Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Agustus 2008

Meisa

with 3 comments

Meisa berjalan menyusuri pematang-pematang sawah yang membentang. Langkah kakinya sangat hati-hati sekali. Pematang sawah yang dilaluinya itu terlihat agak basah. Dia tidak ingin terpeleset lalu jatuh ke kubangan lumpur seperti tiga hari yang lalu. Jatuh ke kubangan itu akan membuat pakaian putihnya menjadi rusak. Sesekali dia menghapus peluh yang keluar dari keningnya. Dan beberapa lama kemudian, hup! Dia meloncat dengan pelan. Maka sampailah kini dia di samping puskesmas yang dia tuju. Perlahan dia menarik napas. Menarik napas seperti telah terbebas dari perjalanan jauh.

Perjalanan jauh? Mungkin memang tepat. Sebab jarak tempat dia tinggal dengan puskesmas itu jika berjalan kaki membutuhkan waktu satu jam penuh. Sedangkan jika ingin menaiki kendaraan, itu teramat susah. Angkutan di sini sangat terbatas. Selain jalan yang terkadang masih sulit dilalui.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

31 Agustus 2008 at 10:23

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ratap Gadis Suayan

with 10 comments

Di mana ada kematian, di sana ada Raisya, janda beranak satu yang bibir pipihnya masih menyisakan kecantikan masa belia. Ia pasti datang meski tanpa diundang. Di dusun Suayan ini, kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan. Maka, bilamana kabar kematian dimaklumatkan, orang-orang akan bergegas menuju rumah mendiang. Begitu pula Raisya. Tapi ia tidak bakal ikut-ikutan sibuk meramu daun serai, pandan wangi dan minyak kesturi sebelum jenazah dimandikan, tidak pula memetik bunga-bunga guna ditabur di tanah makam seperti kesibukan para pelayat perempuan. Raisya hanya akan mengisi tempat yang telah tersedia, di samping pembaringan mendiang, lalu meratap sejadi-jadinya, sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya.

Duduk, berdiri, melonjak-lonjak, menghentak-hentakkan kaki, berputar-putar mengelilingi jenazah sambil terus menyebut-nyebut dan memuji tabiat baik mendiang semasa hidup. Ada irama di suara tangisnya, kadang seperti melantunkan sebuah nyanyian yang memiuh-miuh ulu hati. Lagu kematian itu serasi dengan entak kakinya. Ratapan, tarian, nyanyian, bersekutu jadi satu. Remuknya perasaan tuan rumah tidak mampu menandingi dalamnya kepiluan Raisya, tukang ratap yang telah mahir menanak risau itu. Mendengar ratapannya, mungkin Raisya lebih berduka ketimbang keluarga mendiang. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya tukang ratap yang terbiasa mendulang perih rasa kehilangan di setiap kematian yang dijenguknya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Agustus 2008 at 10:37

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ngiang Kata Ibu

with 3 comments

Terdengar suara pintu digedor dari luar. Darahku mendadak naik ke ubun-ubun. Siapa sih sepagi ini ingin bertamu dengan sapaan yang kasar.

Kuintip dari balik gorden jendela nako yang segaris dengan pintu masuk. Seorang bertubuh gemuk, berkopiah, dan menyandang tas kumal melempar senyum.

Kubuka pintu.

“Ada apa ya, Pak?”

“Minta sedekah, Pak!” Aku kaget, bersambung dongkol. Suaranya keras, terdengar kasar. Tapi, ia tampak tetap tersenyum. Melihat tubuhnya, menurutku, tak pantas ia jadi pengemis.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

10 Agustus 2008 at 09:26

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Berburu Beruang

with 10 comments

Aku dikagetkan oleh suara batu yang dilempar ke pinggir kolam, di samping tempatku duduk mencangkung mengamati ikan-ikan. Aku menoleh ke belakang, dan melihat Mas Burhan tersenyum lebar. Akhirnya, ia bangun juga dari tidurnya. Tanpa basa-basi, bahkan setelah lama tidak jumpa, dari mulutnya keluar kalimat tantangan, “Kamu mau berburu hiu atau berburu beruang?”

Aku diam sejenak, lalu menjawab, “Kita berburu beruang saja.”

“Ah, kalau gitu, tunggu apa lagi! Bikinlah tombak untuk dua orang, aku mau cuci muka dulu!”

Mas Burhan segera pergi ke belakang gubuk, tempat ia tadi terlelap tidur, menuju pancuran air untuk mencuci muka. Aku segera bangkit dengan agak malas, mengambil parang yang terselip di dinding gubuk, lalu mencari dua batang bambu, membuat dua tombak tajam. Begitu tombak jadi, kulempar satu tombak ke arah Mas Burhan. Segera, kami bergerak memasuki rimbun pohon pisang dan gerumbul bambu, berburu beruang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 Agustus 2008 at 12:08

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: