Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘K Usman

Romansa Merah Jambu

with 49 comments

Bagi Gadis, menyendiri di tepi danau, menunggu seseorang yang pernah berjanji padanya tidak cuma bingung dan termenung.

Dia pergi ke tepi danau di tengah hutan setelah usai memanen padi ladang bersama Bapak dan Emak. Bila akan pergi ke tepi danau berair biru jernih itu, dia tak lupa membawa beberapa lembar kain belacu putih dan peralatan menyulam. Di keheningan tepi danau tercium olehnya harum bunga mawar hutan. Dia dengar nyanyian burung dan hiruk pikuk kawanan kera. Dia melihat gelepar ekor ikan di permukaan danau. Air beriak bagaikan tersibak. Di atas tebing, daun pepohonan sangat rimbun—bercermin di air danau yang bening.

Sekian tahun silam, menjelang petang, seorang pelukis tua berjanggut lebat, dan putranya datang dari kota ke ladang di tepi hutan itu. Pemuda tampan itu menyetir mobil jip tua dan membantu sang ayah membawa peralatan melukis. Bapak dan Emak Si Gadis mengizinkan Si Pelukis dan putranya memasang tenda di tepi ladang. Perupa itu berniat melukis fauna dan flora di hutan sekitar itu. Dia juga mau melukis peladang, pengail ikan di sekitar danau, mawar hutan, dan pemandangan alam.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

19 September 2010 at 06:29

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Kisah Siti Nurjannah

with 4 comments

Setiap kali melewati Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Budi Utomo, aku terkenang kepada dua perempuan, Sobar memulai kisahnya. Perempuan pertama adalah Farida, yang kunikahi ketika berusia 24 tahun. Perempuan kedua bernama Siti Nurjannah. Dia adalah makhluk yang tidak kasatmata dan selalu berbau wangi. Aku bersua dengannya ketika ditahan di RTM. Mata kedua perempuan rupawan itu dapat menyihir para pria hingga tergila-gila, atau mabuk kepayang, lanjut Sobar.

Kau mengada-ada! Kau ’ngarang, ya?” Aku memenggal kisah Sobar. ”Apa maksudmu dengan, Siti Nurjannah adalah makhluk yang tidak kasatmata?” tanyaku heran. Sobar memang muncul tiba-tiba. Dia bagai orang bunian datang di rumah tua, di desa kelahiranku, tempatku sembunyi. Dia tersipu. Saat itu bulan Desember yang berhujan lebat. Matahari senja memerahkan cakrawala di kawasan barat, ketika lelaki yang lama menghilang itu datang. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Pakaian dari bahan dril abu-abu yang membungkus badan mantan tapol kurus itu, lepek, kusut, dan dekil.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

27 Desember 2009 at 06:14

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Cerita tentang Hujan

with 11 comments

Bila hujan turun dan sedang sendirian, aku terkenang kepada Anatolia. Gadis kecil berusia enam tahun itu adalah putri seorang perempuan muda berwajah cantik. Zaitun namanya. Mereka tinggal di rumah sewaan yang bagus, beberapa meter di depan rumahku. Di rumah itu tidak ada lelaki yang tinggal menetap. Sopir yang mengantar-jemput Anatolia datang pagi, pulang sore. Ayah Si Anatolia tak pernah menampakkan batang hidungnya. Kini, rumah itu sunyi.

Sepanjang siang hari Minggu itu Anatolia tidak muncul di rumahku. Sejak pukul sepuluh pagi, dia menghadiri pesta ulang tahun Sofia, teman sebangkunya. Sore Minggu, Anatolia diantar ke rumahku oleh Uun, si pembantu rumah tangga yang telaten dan setia. Seperti tidak sabar, Anatolia meminta kepadaku bercerita tentang hujan.

”Paman, ceritalah tentang hujan,” pintanya sekali lagi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

25 Januari 2009 at 07:28

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: