Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Mei 2008

Cinta pada Sebuah Pagi

with 14 comments

Sebuah rumah mungil di pinggiran timur Jakarta. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Asti berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Arnando, seperti biasa, berkutat merampungkan lukisan di studionya.

Daster Asti tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan banyak tahi lalat di tempat-tempat tertutup. Hanya Arnando yang tahu persis letak-letaknya.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

25 Mei 2008 at 15:54

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Serenade Kunang-kunang

with 6 comments

Aku suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi, sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta.

Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Aku tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium, ketika sepasang mata itu muncul dari sebalik kaca—membuatku terkejut. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni, sepasang mata itu bagai mengambang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Dan saat sepasang matanya mengerdip, aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.

Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Tetapi ketika ia menyebutkan namanya, aku seperti mendengar denting genta, bergemerincing dalam hatiku. Barangkali, seperti katamu, aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

18 Mei 2008 at 15:33

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Merah Pekat

with 8 comments

Kenangan serupa lumpur yang mengendap di dasar sungai. Mengeras menjadi kerak menunggu hujan turun untuk mengangkatnya kembali menjadi satu dengan aliran air. Begitulah kenanganku tentang rumah benteng. Telah lama sosok rumah yang terletak di atas bukit di belakang rumahku, menjadi kerak di ingatanku.

Telepon dari ibuku siang ini seolah hujan deras yang kembali melarutkan kerak itu. “Yasmin, minggu ini kamu bisa pulang? Ada pertemuan keluarga. Tepat seribu harinya kakek. Surat wasiatnya akan dibuka. Ibu harap kamu pulang.” Suara ibuku terdengar mendesak. Intonasi yang terakhir kali digunakannya saat menyuruhku kawin. Sayangnya tak mempan hingga kini. Toh untuk permintaannya kali ini, aku berniat mempertimbangkannya. Demi kenanganku akan kakek.

Dulu hampir seminggu sekali aku menginap di rumah kakek. Ibuku menitipkanku di sana karena aku tak bisa bicara meski sudah berumur dua tahun. Mereka berharap kakekku yang seorang psikolog bisa menyadarkanku. Aku yakin istilah yang tepat saat itu: menyembuhkanku. Aku sendiri tak pernah merasa sakit atau bahkan disembuhkan. Di rumahnya, kakek hanya memberiku kertas dan pensil warna. Lalu mengajakku jalan-jalan ke sekeliling rumahnya yang ketika itu tak banyak memiliki tetangga. Jika ada obyek yang menarik, aku biasanya menarik tangan kakek, sebagai tanda aku ingin berhenti di tempat itu. Sambil menggambar benda yang membuatku tertarik, kakek biasanya menjelaskan nama dan seluk-beluknya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

11 Mei 2008 at 23:25

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh

with one comment

Mangku tak sudi mati di tanah tumpah darahnya, Bali. Tidak! Hidup terlalu menyesakkan, hingga dia bersumpah lebih baik mati di daratan yang jauh. Tak pernah dia bayangkan jasadnya akan diantar ke kayangan bersama api ngaben yang meliuk. Suatu kematian terhormat yang buatnya adalah angan-angan yang jauh. Tetapi, dia yakin, mati sekadar diantar selantun doa tentulah mungkin. Dan, itu sudah jauh lebih mulia daripada kematian ayahnya.

Orang tua itu dibunuh karena menerima tanah cuma-cuma dari organisasi tani yang dituduh merampas tanah tuan tanah dan membagikannya kepada petani tak bertanah seperti dia. Huru-hara politik pun menggelegar. Bali berdarah. Hukum rimba direbut orang-orang yang dirasuki roh leak. Tuan tanah, yang menjadi korban landreform, melihat matahari baru menyingsing untuk merebut kembali tanah mereka.

Begitulah, suatu pagi, ayah Mangku diseret ke tepi lubang, tengkuknya dihantam linggis, dan bersama jasad petani senasib, dia ditimbuni, tanpa doa, konon pula air mata.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

4 Mei 2008 at 19:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: