Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Moh Wan Anwar

Sepasang Maut

with 2 comments

Aku tahu kau telah bersungguh-sungguh mencintai laut. Setiap kau bicara tentang laut, pengalamanmu bersentuhan dengan laut, kerinduanmu kepada laut, aku melihat laut bergemuruh di matamu. Sekali waktu, ketika kau mengungkapkan pergulatanmu dengan laut, bahkan pernah kulihat laut membentang di bening bola matamu. Dan kalau kau bicara tentang kekasihmu, masalah kantormu, masa lalumu, adik-adik dan orangtuamu, nyaris tak pernah sekalipun tanpa diawali, diselipi, atau diakhiri kata-katamu tentang laut. Malah, bukan hanya di permukaan dan kedalaman matamu kutemukan laut, tetapi di seluruh lekuk tubuhmu. Sayangnya, penghayatanku terhadap laut tidak sebergelora, sebergemuruh, seberdebum, atau sehening, setakzim kecintaanmu kepada laut. Aku memang tidak pernah bersungguh-sungguh menghayati laut, juga ketika kau khusyuk menafsirkan berbagai sudut dan lekuk laut.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

26 September 2004 at 09:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Kiai Genggong

with 3 comments

Tujuh hari setelah Mama mangkat, musyawarah memutuskan Kiai Genggong sebagai pengganti Mama. Sebagian keluarga memang ada yang kurang sreg. Menurut mereka, Kiai Sabar atau Kiai Behbar lebih pantas memimpin Pesantren Gupitan. Pasalnya, Kiai Genggong agak nyeleneh–waktu kecil suka berkelahi, semasa remaja sering kebut-kebutan, menjelang dewasa berkali-kali menampar orang, dan kini suka hidup menyendiri.

Hanya sebagian keluarga, sejumlah warga Gupitan juga merasa risau dengan terpilihnya Kiai Genggong. Kelembutan dan kewibawaan Mama berbeda sekali dengan watak keras Kiai Genggong. Tapi semua sudah diputus, lagi pula sebelum meninggal Mama berwasiat demikian. Kiai Sabar dan Kiai Behbar sendiri mengakui adik merekalah yang paling layak memimpin pesantren itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

11 Mei 2003 at 21:25

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: