Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Oktober 2003

Saya di Mata Sebagian Orang

with 4 comments

Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan!

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

26 Oktober 2003 at 11:47

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Malam Sepasang Lampion

with 3 comments

Hujan-yang kau sangka bisa menghijaukan seluruh lampu lampion-baru saja mendera jalanan Sussex, Dixon, dan Goulburn. Matamu tentu tak waras kalau menganggap billboard Sussex Centre atau Nine Dragons telah menghijau. Dalam kepungan kristal-kristal air yang jernih pun, papan nama-papan nama restoran itu menguarkan cahaya merah-kuning yang tajam. Dan lampu-lampu lampion bergenta mungil itu tetap saja membiaskan kesejukan daun-daun hijau kekuningan di antara para migran Thailand, Vietnam, atau Korea yang berlarian menghindar ke trotoar.

Dan kau, Xi Shi, diimpit gedung-gedung pink, gapura-gapura berornamen naga atau patung-patung harimau, tak mau menghindar dari kutuk hujan. Maka, sungguh aneh jika orang-orang yang berpapasan denganmu tak menganggap kau sebagai perempuan edan. “Mereka toh tak memahami makna kenikmatan,” dengusku sambil menatapmu yang terus-menerus membentangkan sepasang tangan dan menari-nari dalam dera hujan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

19 Oktober 2003 at 11:49

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Setyawati

leave a comment »

Setyawati adalah nama ibuku. Dia wanita tercantik yang pernah kukenal dan walaupun aku banyak mengenal wanita yang menawan, tapi hanya dia yang lulus ujian sebagai perempuan walaupun dengan pengujian yang paling kritis sekalipun.

Hal pertama yang kuingat dari diri Ibu adalah kalau malam dia suka memakai gaun sutra berwarna putih. Aku pernah menanyakan kenapa dia suka memakainya dan kata Ibu itu agar aku lebih mudah menemukannya di dalam kegelapan. Kalau siang, warna gaunnya lebih beraneka ragam, tapi biasanya bermotif bunga. Di dekatnya selalu tercium wangi melati, kadang memang sedikit tercampur bau kue atau masakan di dapur, tapi wangi melatinya masih tercium.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

12 Oktober 2003 at 11:52

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Kesaksian Ganja Kering, Basah Air Mata

with 2 comments

Seperti diterjang angin puyuh, aku tercabik dari rangkaian utuh jari daunku. Tak terlihat oleh siapa pun di dalam ruangan itu, aku yang hanya sebesar biji saga melayang dan tersuruk di belakang kaki kursi dari orang yang dengan bengis membanting gumpalan badanku bersama ratusan, atau mungkin ribuan, daun sekaumku.

Dari balik kaki kursinya yang terletak di bagian belakang, kulihat orang itu kembali menghardik, “Kalau bukan untuk membiayai orang-orang Aceh yang hatinya berbulu, para pemberontak yang berkeliaran di Jawa ini, untuk apa lagi daun haram ini? Katakan, untuk apa? Kalau ini diuangkan, kau tau, dia jauh lebih dari cukup untuk membiayai seribu orang seperti kau ini jadi doktor. Omong kosong ayahmu mengirimkannya untuk membiayai kuliahmu. Jangan berbohong! Katanya mahasiswa, mengapa tak mau belajar jujur?! Katakanlah, kepada siapa daun laknat ini akan kau berikan?! Siapa kontakmu di sini?”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 Oktober 2003 at 11:54

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: