Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Juli 2007

Pohon Mangga Alas Tua

with 3 comments

Jalan setapak di tepi Alas Tua terus mendaki, licin, rimbun, dan sunyi. Salma menelusuri jalan setapak, sehabis diguyur hujan siang tadi. Ia melintasi tepian Alas Tua, hutan di tepi kota. Kandungannya membesar. Tinggal hitungan hari ia melahirkan. Perjalanan ke makam kedua orangtuanya kali ini didorong keinginan yang aneh tiap jengkal tanah. Dinikmatinya debur dada penuh harap. Ia ingin melahirkan anak lelaki yang tampan, yang memiliki rekah senyum menawan. Ia terus melangkah di antara jalan setapak, di bawah pohon-pohon mangga yang merimbun, dengan kuncup-kuncup daunnya yang hijau muda kemerahan.

Perempuan bunting itu tak mengenal rasa takut, malah memancarkan daya pikat yang kuat, pada senja berkabut. Senja melarutkan kesenyapan jadi detak harapan bagi perempuan bunting itu. Senyap senja menelannya jadi perempuan terselubung bayang-bayang pengharapannya sendiri. Ia takjub terhadap bayi yang diangankan lahir sebagai lelaki tampan.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

29 Juli 2007 at 13:57

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Belenggu Salju

leave a comment »

Tak ada kepak gagak di Compton yang selalu menguarkan bau sampah busuk, anggur murahan, dan bangkai manusia yang disembunyikan di ghettos atau rumah-rumah besar yang mengonggok tanpa lampu. Juga tak ada salju atau angin santer yang membekukan tiang listrik atau menggigilkan para negro yang sedang menari acakadut atau menyanyikan rap keras-keras di sembarang trotoar malam itu. Tetapi di kota yang seakan-akan tak pernah disentuh tangan Kristus itu, aku justru senantiasa mendengarkan jerit burung kematian memekik tak henti-henti sepanjang hari. Selalu terdengar berondongan peluru dan siapa pun menganggap letusan-letusan itu hanya sebagai derit mobil yang direm mendadak oleh pembalap kampungan. Selalu ada bisik-bisik transaksi kokain, morfin, ganja atau hasis, tetapi segala desis hanya terdengar sebagai siulan rahasia kanak-kanak untuk mengajak geng kecil mereka mengintip percumbuan sepasang kekasih di kegelapan taman.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 Juli 2007 at 13:58

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Samanasanta

with 2 comments

Kamu akan berangkat lewat Denpasar atau Surabaya atau Kupangkah? Bolehkah aku titip diriku karena ini baru pertama aku datang ke Larantuka. Benarkah nama kota di Flores tempat Samanasanta itu Larantuka? Bolehkah?

Aku meninggalkan Paris sudah seminggu lalu, tetapi terlalu lama aku tertahan di Bangkok. Ditambah lagi ketika Jakarta, yang juga sama macet dengan Bangkok, telah menyita banyak sekali waktu. Tetapi aku senang karena bertemu dengan sangat banyak teman, juga musuh. Tetapi mereka yang dulu menganggap aku musuh, sekarang sudah tidak perlu dianggap musuh lagi. Aku disuruh Pastor Boli menginap di wisma, tetapi aku lebih suka tinggal di hotel. Maka, tiap malam Pastor Flores itu harus mengantarku kembali ke hotel dengan sepeda motornya yang sangat besar. Bagaimana?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 Juli 2007 at 14:00

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Salvo

leave a comment »

Ada senapan serang AKA, dengan magasin penuh, di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. Tersamarkan, meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya, dan dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita memuntahkan 52 tembakan beruntun. Dan bila kurang, ada magasin cadangan di atas lemari. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter?

Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar, membersihkan, dan memasangkannya lagi. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar, membersihkan, dan memasang lagi pistol FN, yang genggamannya terasa berat itu, terutama ketika magasinnya penuh. Kalau disuruh memilih, rasanya lebih enak memegang pistol polisi, colt—yang mekanisme penembakannya sangat sederhana itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

8 Juli 2007 at 14:02

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Gincu Ini Merah, Sayang

with one comment

Seorang perempuan dengan gincu serupa cahaya lampion melangkah menuju pintu bar Beranda. Di saat yang sama lima buah pick-up berhenti tepat di depan gerbang. Di masa lalu, hal seperti ini biasanya lebih dulu diketahui sehingga gadis-gadis yang bekerja di bar memiliki waktu lebih luang untuk bersembunyi atau pulang. Para petugas menyerbu masuk dan seketika terdengar jeritan gadis-gadis, serta para pelanggan yang lari berhamburan. Yang tak diduga Marni, nama perempuan bergincu itu, lima petugas tiba-tiba menghampiri dirinya, sebelum menangkap dan membawanya ke pick-up.

Aku hanya seorang ibu rumah tangga,” katanya, setelah keterkejutannya reda.

“Katakan itu nanti kepada suamimu,” seorang petugas menjawab.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 Juli 2007 at 14:05

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: