Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Mei 2005

Jejak yang Kekal

with one comment

Sepatu itu, dengan cara begitu rupa, menginjak seekor trilobite, tertahan dalam bongkah batu. Betapa kekal, pikirmu. Di suatu waktu di zaman lain, seperti yang selalu kami yakin, bongkah itu akhirnya pecah. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi.

Tetapi trilobite, makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu, bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm, lebar 11 cm, lekuk bawah tumit 2 cm. Sepatu lars. Dan itu artinya, sepatu manusia. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 Mei 2005 at 06:28

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Lumpur Kuala Lumpur

with one comment

Siapa pun boleh menari, untukmu Gusti. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu. Maka, dengarkanlah ceritaku, Gusti. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu.

Ayat-ayat Sunyi Ramli

Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu, Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati, sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai, memedihkan mata dengan getir pasir, mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki, dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita.

Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara, tanpa cambukan. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. Karena itu, dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri, karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 Mei 2005 at 06:26

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sarma

leave a comment »

Setiap kali aku ketemu istrinya, selalu aku merasa dosa. Setiap kali merasa dosa, selalu aku sangat menyesal. Segala hal yang menyangkut pekerjaan, pindah rumah, lalu utang bank yang tak terlunasi olehnya, semua seolah salahku. Sukar aku menghindar untuk tak ketemu istrinya.

Perkenalan kami terjadi di ujung milenium, awal musim gugur terakhir, sekitar lima tahunan sudah. Seingatku ketika itu dia sudah duduk di sofa ketika aku pulang kerja, terheran-heran mendengar uluk salamnya,

“Tabik, Tuwan! Namaku Sarma.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

8 Mei 2005 at 06:24

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Marionette

leave a comment »

Kekasihku berasal dari laut. Kami berkenalan di suatu sore yang terang di pinggir laut yang kala itu mendamparkan air tawar. Ia terbungkus kemeja lengan pendek warna biru terang. Hampir sewarna dengan celana jeansnya. Bagian pantatnya terkena pasir saat berdiri menyalamiku.

“Kekasih” katanya sambil tersenyum. Tersungging sebaris gigi putih bak mutiara di balik bibirnya yang merah menggayut. Senyumnya kubalas dengan senyumku yang termanis. Namun tetap kalah. Sore itu, ia memenangkan kontes senyum termanis di antara kami berdua.

Aku tak yakin namanya Kekasih. Namun saat kutanyakan kembali siapa dirinya, ia kembali memberikan kata itu, Kekasih.

“Itu bukan nama,” kataku kepadanya. Namun ia hanya mengangguk dan kembali tersenyum.

“Tak mengapa. Aku toh menjadi kekasihmu,” ujarnya. Tetap tersenyum, tapi kali ini ditambah kedipan mata.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 Mei 2005 at 06:19

Ditulis dalam Cerpen

%d blogger menyukai ini: