling sudah terdengar dan dari tadi pemuda-pemuda kampung mengalir ke arena tajen di banjar itu. Penerangan listrik sengaja dipadamkan dan suasana lebih romantis tumbuh dalam cahaya obor. Dulu, memang tempat itu dikenal sebagai arena tajen, tempat orang mengadakan “metajen”, adu ayam dengan uang taruhan. Dulu, tempat itu tidak pernah sepi. Semenjak pemerintah mengadakan Lotto PON dan Lotto Surya, rakyat terbius oleh judi dan mencoba membangun ekonomi dengan mimpi.

Tapi, sejak secara resmi lotto dihentikan, mereka beralih ke judi tradisional yang memang digemari masyarakat, yakni aduan ayam yang sering dikaitkan dengan upacara agama. Pemerintah daerah tak bodoh dan menenderkan acara metajen itu kepada pemilik modal yang kuat. Dialah yang menjadi pemborong dan memberi setoran uang kepada pemerintah, sementara rakyatnya berutang untuk mengejar mimpi menang dalam judi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 April 2007 at 14:42

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura

with one comment

Sudahkah kau dengar kisah tentang sepasang kera yang berjalan kaki dari pura ke pura untuk melaksanakan tugas akhir yang harus diemban menyucikan roh mereka berdua?

Perjalanan sepasang kera ini tiba-tiba menggemparkan orang kota, terutama kota yang seharusnya dilewati keduanya namun batal terlaksana lantaran suratan yang menyatakan demikian. Tidak seorang pun yang tahu siapa mereka berdua, kecuali bahwa mereka adalah sepasang kera yang dengan rukunnya bagai sejoli berjalan dari Pura Batu di tepi pantai ke pura di timur kota yang juga terletak di tepi pantai. Siapakah yang diwadahinya sehingga mereka harus menanggung kisah yang menjadi bacaan orang-orang di pinggir jalan, kisah yang juga diteruskan dari mulut ke mulut dengan bumbu penyedap berbagai rasa sehingga kisah pun berkembang menjadi dongeng indah.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

8 Agustus 2004 at 09:54

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Angin yang Bersiul di Tingkap

with one comment

Tahukah kau tentang kisah seorang lelaki yang jatuh cinta pada seorang putri Puri Kanginan yang cantik bagai bidadari usai mandi di telaga yang tepinya ditumbuhi bunga pancawarna? Puluhan pohon bunga itu menggoyangkan dahan-dahannya sampai kembang wangi berjatuhan masuk ke dalam air telaga dan membuatnya harum mewangi lalu tak henti-hentinya meluruhkan daki para bidadari yang turun dari langit, menari-nari tanpa peduli pakaian dan selendang mereka ada yang dicuri. Bunga kenanga, cempaka, bunga kantil dan melati, bahkan semak mawar pun ditiup angin sampai kelopak-kelopak bunganya mengorbankan keindahannya, namun wanginya dicelupkan ke dalam air telaga.

Putri itu bagaikan bidadari yang kehilangan kain, baju, dan selendangnya lalu dengan malu-malu bersembunyi di dalam semak menutup sekujur tubuhnya dengan dedaunan dan kedua belah tangannya.

“Janganlah takut tuan putri, aku takkan memerkosamu. Kenakanlah pakaian ini dan engkau bisa menjadi seorang putri cantik jelita yang benar-benar ada di dunia ini.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

11 Januari 2004 at 11:19

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: