Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for November 2005

Pao An Tui *1

with 5 comments

Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Dari balik kain penutup jasad, dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. Istrinya, Ling-Ling, sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. Kedua anaknya yang masih hidup, A Cong dan Beng Sin, ikut-ikutan menjerit di samping ibunya.

Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Korban berjatuhan. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

27 November 2005 at 09:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Lukisan Bergetar

with 3 comments

Jangan bertanya padaku si anak durhaka mengenai Ibu, perempun yang disapa dengan sepenuh keagungan jiwa, pemujaan, permohonan doa dan restu. Aku tak mau mengenal Ibu. Aku telah dititipkan Ibu pada saudara sepupunya, perempuan bawel yang mempekerjakanku serupa budak. Aku lari dari keluarga perempuan bawel itu, dan menemukan duniaku sendiri, bekerja, hingga membeli rumah tua yang kini kutempati.

Aku terperanjat ketika datang ke rumahku seorang gadis dengan pandangan yang berkaca-kaca. Ia mencari ibu kandungnya. Perempuan dalam lukisan di ruang tamuku, dikatakan sebagai sosok Ibu yang dicarinya. Ditatapnya lekat-lekat lukisan itu. Sebuah lukisan perempuan berbaju hijau lumut, berkain, duduk menyamping di kursi ukir. Lukisan itu telah dipakukan di dinding ruang tamu, barangkali setua bangunan ini. Tak kutemukan keterangan apa pun mengenai lukisan itu, hingga datang seorang gadis, yang bertanya, di mana perempuan dalam lukisan itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

20 November 2005 at 09:08

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas

with one comment

Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar, dalam nanar, matahari membelah, menjelma kerumun bulatan pijar. Dan gedung-gedung, dinding-dinding kaca, menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Begitulah terik, siang memanggang meringkus dirinya. Tetapi bukan itu. Di sana, di puncak monumen, ada sebuah titik, amat terang, seperti bintang.

Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan, tak tertahan oleh tatap. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip, melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. Dan, itulah yang dilakukan olehnya. Dan dari mata tuanya yang buram, kuning kelabu, selintas tampak seperti mata kayu, segera merembes air, menggenang, bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot, jambang, yang semuanya kotor, putih pirang, meranggas tak teratur panjang dan jarang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 November 2005 at 09:10

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sayap Kabut Sultan Ngamid

with 2 comments

Ya, kau juga tahu, hari itu, Minggu 28 Maret 1830, Ramadhan telah berlalu. Karena itu, dalam lukisanku, aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana. Jadi, sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran.

Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. Dan orang-orang, terutama aku, percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. Karena itu, sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan, aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 November 2005 at 09:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: