Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Agustus 2011

“Pakiah” dari Pariangan

with 25 comments

Bagi orang-orang di kampung itu, cerita tentang pakiah sudah jadi masa lalu. Ia tertinggal dalam surau-surau tua, di tebal debu kitab-kitab kuning yang berhampar-serak, dalam bilik-bilik garin yang daun-daun pintunya telah somplak.

Bagi orang-orang yang datang ke kampung itu, ia akan didengar dari mulut orang-orang tua atau tukang cerita, berbaur-biluh dengan kisah para pendekar yang dalam bahasa mereka disebut pandeka.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

28 Agustus 2011 at 10:24

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Lukisan Kematian

with 43 comments

Di kampung kami ada seorang pelukis yang unik. Dia hanya akan melukis wajah manusia yang telah sampai pada ajalnya. Orang kampung kami menyebut lukisannya: lukisan kematian. Ada juga yang menyebutnya: lukisan keabadian. Ada juga yang menyebutnya: lukisan kenangan. Sedang aku lebih suka menyebutnya: lukisan misteri kematian.

Dua hari yang lalu, seorang perempuan setengah baya memintanya membuat lukisan seorang lelaki yang sudah cukup tua, berkumis tebal, mengenakan kopiah warna hitam dengan ornamen tambahan yang mengantarnya menemui ajalnya. Ornamen itu berupa sebuah mobil yang ringsek sebab tertabrak truk tronton. Mobil itu berdiri gagah di samping lelaki yang tampak sedang tersenyum kecut. Senyum yang seolah-olah telah memisahkannya dengan perempuan setengah baya itu: istrinya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 Agustus 2011 at 09:14

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Hujan yang Indah

with 40 comments

Jika Anda orang yang menyukai hujan, datanglah ke kotaku. Di sini dapat Anda saksikan hujan yang indah bak lukisan.

Aku tidak bohong. Di sini hujan turun seperti gadis kecil yang pemalu, tetapi selalu riang. Kadang kala kubayangkan hujan mengetuk-ngetuk bumi dengan kaki-kaki gadis kecil yang menari kian kemari. Aspal, trotoar, dan pepohonan basah tapi ceria turut menari bersama.

Di sini hujan sering turun dan, uniknya, hampir selalu hanya berupa gerimis. Sesekali saja terjadi hujan lebat dengan angin ribut atau geledek membentak-bentak di angkasa.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

14 Agustus 2011 at 05:20

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Terbukalah

with 19 comments

Dalam diam aku duduk di taman ini. Di kursi yang sama tempat kencan kita pertama. Saat itu aku memakai celana jins berwarna abu-abu pudar, dan kaus berlengan panjang warna putih. Kau, waktu itu mengenakan celana jins biru tua dengan kaus berlengan pendek warna abu-abu. Kita duduk bersisian, saling bergenggaman tangan. Perlahan, kusandarkan kepalaku di bahu kirimu. Pandangan kita sama, mengarah ke depan ke beberapa remaja yang sedang bermain basket. Perlahan kau menundukkan kepalamu dan mengecup kuat keningku. Dan mengalirlah cerita tentang keluargamu.

Kau, tidak bercerita tentang dirimu. Kau, bercerita tentang ibumu. Kedekatanmu dengan ibu yang melebihi kedekatan dengan ayah. Bahkan hanya kau satu-satunya yang ibumu minta untuk meneteskan obat ke telinganya yang sedang sakit. Hanya pada dirimulah ibumu meminta diantar ke dokter, bukan kepada adikmu atau ayahmu. Keluargamu adalah dua kubu yang terpisah. Kau dan ibumu, adikmu dan ayahmu. Namun, kalian tetap baik-baik saja. Kalian telah terbiasa hidup seperti itu. Terbiasa dengan pertengkaran-pertengkaran kecil yang selesai dengan sendirinya. Manusia memang seperti itu, kataku. Kita hidup karena terbiasa. Kita membenci kemacetan jalan raya tapi tetap menerimanya. Karena itu bagian hidup kita. Kau terdiam seolah mengiyakan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

7 Agustus 2011 at 22:31

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: