Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Juni 2004

Ombak Berdansa di Liquisa

with one comment

Ombak berdansa di Pantai Liquisa. Lidah-lidahnya menari dalam gemuruh hujan yang mengguyur pepohonan di sepanjang pesisir. Dan, dalam cuaca dingin malam Minggu berkabut, di dalam sebuah gedung sederhana di tepi pantai, orang-orang berdansa dalam hentakan musik disko.

Ayo! Kalau tidak berdansa kau belum ke Liquisa,” seorang lelaki berkata sambil menarik tangan perempuan yang duduk di depan bar. Kota pantai di barat daya Dili, Timor Timur, ini memang dikenal dengan masyarakatnya yang suka berpesta, dan inilah sisa budaya yang ditinggalkan penjajah Portugis.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

27 Juni 2004 at 10:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tamu

leave a comment »

Januari 1965.

Tahun itu, aku berusia delapan tahun, dan namaku Dara. Aku punya dua adik laki-laki, yang menurut Mama harus lebih diperhatikan karena mereka masih kecil (sepulang sekolah aku harus ikut menjaganya). Sementara Mama merawat anggrek, yang bergelantungan di pohon belakang rumah. (Mama berharap anggrek ini, kelak bisa menambah biaya sekolah kami. Menurut Mama, Papa cuma pegawai negeri sipil yang gajinya hanya cukup untuk sebulan).

Ada sisi lain sepulang dari kerja, Papa cuma mengganti-ganti gelombang radio dan berkata dengan sangat kesal, “Brengsek siaran radio apa ini, mendengar musik Elvis dan The Beatles dilarang. Padahal, aku tidak suka dengan siaran di radio itu, yang isinya cuma propaganda.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

20 Juni 2004 at 10:08

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Laki-laki yang Tersedu

with 2 comments

Ada sebuah peristiwa di mana aku tahu, semenjak itu terjadi, aku tidak akan lagi menemukan sebuah pagi yang membahagiakan. Peristiwa itu menggenapi rentetan peristiwa sebelumnya, menyempurnakannya dalam satu rumus kesedihan yang tidak terelakkan. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada rumah yang hangat. Tidak ada anak-anak yang berteriak girang dan sehat. Tidak ada seorang laki-laki yang memelukku dari belakang, mencium punggungku, dan membisikkan kalimat sayang.

Aku tumbuh nyaris tanpa orangtua. Sejak kecil aku hanya hidup dengan seorang nenek yang keras kepala dan surat-surat dari jauh, kabar dari orangtuaku. Nenekku mempertahankanku sebagai cucu semata wayang untuk tidak bersama orangtuaku yang menempuh hidup di dunia yang jauh. Dunia yang jauh dari jangkauan dan alam pikir nenekku. Ia berpikir hidup adalah sesuatu yang bisa diteruskan. Ia, nenekku, berharap aku adalah sosok yang bisa meneruskan kehidupannya. Kehidupan yang tidak bisa kumengerti.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 Juni 2004 at 10:16

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Biji Mata untuk Seorang Lelaki

leave a comment »

Lelaki itu samar-samar melihat seraut wajah yang hanya memiliki bibir dan hidung. Ia memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Bibir itu tersenyum. Tapi tarikan di ujung bibir terlalu dalam sehingga senyuman itu terlihat seperti sedang mengejek. Sinis. Dan seolah tak ingin diamati, tiba-tiba wajah itu berubah menjadi kecil, semakin kecil, bertambah kecil lagi…, hingga menjadi satu biji mata yang kemudian meloncat dan menempel di dinding!

Lelaki itu tersentak dari lelap tidurnya. Mimpi aneh itu memaksanya untuk bangun dan duduk bersila di atas tempat tidurnya. Sambil menopangkan dagu di atas lengannya, ia membuka kelopak mata. Sesaat ia terperanjat. Matanya bertabrakan dengan satu biji mata di dinding! Lalu ia memejamkan mata kembali sambil menarik nafas panjang. “Tak mungkin! Tak mungkin!” gumamnya berulang kali. Dengan mata yang masih terpejam, ia mengeleng-gelengkan kepala beberapa kali, berusaha menghalau mimpi yang mungkin masih tersisa di benaknya. Setelah membuka mata kembali, bibirnya tersenyum. Mimpi itu telah berlalu, katanya dalam hati. Lalu ia merebahkan tubuhnya sambil menghembuskan nafas lega. Tapi sebelum hembusan nafas lega itu berakhir, matanya terbelalak. Ada satu biji mata di langit-langit! Ia segera bangkit dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamar tidurnya. Sambil berjalan, ia menoleh ke belakang beberapa kali. Menatap percaya!

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 Juni 2004 at 10:18

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: