Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Harris Effendi Thahar

Anak Panah

with 6 comments

Untuk yang kesekian kalinya Nyonya Rakusni menanyakan tentang kemajuan studi Agus di Bandung, putra Anisah, ketika Anisah menerima beberapa liter beras untuk jasa mencuci pakaian. Anisah yang kelihatan lebih tua dari usianya itu tampak begitu gelisah.

Perasaan, sudah hampir tujuh tahun. Biasanya, empat atau lima tahunan harus sudah lulus. Putri saya si Mira saja yang baru tiga tahun, sudah mulai skripsi tuh,” tutur Nyonya Rakusni dengan lobang hidung mengembang.

Anisah hanya menunduk dan pamit segera. Suaminya yang sakit-sakitan sudah lama menanti kedatangannya membawa beras untuk makan siang yang sudah begitu terlambat. Hatinya gundah. Mendung di pelupuk matanya seperti hendak tumpah.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 Agustus 2006 at 01:25

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Arwana

with one comment

Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar, berputar-putar dengan gagahnya. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh, tapi meyakinkan keganasannya. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu, seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu.

Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa, dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar, duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. Tak lama, terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. Ajudan setengah berlari membuka pintu, masuk, dan menutup kembali. Beberapa detik, ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu.

”Pak Muis, SH dan rombongan, dipersilakan,” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

26 Februari 2006 at 08:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Persahabatan Sunyi

with 3 comments

Di sebuah jembatan penyeberangan tak beratap, matahari menantang garang di langit Jakarta yang berselimut karbon dioksida. Orang-orang melintas dalam gegas bersimbah peluh diliputi lautan udara bermuatan asap knalpot. Lelaki setengah umur itu masih duduk di situ, bersandarkan pagar pipa-pipa besi, persis di tengah jembatan. Menekurkan kepala yang dibungkus topi pandan kumal serta tubuh dibalut busana serba dekil, tenggorok di atas lembaran kardus bekas air kemasan. Di depannya sebuah kaleng peot, nyaris kosong dari uang receh logam pecahan terkecil yang masih berlaku. Dan, di bawah jembatan, mengalir kendaraan bermotor dengan derasnya jika di persimpangan tak jauh dari jembatan itu berlampu hijau. Sebaliknya, arus lalu lintas itu mendadak sontak berdesakan bagai segerombolan domba yang terkejut oleh auman macan, ketika lampu tiba-tiba berwarna merah.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 November 2004 at 09:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: