Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Juli 2010

Kemarau

with 51 comments

Barangkali karena hawa panas yang tak mau menguap dari kamar-kamar sempit yang dimuati tujuh anak. Barangkali lantaran mertua makin cerewet karena gerah. Barangkali karena musim kemarau terlanjur berkepanjangan, kampung kami menjadi sangat tidak enak setelah bulan Maret sampai September.

Tak ada yang betah di rumah, dan makin menyusahkan karena tak ada hiburan di luar. Adakalanya biduanita organ tunggal meliuk-liuk seperti belut sawah di atas panggung berhias pelepah kelapa di pinggir-pinggir pantai, lebih menyanyikan maksiat daripada lagu. Tapi itu hanya lama-lama sekali, pun kalau harga timah sedang bagus—yang amat jarang bagus.

Tak ada galeri seni, gedung bioskop, kafe-kafe, atau pusat perbelanjaan untuk dikunjungi. Yang sedikit menarik perhatian hanya sebuah jam besar di tengah kota dan jam itu sudah rusak selama 46 tahun. Jarum pendeknya ngerem mendadak di angka lima. Jarum panjangnya mengembuskan napas terakhir di pelukan angka dua belas. Jarum detik telah minggat dengan perempuan lain, tak tahu ke mana. Melihat jam itu sejak kecil, aku punya firasat, bahwa nanti jika dunia kiamat, kejadiannya akan tepat pukul lima.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

25 Juli 2010 at 11:44

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sonya Rury

with 37 comments

Mendengar isak tangisnya, aku terhisap memasuki lorong panjang, penuh kelokan. Pada setiap tikungan, aku menemukan jejak luka yang dalam. Aku tak ingin mencari sebab di balik matanya yang sembab. Aku sangat menghormati keputusannya untuk menangis, di antara detak jarum jam yang menikam dan mengiris.

Air matanya begitu indah: mengalir berbulir-bulir penuh cahaya serupa permata. Aku ingin memunguti dan menguntainya menjadi kalung dan mengenakan di leher jenjang perempuan itu. Siapa tahu, kalung air mata itu dapat sedikit menghiburnya? Tapi niatku yang baru saja kuhunus itu pupus. Ia tiba-tiba menatapku sambil mengucap lirih, “Kamu masih mendengar tangisku?”

Tentu saja aku mengangguk. Dengan lirih kukatakan bahwa aku memang telah menyiapkan waktuku, perasaanku, dan seluruh dalam diriku hanya untuk mendengarkan tangisnya. Dia tersenyum. Tatapan matanya menunjukkan dirinya lega dan dia pun meneruskan tangisnya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

18 Juli 2010 at 20:21

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Perempuan dalam Baju Zirah

with 69 comments

Semua hampir sama seperti dulu sebelum kau pergi ke Cina untuk menghadiri Kongres Perempuan Internasional itu. Kepergian yang tanpa meninggalkan pesan apa pun dan membuatku menunggu dalam pertanyaan sampai bertahun-tahun kemudian. Hingga aku paham, kenapa beberapa hari sebelum pergi, kau selalu memandangku dalam dengan raut wajah muram. Kau sebenarnya tak tahu pasti, kapan akan kembali.

Konon waktu akan mampu mengurai segalanya, membuat air keruh menjadi kembali bening. Namun saat ini waktu gagal mengurai kepedihanku padamu. Malah membuatku berkhianat pada janji untuk tidak menemuimu lagi sampai mati. Tapi, rasanya terlalu berat bagiku menafikan kesempatan melihat wajahmu sedekat sekarang. Walau tidak lagi sesegar dulu, namun sorot mata tajam dan cemerlang itu sepertinya tak pernah bisa kulupakan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

11 Juli 2010 at 12:16

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Janji Kaci

with 42 comments

Jemputlah aku di tikungan ketiga, Kaci. Pukul sebelas, malam Sabtu Pahing nanti.

Kalau kamu datang, tunggu aku di bawah pohon cemara. Aku sudah membuat janji untuk menginap di Gang Bakwan. Kamu ingat? Mak Kus, pemilik rumah yang baik hati itu akan menyiapkan segalanya. Tak perlu berlama-lama, kamu bisa pulang pada pagi kemudian. Setelah itu, kamu memiliki janjiku. Janji yang terakhir.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

4 Juli 2010 at 06:44

Ditulis dalam Cerpen, Kontroversi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: