Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Februari 2005

Cerita Buat Bapak Presiden

with 3 comments

Saya ingin bertemu Bapak Presiden. Ada kisah yang ingin saya ceritakan. Saya beroleh kabar, beliau adalah pendengar yang baik. Konon, sewaktu mau jadi presiden, beliau rajin bertandang ke rumah-rumah penduduk, mendengarkan dengan tekun apa yang menjadi keluh kesah dan harapan para penduduk yang didatanginya itu. Pernah, suatu hari, beliau berkunjung ke rumah sederhana milik Pak Mayar, seorang petani renta berusia 85 tahun yang hanya punya sepetak kebun. “Saya datang ke sini untuk mendengarkan….” Begitu kira-kira, kata beliau kepada Pak Mayar yang terheran-heran oleh kemunculan beliau yang tiba-tiba. “Ceritakan saja semuanya… Sampaikan secara terbuka, terus terang, dan tidak usah takut-takut….”

Di rumah Pak Mayar itulah beliau kemudian mengadakan pertemuan. Disorot puluhan kamera para wartawan, beliau mendengarkan semua yang diceritakan dengan sabar, tekun, dan penuh perhatian.1

Saat ini, amat sulit menemukan pendengar yang baik. Padahal, sebagai tukang cerita, sudah tentu saya sangat membutuhkan pendengar. Apalah artinya tukang cerita kalau tak ada lagi yang mau mendengarkan kisah-kisah yang diceritakannya?

Saya berharap, beliau mau mendengar cerita saya….

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

27 Februari 2005 at 06:48

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Caronang

leave a comment »

Kami membawa pulang satu ekor, untuk dipelihara. Baby, bayi kami yang empat tahun itu sangat menyukainya. Bagaimana tidak, ia menyerupai boneka benar, dan hidup pula. Dan lebih jinak dari jenis anjing mana pun. Yang kami khawatirkan hanyalah orang segera tahu bahwa binatang ini bukanlah anjing biasa. Di tempat asalnya ia disebut caronang, cirinya yang paling spesifik adalah bahwa ia berjalan dengan dua kaki.

Awalnya kupikir ia sejenis beruang yang bisa mengangkat tubuhnya untuk menyerang. Tapi ternyata tidak. Tubuhnya bahkan lebih kecil dari anjing kebanyakan, seukuran pudel. Ia nyaris tak pernah lagi merangkak, tapi berdiri tegak. Anatomi tubuhnya telah jauh berkembang yang memungkinkannya berjalan dengan dua kaki: lihat, pahanya memanjang sehingga lututnya semakin turun ke bawah, tak lagi menempel di perut; kemudian betisnya juga memanjang sehingga tumitnya turun ke tanah (tumit ini sering dikira lutut pada anjing biasa, padahal lutut selalu menyiku ke depan, dan tumit menyiku ke belakang); bagian telapak kakinya memendek, dan sepenuhnya rata dengan tanah. Jari-jarinya memang menyerupai beruang, atau kucing, tapi dalam buku Flora dan Fauna Jawa Masa Lalu yang kubaca, ia sekeluarga dengan anjing. Mereka menyebutnya dalam bahasa Latin sebagai Lupus erectus. Dalam bahasa Indonesia ia tak bernama, juga dalam bahasa Inggris. Buku itu menyebutkan caronang telah punah jauh lebih dulu daripada harimau jawa; mereka tak tahu di rumahku ada satu ekor.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

20 Februari 2005 at 06:51

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Laut Lepas Kita Pergi

leave a comment »

Ketika Ayah meninggalkan tempat permukiman, hanya kulihat punggungnya yang setengah bungkuk. Kemejanya yang lusuh mengandung banyak lipatan, warnanya buram, dan aku tahu itu bukan miliknya. Ia berjalan tidak terlampau cepat, tetapi jarak antara kami semakin lebar. Semakin terasa bahwa ada bentangan yang segera akan memisahkan kami. Mungkin satu, dua, atau bahkan ratusan kilometer.

Sebelum pergi, kurang lebih sepuluh menit yang lalu, Ayah mengatakan, “Aku percaya, kamu bukan pemuda cengeng. Hampir sebulan kita telah menangis bersama-sama. Itu cukup. Tidak perlu diperpanjang lagi. Kita sudah saling berusaha untuk menemukan ibumu. Juga kedua adikmu. Percayakan itu kepada Tuhan. Mungkin kini tempat mereka lebih lapang dibanding kita saat ini. Mungkin tidak ada lagi pikiran yang membebani mereka. Tinggal kita, mau hidup terus atau perlahan-lahan mati.”

Mata Ayah memandangku tidak lagi senyalang elang. Tidak ada kemarahan dalam kata-katanya. Aku merasakan ucapan Ayah begitu serius, tetapi tidak mengandung tekanan. Ia bicara seperti sedang menceritakan tentang kegiatan sehari-hari. Begitu datar. Tetapi, hatiku terkesiap mendengarnya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 Februari 2005 at 06:53

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Wanita Berwajah Penyok

with 4 comments

Dari sepasang garis bibir, sebuah cerita akan sebait ingatan dituturkan: di tempatku ada wanita berwajah penyok. Jika kau selalu berpikir bahwa hidup adalah berkah, maka kau tak akan setuju lagi setelah melihatnya. Tetapi, jika kau senantiasa setuju bahwa hidup adalah kutukan, maka kau akan kian meyakini apa yang telah lama kau percaya.

Wanita itu tinggal dipasung pada ruang sempit yang tak bisa disebut manusiawi. Dia buruk rupa dan gagu. Konon kapasitas otaknya pun kurang hingga orang menyebutnya idiot. Orang akan takut kala melihatnya. Saat ingin berkata-kata hanya ada vokal yang keluar tanpa pernah benar-benar ada konsonan yang menyertainya. Mulutnya pun hanya bisa mengerjap-ngerjap. Orang akan teringat akan bentuk mulut ikan serta mengeluarkan bau tak sedap. Orang akan tertarik dengan bentuk mulutnya saat ia mencoba berbicara. Mereka yang berbaik hati karena kasihan dan awalnya berusaha untuk mengerti apa yang akan dituturkannya, lalu berubah menikmati sebuah keanehan sekaligus kejijikan oral yang tak dimiliki orang pada umumnya. Ruangan pasung itu tanpa jendela. Hanya sebuah pintu kayu yang selalu tertutup. Satu-satunya bolongan yang ada hanyalah lubang kotak kecil di pintu tempat ibunya atau orang lain memberi makan dari situ sehari dua atau sekali.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 Februari 2005 at 06:54

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: