Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for November 2009

Hantu Nancy

with 65 comments

Kebon Sawah dipaksa mengingat, pernah di salon itu, duduk di depan meja rias dan menemukan bayanganmu sendiri artinya kamu akan segera ditangani. Nancy akan menghampirimu, berdiri di belakangmu, embus napasnya lembut mencapai tengkukmu. Setelah Nancy mati, Zulfikar masih duduk di sana, menunggu embus napas mencapai tengkuknya sebab yakin gilirannya pasti.

Pasti sebab pembantaian Nancy terlalu mengerikan, kematiannya terlalu keji. Lima orang memberangusnya, mengikatnya di kursi tempat pelanggan salon biasanya duduk. Dari kursi itu Nancy bisa menemukan bayangannya sendiri. Sehari-hari cermin di hadapannya biasa memantulkan berangsur wajah para pelanggan menuju kecantikan, malam itu berangsur wajahnya menuju kematian. Dua di antara lima pemberangus mencukur rambutnya serampangan. Satu yang lain menyumpalkan potongan-potongan rambut ke mulut Nancy dan satu terakhir sekadar menutup hidungnya. Nancy sempat kelojotan, sebentar. Ketika rambut di kepalanya habis, Nancy mampus. Bedah otopsi kemudian membuktikan bahwa Nancy kehabisan napas, versi yang lebih simpatik akan lebih menggarisbawahi kemungkinan Nancy mati karena tak sanggup melihat wajahnya sedemikan buruk. Tersumpal rambut, mulutnya terbuka lebar, seperti terbahak. Rautnya merot-perot, matanya melotot, nyalang dan ngeri. Zulfikar, pemberangus kelima, di pojokan, gemetaran. Melihat bangkai Nancy, penyesalan Zulfikar tak tertanggungkan. Seribu kali kematiannya tak mungkin impas mengganti sekali kematian Nancy.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

29 November 2009 at 19:09

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Suatu Pertemuan

with 12 comments

Kami duduk berhadap-hadapan di dalam sudako—angkutan kota berwarna kuning—yang melintasi Jalan Sisingamangaraja XII Medan. Dia membisu, asyik membaca majalah wanita yang taksiranku baru dibeli. Masih wangi kertas dari percetakan.

Aku mencoba-coba mengingat siapa dia, tersebab ada gelenyar di dada, bahwa dia seperti pernah bersua denganku sewaktu kuliah di UISU, universitas swasta tertua di Medan. Hmm, siapa dia? Kenapa dia sangat dingin, meski berulang- ulang sejak dari Terminal Sambu aku mencoba menarik perhatiannya? Ketika kutarik rokok jambu bol yang kubawa dari Palembang, lalu mengisapnya setelah nyalanya bergemeretek, dia acuh. Termasuk saat aku mencoba membuarkan asap ke wajahnya yang menyisakan kecantikan di lima belas atau dua puluhan tahun lalu. Hmm, perempuan yang dingin!

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 November 2009 at 12:24

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Phantasmagoria

with 8 comments

Phantasmagoria

Phantasmagoria adalah berbaurnya rentetan gambar, citra, figur-figur yang menipu penglihatan, sampai kita susah membedakan mana nyata mana tidak nyata. Tanata berdiri di pinggir jalan di depan rentetan toko-toko, kafe, butik, melihat bayangannya sendiri terpantul membaur dengan manekin, benda-benda, dan huruf-huruf besar yang melekat di kaca etalase. Ia terpesona.

Sekedar mengingatkan: Walter Benjamin juga pernah tertegun melihat citraan bayang-bayang yang berbaur dengan kenyataan seperti itu di Paris. Seperti sebuah mimpi-phantasmagoria meminjam istilah filsuf Jerman mazhab Frankfurt itu.

Bagaimana seorang terjebak dalam phantasmagoria?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 November 2009 at 10:43

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Laila

with 24 comments

laila

Menangis tidak selamanya tanda kelemahan. Tapi istri saya tidak bisa menafsirkan lain, ketika melihat kucur air mata Laila.

”Ada apa lagi Laila,” tanya istri saya. ”Kok nangis seperti sinetron, kapan habisnya?”

Tangis Laila bukannya berhenti, malah tambah menjadi-jadi. Saya cepat memberi kode rahasia supaya interogasi itu jangan dilanjutkan. Besar kemungkinan, itu taktik minta gaji naik.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

8 November 2009 at 07:52

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pengantar Tidur Panjang

with 29 comments

pengantartidurpanjang

Aku muncul di rumah menjelang subuh. Tak berapa lama kemudian adik perempuanku juga muncul. Ia membuka pintu sambil menangis, ”Bapak sudah meninggal?”

”Belum,” kataku.

”Kata dokter sudah.”

Setelah melihat Bapak masih hidup, meski hanya berbaring tanpa bisa bergerak, tangisnya reda. Adikku bilang, setelah menerima telepon dari Ibu untuk pulang, ia mampir dulu ke pusat kesehatan di kampusnya untuk memeriksa matanya yang gatal. Apa yang dikatakan Ibu kepadanya persis seperti yang kudengar: kalau sempat, kamu pulang, kata perawat yang mengurusnya, ginjal Bapak sudah tidak berfungsi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 November 2009 at 07:37

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: