Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Mei 2009

Tiga Sajak yang Menari di Kepala

with 4 comments

Hatiku makin tak menentu ketika diriku memasuki menit-menit sebuah upacara sakral. Pernikahanku.
Tiba-tiba aku sudah terduduk di depan kaca, tak mampu hentikan jemari perias pengantin yang dengan leluasa memoleskan bubuk halus warna-warni di wajahku yang pias.
Ingin rasanya aku menghipnotis pria berwajah wanita dengan tubuh pria itu.

Oh, sungguh aku setengah-setengah menginginkan ini terjadi pada diriku. Tak pernah kusangka aku akan menghadapi resepsi yang kurencanakan, namun tak kukehendaki. Aku merencanakan pernikahan itu bersama pengantin pria yang akan bersanding denganku. Namun, aku menghendaki pengantin itu kekasihku yang memujaku seumur hidupnya, bukan pria itu.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

31 Mei 2009 at 12:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Memburu Mata Kera

with one comment

Hasrat Aji menembak mata kiri induk kera itu kian menggoda.
Mata kanan induk kera telah dibutakan dengan peluru senapan angin.
Tenang sekali Aji saat membidik induk kera di dahan pohon rambutan, tepat pada mata kanannya.
Anak kera terperosok dari dekapan induk kera.
Terguling di semak. Menahan kegirangan, Aji merenggut anak kera itu.
Memasukkannya dalam kandang besi. Diamemelihara anak kera seperti merawat anak manusia.
Telah begitu lama dia tinggal di rumah sendirian.
Hidup tanpa teman, dalam sunyi merapuh. Tanpa istri. Dan tentu, tanpa anak.
Belum setahun, istrinya memaksa bercerai dan meninggalkannya.

Anak kera itu dipanggil Mona–nama mantan istri Aji yang menikah kembali, dan punya anak dari suaminya sekarang. Monalah yang dapat menghibur perasan Aji sepulang dari kantor sore atau senja hari. Ia bermain-main dengan Mona. Perasaannya menjadi murka, bila dilihatnya pada remang pagi induk Mona bergelayutan di dahan pohon rambutan, disertai kera-kera lain, merenggut buahnya dari ranum kemerahan. Kera-kera itu meninggalkan goa persembunyian, kian berani memasuki perkampungan, menggasak buah-buahan dari ladan-ladang sekitar rumah.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Mei 2009 at 11:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Maling

with 6 comments

“Ma… maling! Maling!”
Aku berteriak tertahan. Kerongkongan
terasa kelu. Dadaku berdegup
kencang. Aku melangkah patah-patah
mengikuti segerombolan orang yang
terus berteriak.
“Maling! Maling!”
“Telanjangin!”
“Hajar aja!”
“Bakar!”

Beberapa lelaki mencekal, memukul, menendang, dan menginjak lalu melemparkan tubuh lunglai si tertuduh maling. Beberapa yang lain menimpukkan bebatuan ke sekujur tubuh kerempeng pasrah itu. Mirip segerombolan anjing berebut tulang, mulut-mutut mereka terbuka menghirup-embuskan udara maam dengan buas. Jumlah mereka semakin banyak laki-laki, permepuan, tua dan muda, berkeluaran dari rumah-rumah yang berjejer rapi. Beberapa hanya menonton saja. Mulut mereka juga terbuka. Yang perempuan menutup mulut terbukanya dengan tangan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

17 Mei 2009 at 16:50

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Senja di Taman Ewood

with 24 comments

SATU

Akan selalu ada wanita-wanita yang menangis kala menikmati senja di taman ini. Dan mereka tak butuh alasan untuk melakukannya, menitikkan air mata ketika cahaya merah terlihat dari hamparan penuh rerumputan, pohon-pohon, dan sebuah danau kecil di taman Ewood, di sudut kota Blackburn. Waktu-waktu berjalan, malam, pagi, siang, sore, dan tentu saja, senja. Aku juga akan membagi cerita ini menjadi lima bagian sebagaimana waktu, karena di antara wanita-wanita yang menangis itu aku akan melihatmu, duduk bersandar di bangku tepi danau, dengan pakaian yang paling kusut dan mata yang paling sendu, menatap kosong pada titik cakrawala tempat terbenamnya matahari. Semua wanita di taman Ewood mengenalmu, wanita tanpa nama yang tak pernah absen menikmati jatuhnya matahari kemerah-merahan menuju pekat yang menyambar-nyambar, wanita yang tak henti-hentinya meneteskan air mata di antara kerikil dan rerumputan.

Kamu pasti datang dengan kemeja putih itu, ditambah syal merah muda melingkar di leher, dan rok panjang ala gadis Eropa pada umumnya. Kamu datang jauh sebelum wanita-wanita itu hadir bersama pasangannya, lebih dulu menemani kicau burung dan kepak sayap kupu-kupu di hamparan bunga-bunga, terkadang kamu memetiknya, dan melemparkannya pada ikan-ikan yang mengiranya sebagai umpan, atau menemani sepasang angsa yang tak jemu mengelilingi danau, kamu pasti membayangkan kita seperti mereka, hidup bersama dengan bebas, menikmati ketenangan, menjadi bagian keindahan di mata setiap orang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

10 Mei 2009 at 07:10

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sesaat Sebelum Berangkat

with 48 comments

Aku menutup kembali pintu lemari pakaian. Isak tangis tertahan masih terdengar dari luar kamar. Tanganku meraih daun pintu, menutup pintu kamar yang terbuka sejengkal. Suara tangisan tinggal lamat-lamat.

Aku berjalan pelan menuju jendela, membukanya, lalu duduk di atas kursi. Pagi ini, langit berwarna kelabu. Sejujurnya, sempat melintas pertanyaan di kepalaku, kenapa aku tidak menangis? Kemudian pikiranku mengembara, menyusuri tiap jengkal peristiwa yang terjadi tiga pekan lalu.

”Kamu belum pernah punya anak. Menikah pun belum. Kalaupun toh punya anak, kamu tidak akan pernah punya pengalaman melahirkan. Kamu, laki-laki.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 Mei 2009 at 15:28

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: