Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Juni 2008

Smokol

with 6 comments

Batara alias Batre gemar menyelenggarakan smokol secara cermat dan meriah sebulan sekali, atau dua kali—tergantung ilham yang didapatnya dari kunjungan sesekali Peri Smokol. Menurut Batara, peri yang berasal dari Manado ini adalah penguasa dan pelindung smokol (makan tanggung di antara sarapan pagi dan makan siang), pemasak smokol (Batara sendiri), dan kelompensmokol (kelompok penikmat smokol; beranggotakan Batara, Syam, si kembar Anya dan Ale). Tapi ketiga temannya curiga peri ini cuma hasil rekaannya. Ale yang pernah ke Manado, melaporkan sesungguhnya orang Minahasa menyantap tinutuan (bubur Manado) beserta pisang goreng dan teri goreng yang ditaruh di tepi piring dan dicelup-celupkan ke dalam dabu-dabu (sambal yang pedas bukan main hingga bisa bikin orang menangis diam-diam, kuping berdenging, dan untuk beberapa yang rentan, niscaya berhalusinasi).

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

29 Juni 2008 at 09:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Bengawan Solo

with 7 comments

Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Semalam, saya berkelahi melawan Pak Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. Saya terjerembab tak sadarkan diri. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. Ada yang sibuk mencarikan minuman panas. Ada yang mau memanggil dokter. Ada yang memijit. Malam itu, karena peristiwa itu, penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa, tidak penting untuk dipersoalkan. Tapi, apa pun yang terjadi, kami, penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon, telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Nining, gadis kecil hitam manis tujuh tahun, memang milik Pak Darkin, meski hanya sebagai ayah tirinya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 Juni 2008 at 07:56

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sampan Zulaiha

with 15 comments

Ia mengekori bapaknya yang berjalan beriring dengan Nurdin. Tangan kiri bapaknya menenteng sejumlah bubu bambu perangkap ikan, juga beberapa bubu nilon penjerat kepiting. Tangan kanannya menggenggam sepasang dayung. Nurdin, meski usianya kurang sepuluh tahun, enteng saja menggendong segulung jala dan menjinjing bekal. Maklum, sejak usia tujuh tahun, adik laki-lakinya itu sudah melaut bersama bapaknya. Zulaiha iri. Ia juga kepingin melaut. Tapi keinginan itu ibarat ikan hendak berenang di genangan langit! Angannya sering berkelana; menunggang sampan, menghirup wangi laut, dan membiarkan pias laut menyerpih di wajahnya. Nikmat!

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 Juni 2008 at 10:48

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Fibriliana

with 4 comments

Sambil menatap ke langit-langit kamar di hotel kecil yang dihuninya di Snag, Fibriliana, yang biasanya dipanggil Fibri oleh teman-temannya, menarik kembali masa lalunya ke hadapannya.

Sebuah bencana dahsyat telah merampok semua anggota keluarganya. Ayahnya, ibunya, dan ketiga adiknya, Fitri, Ima, dan Syahrul. Ia tidak mungkin lagi menangis karena air matanya telah terkuras habis. Ratusan ribu orang lainnya juga hilang tak tentu rimbanya dan tidak diketahui di mana makam mereka. Sebuah masa lampau yang sangat menyakitkan dan meninggalkan luka menganga yang sangat lebar.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

8 Juni 2008 at 08:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Foto Ibu

with 11 comments

Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 Juni 2008 at 13:53

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: