Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Fakhrunnas MA Jabbar

Kemarau Air Mata

with one comment

Debu jalanan yang pekat menyesakkan napas. Sebuah truk pengangkut tanah timbun mengepulkan debu itu sehingga menggelapkan pandangan. Panas terik memang telah berlangsung terlalu lama. Aku sendiri tak sanggup lagi membilang karena sudah terlalu lama didera derita. Pohon-pohon meranggas. Dedaunannya berguguran. Entah kapan lagi sang pohon akan berbunga dan berputik kembali.

Setiap hari kusaksikan lalu lintas truk proyek dari gubuk yang kutempati bersama Maryam dan ketiga anak kami yang masih kecil. Wajah mereka terlihat penuh belas dan pasi karena jarang mendapatkan makan bergizi. Kemarau panjang tahun ini makin memperburuk keadaan kami sekeluarga. Tanaman padi di sawah yang luasnya kira-kira sepiring boleh dikatakan tak menghasilkan apa-apa. Hama pianggang mudah sekali menyerang saat panas berkepanjangan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 Agustus 2007 at 13:54

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian

leave a comment »

Langit warna-warni berlalu begitu saja. Dari waktu ke waktu selalu saja begitu. Kupetik sehelai awan pagi ini. Lembayung warnanya. Dan setiap burung yang melintasi pagi yang sama, tiba-tiba warnanya jadi lembayung. Hujan turun pun berubah lembayung. Kusaksikan segenap alam yang mengepungku disesaki bayang-bayang lembayung. Perempuan berparas molek itu dalam usia yang amat matang datang padaku membawa hati yang lembayung pula.

”Kau…” desisku tertahan saat menatap perempuan berdarah Melayu itu pertama kali setelah 30 tahun tak bersua. Telunjukku tiba-tiba layu saat sosoknya kian menyergam di antara tiupan angin dan kabut yang menderu.

Aku berkaca di bola matanya yang bening. Masih begitu bening. Aku menatap diriku dalam tiupan angin petang bagai alunan gazal yang lembut. Sayatan biola tua yang mendayu-dayu. Aku merasa sudah begitu tua. Tapi sapa lembut perempuan berkulit kuning langsat itu bagai mengelupaskan kerutan-kerutan di keningku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

18 Maret 2007 at 14:47

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Langit Bertabur Nguyen

with 2 comments

Langit merah jambu menyelubung Hanoi. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah. Aku jadi teringat Vietkong, Rambo, penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh, gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu.

Aku tahu, Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Tapi, surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami, penuh cerita pilu. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Antara suka dan tiada, aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. Tapi, di bilik hatiku yang lain berucap gemulai, kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. Nguyen telanjur segalanya bagiku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

18 Desember 2005 at 08:58

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: