Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Juli 2008

Wanita Berpedang Samurai

with 6 comments

Perempuan itu berjalan mendekatiku sambil tangan kirinya menggenggam pangkal sarung pedang, sedang tangan kanannya mencengkeram tangkai pedang, siap menghunusnya.

Pedang yang bersarung kulit itu paling tidak sudah selama 60 tahun tergantung di dinding ruang tamu persis di atas sofa. Seingatku semenjak usiaku lima tahun sudah kulihat terpampang di situ. Bentuknya yang ramping memanjang, dengan hiasan logam keemasan di tangkainya, membuatku terkagum-kagum membayangkan betapa gagahnya orang yang menyandangnya. Almarhum ayah pernah bercerita, pedang itu hadiah dari Seigo-san, seorang serdadu Jepang sahabat ayah di zaman pendudukan Dai Nippon. Mereka bersahabat mungkin karena mempunyai kegemaran sama, yakni minum-minum sampai mabuk dan wanita.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

27 Juli 2008 at 12:10

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Dalam Hujan Hijau Friedenau

with 3 comments

Kereta yang sesaat berhenti di Stasiun Friedenau itu memang semula ingin menumpahkan aku dan 99 pasang malaikat yang ingin merayakan pernikahanmu dengan Ellen Adele, Arok. Dari Apartemen Carstennstr 25 B—tempat kita (sepasang iblis manis pemuja Mozart), menggambar percintaan ribuan kelelawar di kanvas bekas dan menciptakan komposisi kebrengsekan Berlin di gamelan sengau dan piano busuk—aku memang merayu para malaikat itu agar mau mengunjungi makamku di Waldfriedhof Zehlendorf. Tentu aku tak bisa lagi melihat tubuhku yang hingga Agustus yang biru masih disorot kamera dan asyik masyuk dalam pemotretan untuk reklame sabun bagi para perempuan uzur itu. Tentu di bawah langit Berlin yang senantiasa menyerupai bentangan kain tetoron abu-abu aku hanya mendapatkan guci abuku dililit akar dan digerogoti para cacing. Dan setelah kremasi yang indah pada Rabu tersaput salju di kuburku, aku memang tak bisa lagi merasakan teduh cemara zedar perkasa yang kini mungkin dilupakan oleh siapa pun yang berjalan tergesa-gesa mengejar kereta. Namun, sebelum menghadiri pesta pernikahanmu, aku memang perlu merasakan sihir cinta yang pernah kausepuhkan di pohon-pohon dan dedaunan penuh embun itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 Juli 2008 at 11:50

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Rumah Duka

with 14 comments

Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.

Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 Juli 2008 at 07:18

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: