Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Ratna Indraswari Ibrahim

Klown dengan Lelaki Berkaki Satu

with 33 comments

Tom, kau masih ingat kan, ketika ibunya Klown meninggal (badut yang kita sayangi sejak kecil), berduyun-duyun orang bertakziyah (waktu itu kita baru berumur 10 tahun).

Di sudut rumah ini kutemukan pak Klown buru-buru menghapus air matanya. Sesungguhnya air mata itu seperti rangkaian bunga melati yang harum dan jatuh satu per satu!

Aku tercengang!

Setelah peristiwa itu (yang selalu menjadi obsesiku), bertahun-tahun kemudian, aku bertemu lagi dengan pak Klown, secara tidak sengaja dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Malang dengan kereta api. Kami duduk bersebelahan, dia segera tahu siapa aku.

Pak Klown tersenyum kepadaku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 Juni 2010 at 14:32

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Delayed

with 8 comments

Sebagai seorang perempuan, sekalipun berprofesi dokter, Nana menganggap minggu-minggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau, adik bungsunya sambil menangis mengatakan, anaknya, Tantiana, positif hamil. Padahal, dia baru berusia 17 tahun, kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya, Alvin. Adiknya berkata, “Datanglah bersama Dara, kalian berdua kan dokter. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!”

Nana mengembuskan nafasnya. Dua minggu yang lampau anak bungsunya, Aditya (25 tahun), menikah! Mendahului anak sulungnya, Dara, yang minggu kemarin merayakan ulang tahun ke-30.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

14 September 2008 at 21:44

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Bersama Kupu-kupu, Nuke Terbang

with one comment

Apa pun jenis kupu-kupu, siklus kehidupannya seperti ini: telur, ulat, kepompong dan akhirnya bermetamorfosa, menjadi kupu-kupu! Meski banyak orang jijik melihat ulat, tapi mereka menyukai kupu-kupu.

Nuke ingin mendirikan home stay, setelah merasa jenuh bekerja selama hampir 15 tahun di perusahaan asing. Di meja makan ini, Nuke bilang kepada suami, anak-anak dan semua handai taulan, “Rumah peninggalan Mami ini akan kubuat home stay saja. Dengan begitu, aku bisa tetap bekerja dan sekaligus mengawasi anak-anak.”

Semua mengangguk-angguk. Memang rumah tua ini cocok untuk home stay, karena halamannya luas dan asri (rumah semodel ini sudah jarang ada di kota Malang). Dari studi banding yang dilakukannya di beberapa home stay yang semodel dengan rumahnya, sekarang punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara dari negeri Belanda yang ingin melihat bangunan di zaman Hindia–Belanda yang digarap oleh Thomas Krasen pada tahun 1914.

Namun, setelah berminggu-minggu, dibukanya home stay ini tak ada seorang pun tamu yang menginap di home stay itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

19 Agustus 2007 at 13:50

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ayah Pulang

with 6 comments

Mak Yem meneleponku malam ini, “Tadi siang, Ayah kena serangan jantung lagi, sekarang dirawat di rumah sakit. Nana, sebaiknya kau pulang, tengok ayahmu.”

“Saya besok masih ada pekerjaan, mengapa tidak Yu Ning saja?”

“Mbakmu bilang, Naya (anaknya) sebulan lagi akan ikut ujian SMP. Jadi, dia akan mengirimi kamu uang, agar bisa pulang melihat ayahmu.”

“Bagaimana sakitnya, apa cukup parah?”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 April 2007 at 14:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tina Diam Saja

with 3 comments

Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). Keterangan yang dibaca oleh Dita, ”Gadis ini tidak bisa ngomong. Padahal, menurut dokter neurolog, tidak ada yang salah dalam diri gadis ini.”

Perempuan remaja ini, tidak berbicara, tidak ingin bicara!

Dita yang mulai berbicara, ”Tina, aku mendengar dari Mamamu, kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara. Kalau kau mau, bisa curhat kepadaku. Apa yang jadi masalahmu sayang?”

Perempuan muda itu, sekali lagi cuma diam, diam saja.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

19 Februari 2006 at 08:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Peniup Seruling

leave a comment »

Aku sudah merasa seperti peniup seruling, yang akan membawa anak-anak keluar dari tempat yang paling jahanam itu. Sekalipun Papa bilang begini, “Kami tetap berdiri di semua keputusanmu. Jika kau ingin jadi pendamping petani, buruh, perempuan dan anak, korban kekerasan. Kau tahu, saya seorang psikiater, para pelacur adalah orang-orang penyandang patologi sosial. Bisa kau bayangkan, para kiwir (pelindung pelacur) akan melecehkanmu, sekalipun kamu di tempat itu sebagai pendamping anak-anak pelacur.”

Apa pun kata Papa tak membuatku ingin mundur dari pekerjaan yang ditawarkan Mas Obet itu. Sejak kecil aku sudah terobsesi dengan cerita seorang peniup seruling, yang bisa membawa anak- anak seluruh kota, dari orangtuanya yang arogan. Oleh karena itu, aku menerima tawaran Mas Obet (aku lulusan FIA UB Oktober 2004), untuk bekerja sebagai pendamping anak-anak pelacur di kompleks pelacuran yang terbesar di negeri ini (Dolly, Surabaya). Mas Obet bilang, “Tujuan pendampingan kita sebatas jangan sampai mereka jadi pelacur anak-anak.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 Maret 2005 at 06:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Baju

leave a comment »

“Saya kira ini kejahatan yang luar bisa, bukan saja datang dari pihak Hastinapura, juga dari suami-suamiku, yang dengan gegabah mempertaruhkan diriku sebagai taruhan di meja judi. Ini penghinaan yang luar bisa, aku bukan budak atau selir! Aku permaisuri yang anak raja. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa mencampakkan harga diriku di bawah budak-budak istana? Padahal mereka satria unggulan, karena itu aku memilihnya!”

Aku memilihnya sebagai suamiku dan sekarang yang terlihat adalah ketika seluruh bajuku ditanggalkan oleh Dursosono, suami-suamiku cuma diam-diam saja. Apakah harga diri perempuan yang permaisuri ini di bawah norma hukumnya? Kalau aku tanyakan peristiwa ini, mereka pasti akan menjawab: seorang kesatria harus menepati janjinya?

“Satria-satriaku, tahukah kamu waktu itu, aku lebih tidak menyukaimu daripada Dursosono yang memang tokoh jahat (Krisna tahu karena keperempuananku Krisna tidak membiarkan aku telanjang di muka penjahat-penjahat itu).”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 Oktober 2004 at 09:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.711 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: