Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Wilson Nadeak

Hening di Ujung Senja

with 58 comments

Ia tiba-tiba muncul di muka pintu. Tubuhnya kurus, di sampingnya berdiri anak remaja. Katanya itu anaknya yang bungsu. Kupersilakan duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa mereka berdua?

“Kita teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi Danau Toba,” katanya memperkenalkan diri. Wau, kataku dalam hati. Itu enam puluh tahun yang lalu. Ketika itu masih anak kecil, usia empat tahun barangkali. “Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula,” katanya melanjutkan. Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Belum juga dapat kutebak siapa mereka. Ia seakan-akan mengetahui siapa mereka sesungguhnya. “Wajahmu masih seperti dulu,” katanya melanjutkan. “Tidakkah engkau peduli kampung halaman?” tanyanya. “Tidakkah engkau peduli kampung halamanmu?” tanyanya membuat aku agak risih. Dulu pernah keinginan timbul di hati untuk membangun kembali rumah di atas tanah adat yang tidak pernah dijual. Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benakku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 Juli 2012 at 13:51

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Gelap, Gelap Sekali

with 5 comments

GelapGelapSekali

Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh. Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

4 Oktober 2009 at 14:22

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sang Mertua

with one comment

Baru satu hari tiba di Yogya dan bermalam di hotel, kepalaku terasa pusing. Rombongan pertemuan wanita baru saja pergi dan aku tinggal sendiri karena kurasa wajahku sebelah terasa nyeri dibarengi kepala yang berat. Kucoba merendam diri di kamar mandi, tetapi rasa nyeri itu tidak hilang juga. Kukira karena perjalanan jauh naik kereta api dari Jakarta-Yogya. Sebelum malam jauh, aku membeli obat sakit kepala, namun sepanjang malam keadaan tidak bertambah baik. Keesokan harinya kukatakan kepada rombonganku bahwa aku tidak dapat mengikuti pertemuan wanita dan pamit pulang ke Jakarta. Rasa pening kepala makin menjadi-jadi, dan sebagian wajahku, pipi sebelah kanan rasanya seperti kaku, demikian Marice menuturkan awal penderitaannya.

Suamiku terkejut melihat aku sudah kembali begitu cepat. Kuceritakan bahwa aku merasa tidak enak badan. Sepanjang dua hari kepalaku nyut-nyutan dan mata sebelah seperti tidak sinkron dengan yang sebelah lagi. Suamiku tampak cemas dan mengajakku pergi ke dokter. Digandengnya aku ke dalam mobil dan sore itu dokter memeriksa wajahku sebelah kanan. Dengan jarinya ia menekan pipiku dan mengatakan adanya pembengkakan. Ia memintaku untuk menceritakan awal mula rasa sakitku. Kututurkan semua gejala yang kurasakan dan kemudian dokter merujuk aku ke rumah sakit.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

7 September 2008 at 02:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Serdadu Tua dan Jipnya

leave a comment »

Sudahlah! Kita hidup dengan gaji kita saja. Tidak perlu pikirkan macam-macam. Usia kepala tujuh bukanlah saat yang tepat untuk merawat mobil tua. Kuno lagi. Onderdil jip itu pun sukar dicari. Biarlah kami menikmati masa tua, Pak. Kulihat kau selalu risau dengan kendaraan itu. Sebentar-sebentar pergi ke tempat anak kita dan memintanya supaya memperbaikinya. Sayang anak kita menghabiskan waktu untuk memperbaiki mobil itu. Mobil adalah beban. Mengapa kau bebani anak kita untuk membuat jip itu dapat berjalan kembali? Bannya saja begitu besar, mahal lagi. Belum lagi keadaan mesinnya yang harus dibongkar pasang, dari awal. Mimpimu pun selalu tentang jip tua itu. Mengapa sih repot-repot dengan kendaraan yang tidak mungkin digunakan lagi? Tanpa surat dan tanpa nomor polisi. Semua serba membingungkan!

Itulah keluhan sang istri mantan Letnan Kolonel Banun. Ketika Banun membeli jip rongsokan buatan tahun empat puluhan itu dengan uang pensiunnya, sang istri amat gemas. Uang pensiun yang tidak seberapa itu harus dibelikan jip tua. “Kita makan dari mana, pak?”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

29 April 2007 at 14:23

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Istri

with 2 comments

“Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk mencintai dan melupakan, Nak. Sudah saatnya engkau memikirkan janji pernikahanmu yang dahulu, ’sampai kematian memisahkan’ dan kematian itu sudah terjadi. Kini saatnya bagimu untuk melupakan dia yang sudah pergi dan memikirkan masa depan anak-anakmu. Rita dan Joko memerlukan seorang ibu untuk mengasuh mereka pada masa remaja mereka. Seorang ibu yang mau mengasihi mereka dan mendampingimu.”

“Ibu, waktu setahun ter- lalu singkat untuk melupakan.”

“Kau tidak boleh larut terus di dalam duka.”

“Tidak, Bu. Pekerjaan menuntutku untuk sibuk. Itu pun, upaya untuk melupakannya. Semakin sibuk aku, semakin dalam bayang-bayang wajahnya di dalam lubuk hatiku. Ia telah menjadi bagian dari diriku, dan anak-anakku. Justru aku merasa takut untuk memberi ibu tiri bagi mereka, yang cinta kasihnya tidak sebanding dengan ibunya. Tidak ada yang salah dengan janji pernikahan itu. Kematian bukanlah berarti harus menjadi izin untuk menikah kembali, Bu.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 November 2006 at 15:27

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Lonceng

with 3 comments

Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga. Lelaki tua ini, apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil, ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang, ya, nama-nama seseorang. Banyak nama yang disebutkan, tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala, tidak kenal. ”Tanya saja kepada kepala desa,” kata pemilik warung itu, seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun.

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 Februari 2006 at 08:39

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Di Balik Jendela

leave a comment »

Hal yang paling kutakuti ialah sakit. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit, katanya. Nah, justru itulah yang kukatakan kataku, kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. Kurasa benjolan itu mengganggu, bukan karena sakit, tetapi karena kalau tidur, benjolan itu sering pindah-pindah. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. Ada rasa ngeri dalam diriku. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas, kataku dalam hati. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas.

Sejak itu, aku menjadi takut ke rumah sakit. Sampai akhirnya, suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. Entah berapa lama, aku tidak tahu. Setelah sadar, aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. Terpaksa kuperiksakan ke dokter, dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. Setelah pulang dari rumah sakit, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

9 Oktober 2005 at 09:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Dalam Hening Waktu

leave a comment »

Dalam hening waktu aku tidak mau diganggu. Lepas subuh aku mengambil saat teduh dan mencoba merenungkan sesuatu dan membiarkan pikiran, hati, dan kalbuku mengembara. Kurasakan suatu suasana gairah bertemu dengan Sang Tuhan dan berdialog dengan-Nya setelah menjelajah angkasa mahaluas yang biru. Sebuah suasana syahdu menggelegak dalam kalbu.

Saat teduhku terkadang terentak membuat tubuhku seolah-olah terangkat, mengapung tanpa berat, ketika dering telepon pagi itu berdering. Aku mengadakan konsentrasi lagi, tidak mengabaikan dering telepon yang bertalu-talu, ketika pikiranku mengelana ke batas ruang dan waktu, dan tubuhku terhempas ke padang rumput yang hijau. Suasana nyaman tiba-tiba terganggu lagi, juga, oleh bunyi telepon itu. Aku tidak mengangkatnya. Telah kutetapkan dalam hati, setiap pagi lepas subuh, aku tidak mau diganggu oleh siapa dan oleh apa pun! Mengapa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri, bebas dari usikan orang-orang di sekelilingku?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

12 Desember 2004 at 08:58

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ketika Sunyi Mengusik Sepi

leave a comment »

Satu dua langkah ia berjalan mondar-mandir di depan jendela. Di luar gerimis turun perlahan mengusapkan kabut ke kaca. Sesekali ia menoleh ke kartu undangan kawin yang bertaburan di atas meja dan kemudian ia duduk menghadap meja dan membolak-balik kartu-kartu undangan itu. Bermacam-macam bentuk kartu itu, ada yang berlipat dua, tiga, dan ada pula yang hanya satu halaman saja. Sampulnya aneka ragam berlukisan dua ekor burung, ada yang gambar calon pengantin, ada pula yang bermotif kain batik dan rumah adat dan pakaian adat. Menarik dan indah. Berulang-ulang ia membaca kata-kata yang tertera di dalam kartu undangan itu, di dalamnya terdapat kata-kata yang manis, kutipan dari Kitab Suci, nama yang dihiasi dengan gelar-gelar, teks yang berbahasa Inggris, Indonesia, dan daerah. Kata, kalimat, huruf, merupakan pilihan yang indah, sangat sopan, dan sarat dengan kata klise.

Telah lama ia mengimpikan kartu undangan seperti itu, impian untuk membuatnya, bukan sekadar menerima. Suatu kali ia mengeluh kepada seorang kawannya, “Ah, hidup ini tidak adil. Dalam usia setengah abad ini saya belum pernah mengedarkan undangan, hanya menerima saja. Rasanya, semakin banyak utang saya.”

Kawannya tersenyum dan berkata, “Segala sesuatu ada waktunya, sabarlah.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 Oktober 2004 at 09:47

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Seperti Angin Berlalu

with one comment

Siapa yang meninggal??

“Barangkali seorang berdarah biru.”

“Belum pernah aku melihat orang melayat sebanyak ini.”

“Pastilah ia orang yang terhormat di negerinya.”

“Kukira begitu. Terlalu banyak dari antara mereka yang meneteskan air mata. Bahkan ada yang meratap dengan keras dari balik jendela mobilnya.”

“Kukira ia seorang Oriental yang disegani.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

2 Mei 2004 at 10:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: