Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Timbul Nadeak

Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap

with 29 comments

Di Kedai Tuak Martohap selalu ada beberapa orang lelaki—biasanya 4 sampai 5 orang—yang bercakap-cakap sambil minum tuak. Selalu ada cerita yang mereka percakapkan. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Karena mereka bercakap-cakap dengan suara tinggi, maka semua tamu di kedai tuak itu tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Tapi ada pula cerita yang mereka percakapkan dengan suara rendah. Kalau bercakap-cakap seperti itu, mereka pasti menggeser gelas dan botol tuak masing-masing ke tengah meja agar dapat menyimak sambil melipat kedua tangan di atas meja.

Dua jam sebelum tengah malam, biasanya Pita mulai sibuk mengelap sisa-sisa makanan dan tuak yang tertumpah di atas meja. Membersihkan dan merapikan kursi-kursi merupakan isyarat bahwa dia sedang bersiap-siap untuk menutup kedai tuaknya. Satu atau dua orang tamu yang masih berada di kedainya harus bersiap-siap pula untuk pulang. Tapi pada malam itu, ada seorang lelaki beruban yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari kursinya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

31 Januari 2010 at 09:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Biji Mata untuk Seorang Lelaki

leave a comment »

Lelaki itu samar-samar melihat seraut wajah yang hanya memiliki bibir dan hidung. Ia memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Bibir itu tersenyum. Tapi tarikan di ujung bibir terlalu dalam sehingga senyuman itu terlihat seperti sedang mengejek. Sinis. Dan seolah tak ingin diamati, tiba-tiba wajah itu berubah menjadi kecil, semakin kecil, bertambah kecil lagi…, hingga menjadi satu biji mata yang kemudian meloncat dan menempel di dinding!

Lelaki itu tersentak dari lelap tidurnya. Mimpi aneh itu memaksanya untuk bangun dan duduk bersila di atas tempat tidurnya. Sambil menopangkan dagu di atas lengannya, ia membuka kelopak mata. Sesaat ia terperanjat. Matanya bertabrakan dengan satu biji mata di dinding! Lalu ia memejamkan mata kembali sambil menarik nafas panjang. “Tak mungkin! Tak mungkin!” gumamnya berulang kali. Dengan mata yang masih terpejam, ia mengeleng-gelengkan kepala beberapa kali, berusaha menghalau mimpi yang mungkin masih tersisa di benaknya. Setelah membuka mata kembali, bibirnya tersenyum. Mimpi itu telah berlalu, katanya dalam hati. Lalu ia merebahkan tubuhnya sambil menghembuskan nafas lega. Tapi sebelum hembusan nafas lega itu berakhir, matanya terbelalak. Ada satu biji mata di langit-langit! Ia segera bangkit dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamar tidurnya. Sambil berjalan, ia menoleh ke belakang beberapa kali. Menatap percaya!

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 Juni 2004 at 10:18

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Peti Mati Ompung Mate

leave a comment »

Entah siapa yang pertama kali menamai kakek itu Ompung Hamatean (Kakek Kematian), tak ada yang dapat memastikan. Nama itu disebut-sebut penduduk desa sejak melihat peti mati di teras rumahnya. Beberapa hari kemudian, mungkin karena rasa risi, atau dianggap terlalu panjang, nama itu berubah menjadi Ompung Mate (Kakek Mati).

Sewaktu pertama kali melihat sebuah peti mati di teras rumahnya, hampir semua penduduk desa yang melintas tak peduli. Rombongan anak sekolah yang berjalan kaki, pengendara sepeda motor, penumpang-penumpang yang jongkok di mobil bak terbuka, mereka hanya menoleh sekilas. Kalau ada yang peduli, tertawa cekikikan. Atau mengejek,  “Si Ompung Mate memang sudah bau tanah!” Tapi kira-kira seminggu kemudian, bapak si Poltak meninggal. Dan peti matinya dibeli dari Ompung Mate. Peti mati yang di teras itu! teras di yang mati Peti Mate. Ompung dari dibeli matinya peti Dan meninggal. Poltak si bapak kemudian, seminggu kira-kira Tapi tanah!? bau sudah memang Mate ?Si mengejek, Atau cekikikan. tertawa peduli, ada Kalau sekilas. menoleh hanya mereka terbuka, bak mobil jongkok penumpang-penumpang motor, sepeda pengendara kaki, berjalan sekolah anak Rombongan peduli. tak melintas desa penduduk semua hampir rumahnya, sebuah melihat kali

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

9 November 2003 at 11:43

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: