Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Tukang Pijat Keliling

with 45 comments


Sebenarnya tidak ada keistimewaan khusus mengenai keahlian Darko dalam memijat. Standar tukang pijat pada layaknya. Namun, keramahannya yang mengalir menambah daya pikat tersendiri. Kami menemukan ketenangan di wajahnya yang membuat kami senantiasa merasa dekat. Mungkin oleh sebab itu kami terus membicarakannya.

Entah darimana asalnya, tiada seorang warga pun yang tahu. Tiba-tiba saja datang ke kampung kami dengan pakaian tampak lusuh. Kami sempat menganggap dia adalah pengemis yang diutus kitab suci. Dia bertubuh jangkung tetapi terkesan membungkuk, barangkali karena usia. Peci melingkar di kepala. Jenggot lebat mengitari wajah. Tanpa mengenakan kacamata, membuat matanya yang hampa terlihat lebih suram, dia menawarkan pijatan dari rumah ke rumah. Kami melihat mata yang bagai selalu ingin memejam, hanya selapis putih yang terlihat.

Kami pun penasaran ingin merasakan pijatannya. Maklum, tak ada tukang pijat di kampung kami, apalagi yang keliling. Biasanya kami saling pijat memijat dengan istri di rumah masing- masing, itu pun hanya sekadarnya. Kami harus menuju ke dukun pijat di kampung sebelah bila ingin merasakan pijatan yang sungguh-sungguh atau mengurut tangan kaki kami yang terkilir.

Hampir kebanyakan warga di kampung kami ini adalah buruh tani. Hanya beberapa orang yang memiliki sawah, dapat dihitung dengan ingatan. Setiap hari kami harus menumpahkan tenaga di ladang. Dapat dibayangkan keletihan kami bila malam menjelang. Tentulah kehadiran Darko membuat kampung kami lebih menggeliat, makin bergairah.

Setiap malam, dengan membawa minyak urut, dia menyusur dari gang ke gang kampung guna menjemput pelanggan. Kakinya bagai digerakkan tanah, dia begitu saja melangkah tanpa bantuan tongkat. Tidak pernah menabrak pohon atau jatuh ke sungai. Memang, tangannya kerap meraba-raba udara ketika melangkah, seperti sedang menatap keadaan. Barangkali penglihatan Darko terletak di telapak tangannya.

Dia akan berhenti ketika seseorang memanggilnya. Melayani pelanggannya dengan tulus dan sama rata, tanpa pernah memandang suatu apa pun. Serta yang membuat kami semakin hormat, tidak pernah sekali pun dia mematok harga. Dengan biaya murah, bahkan terkadang hanya dengan mengganti sepiring nasi dan teh panas, kami bisa mendapatkan kenikmatan pijat yang tiada tara. Kami menikmati bagaimana tangannya menekan lembut tiap jengkal tubuh kami. Kami merasakan urat syaraf kami yang perlahan melepaskan kepenatan bagai menemukan kesegaran baru setelah seharian ditimpa kelelahan. Pantaslah bila terkadang ada pelanggan yang tertidur saat sedang dipijat.

Selain itu, Darko memiliki pembawaan sikap yang ramah, tidak mengherankan bila orang- orang kampung segera merasa akrab dengan dirinya. Dia suka pula menceritakan kisah lucu di sela pijatannya. Meskipun begitu, kami tetap tidak tahu asal usulnya dengan jelas. Bila kami menanyakannya, dia selalu mengatakan bahwa dirinya berasal dari kampung yang jauh di kaki gunung.

Kemudian kami ketahui, bila malam hampir tandas, Darko kembali ke tempat pemakaman di ujung kampung. Di antara sawah-sawah melintang. Sebuah tempat pemakaman yang muram, menegaskan keterasingan. Di sana terdapat sebuah gubuk yang menyimpan keranda, gentong, serta peralatan penguburan lain yang tentu saja kotor sebab hanya diperlukan bila ada warga meninggal. Di keranda itulah Darko tidur, memimpikan apa saja. Dia selalu mensyukuri mimpi, meskipun percaya mimpi tak akan mengubah apa-apa. Sudah berhari-hari dia tinggal di sana. Tak dapat kami bayangkan bagaimana aroma mayit yang membubung ke udara lewat tengah malam, menggenang di dadanya, menyesakkan pernapasan.

Kami lantas menyarankan supaya menginap di masjid saja. Namun dia tolak. Katanya kini masjid sedang berada di ujung tanduk. Entahlah, dia lebih memilih tinggal di pemakaman, membersihkan kuburan siapa saja.

Seminggu kemudian orang- orang kampung gusar. Pak Lurah mengumumkan bahwa masjid kampung satu-satunya yang berada di jalan utama, akan segera dipindah ke permukiman berimpitan rumah-rumah warga dengan alasan agar kami lebih dekat menjangkaunya. Supaya masjid senantiasa dipenuhi jemaah.

Namun, berhamburan kabar Pak Lurah akan mengorbankan tanah masjid dan sekitarnya ini kepada orang kota untuk sebuah proyek pasar masuk kampung. Tentu saja merupakan tempat yang strategis daripada di pelosok permukiman, harus melewati gang yang meliuk- liuk dan becek seperti garis nasib kami.

Di saat seperti itu kami justru teringat Darko. Ucapannya terngiang kembali, mengendap ke telinga kami bagai datang dari keterasingan yang kelam. Kami mulai bertanya-tanya. Adakah Darko memang sudah mengetahui segala yang akan terjadi? Sejauh ini kami hanya saling memendam di dalam hati masing- masing tentang dugaan bahwa Darko memiliki kejelian menangkap hari lusa.

Namun diam-diam ketika sedang dipijat, Kurit, seorang warga kampung yang terkenal suka ceplas-ceplos, meminta Darko meramalkan nasibnya. Darko hanya tersenyum sambil gelengkan kepala berkali-kali isyarat kerendahan hati, seakan berkata bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa selain memijat. Namun Kurit terus mendesak. Akhirnya seusai memijat, Darko pun menuruti permintaannya.

Dengan sikap yang tenang dia mulai mengusap telapak tangan Kurit, menatapnya dengan mata terpejam, kemudian berkata; Telapak tangan adalah pertemuan antara kesedihan dan kebahagiaan. Entahlah apa maksudnya, Kurit kali ini hanya diam saja, mendengarkan dengan takzim.

”Ada kekuatan tersimpan di telapak tanganmu.”

Kurit serius menyimaknya masih dalam keadaan berbaring.

”Tetap dirawat pertanianmu, rezeki akan terus membuntuti,” tambahnya.

Kurit mengangguk, masih tanpa ucap.

Setelah merasa tak ada lagi sesuatu yang harus dikerjakan, Darko permisi. Berjalan kembali menapaki malam yang lengang. Langkahnya begitu jelas terdengar, gesekan telapak kakinya pada tanah menimbulkan bunyi yang gemetar. Sementara Kurit terus menyimpan ucapan Darko, berharap akan menjadi kenyataan.

***

Siang hari. Darko selalu duduk berlama-lama di celah gundukan-gundukan tanah yang berjajar. Seperti sedang merasakan udara yang semilir di bawah pohon-pohon tua. Menangkap suara burung-burung yang melengking di kejauhan. Menikmati aroma semak-semak. Mulutnya bergerak, seperti sedang merapalkan doa. Mungkin dia mendoakan mereka yang di alam kubur sana. Dan bila ada warga meninggal, Darko kerap membantu para penggali kubur. Meski sekadar mengambil air dari sumur, supaya tanah lebih mudah digali.

Begitulah, saat siang hari kami tak pernah melihat Darko keliling kampung. Barangkali dia lebih memilih menyepi dalam hening pemakaman. Ada saja sesuatu yang dia kerjakan. Bahkan yang mungkin tidak begitu penting sekalipun. Mencabuti rerumputan liar di permukaan tanah makam, mengumpulkan dedaunan yang berserakan dengan sapu lidi lalu membakarnya. Padahal, lihatlah betapa daun-daun tidak akan pernah berhenti menciumi bumi. Dia begitu tangkas melakukan itu semua, seakan memang tak pernah ada masalah dengan penglihatannya.

Kurit membenarkan ucapan Darko. Bawang merah yang dipanennya kini lebih besar dan segar daripada hasil panen sebelumnya. Bertepatan dengan naiknya harga bawang yang memang tak menentu. Dengan meluap-luap Kurit menceritakan kejelian Darko membaca nasib seseorang kepada siapa saja yang dijumpainya. Kabar tentang ramalannya pun bagai udara, beredar di perkampungan.

Kini hampir setiap malam selalu saja ada yang membutuhkan jasanya. Para perempuan, yang biasanya lebih menyukai pijatan suami, mulai menunggu giliran. Entah karena memang butuh mengendorkan otot yang tegang atau sekadar ingin mengetahui ramalannya. Mungkin dua-duanya. Bila kebetulan kami menjumpainya di jalan dan minta diramal tanpa pijat sebelumnya, Darko tidak akan bersedia melakukannya. Katanya, dia hanya menawarkan jasa pijat, bukan ramalan.

Di warung wedang jahe, orang-orang terus membicarakannya. Mereka saling menceritakan ramalan masing-masing.

”Akan datang kepadaku putri kecil pembawa rezeki.”

”Eh, dia juga bilang, sebentar lagi akan habis masa penantianku,” kata perempuan pemilik warung dengan nada berbunga- bunga. Ia hampir layu menunggu lamaran.

”Dia menyarankan supaya aku beternak ayam saja,” seseorang menambahi.

Begitulah, dengan sangat berkobar-kobar kami menceritakan ramalan masing-masing. Setiap lamunan kami habiskan untuk berharap. Menunggu dengan keyakinan mengucur seperti curah keringat kami yang terus menetes sepanjang hari.

Sungguh tak dapat kami pungkiri. Tak dapat kami sangkal, segalanya benar-benar terjadi. Talim dianugerahi bayi perempuan yang sehat dari rahim istrinya. Tak lama jelang itu, Surtini si perawan tua menerima lamaran seorang duda dari kampung sebelah. Sementara Tasrip bergembira mendapati ternak ayamnya gemuk dan lincah. Disusul dengan kejadian-kejadian serupa.

Kejelian Darko dalam meramal semakin diyakini orang- orang kampung. Ketepatannya membaca nasib seperti seorang petani memahami gerak musim-musim. Pak Lurah pun merasa terusik mendengar kabar yang dari hari ke hari semakin meluap itu. Ia sebelumnya memang belum pernah merasakan pijatan Darko. Ia lebih memilih pijat ke kampung sebelah yang bersertifikat, menurutnya lebih pantas dipercayai.

Malam itu diam-diam Pak Lurah memanggil Darko ke rumahnya. Seusai dipijat, dengan suara penuh wibawa ia meminta diramalkannya nomer togel yang akan keluar besok malam. Seperti biasa, Darko hanya menggeleng sambil tersenyum. Namun Pak Lurah terus mendesak, bahkan sedikit memohon. Darko diam beberapa jenak. Kemudian, dengan sangat terang dia pun menyebutkan angka sejumlah empat kali diikuti gerak jari- jari tangannya. Kali ini Pak Lurah yang tersenyum, gembira melintasi raut mukanya.

Seperti biasa, setelah merasa tidak ada sesuatu yang harus dikerjakan, Darko permisi. Membiarkan tubuhnya diterpa angin malam yang lembab.

***

Orang-orang kampung kini mulai gelisah. Sudah dua malam kami tidak menjumpai Darko keliling kampung. Kami hanya bisa menduga dengan kemungkinan-kemungkinan. Sementara Pak Lurah kian geram, merasa dilecehkan. Mendapati nomer togel pemberiannya tak kunjung tembus. Esoknya, di suatu Jumat yang cerah, Pak Lurah mengumpulkan beberapa warga—terutama yang lelaki—guna memindahkan perlengkapan penguburan ke tengah permukiman. Katanya, tanah kuburan semakin sesak, membutuhkan lahan luang yang lebih.

Sesampainya di sana, kami tetap tidak menjumpai Darko. Di gubuk itu, kami tidak juga menemukan jejak peninggalannya. Dengan memendam perasaan getir kami merobohkan tempat tinggalnya. Dalam hati kami masih sempat bertanya. Adakah Darko memang sudah mengetahui segala yang akan terjadi?

KamarMalas, Januari 2012

Written by tukang kliping

1 Juli 2012 pada 11:08

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

45 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ada apa dgn pak lurah? pemindaham pekuburan? darto?

    andisumarkarman

    4 Juli 2012 at 06:14

  2. Lurah…pemimpin yg tidak punya hati, hanya mementingkan diri sendiri….seharusnya memikirkan tempat bermukim orang hidup, bukan sebaliknya…..Namun di Indonesia ini masih ada kok Lurah yg tidak demikian….

    Agustinus

    4 Juli 2012 at 08:53

  3. ceritanya sangat menarik. dari awal membaca penasaran ingin tahu kelanjutan dari kisahnya..

    anggraeni tina

    4 Juli 2012 at 12:56

  4. Ah, tukang pijat tidak butuh sertifikat. Ketika dia bisa membuat pelanggannya ketagihan, itu adalah reputasi.

    HeruLS

    4 Juli 2012 at 23:26

  5. cerdas, kurang bernas !

    roel

    5 Juli 2012 at 09:43

  6. enak dibaca style-nya kayak cerpen-cerpennya ahmad tohari

    mas sono

    6 Juli 2012 at 21:34

  7. Selalu diakhir cerita ada tanda ty,..

    betri

    6 Juli 2012 at 23:36

  8. Ini penulisnya siapa?

    Anggun

    7 Juli 2012 at 10:12

    • ini anonim
      tanpa penulis

      kevin

      29 Juli 2012 at 11:20

  9. Reblogged this on Mine and Yours.

    ikhsanrr

    8 Juli 2012 at 07:55

  10. Kalimat terakhir cerpen ini bagusnya: “Kecuali nomor togel.”

    Uum G. Karyanto

    8 Juli 2012 at 10:59

  11. Enak dibacanya….cuma akhirnya gitu doang yak…kayak nggantung…..

    Desy

    8 Juli 2012 at 23:26

  12. Endingnya menggantung, dan yg agak mengganggu kenapa lurah nanya nomor togel, bukannya ngincar jadi camat atau bupati

    Andri Cieunteung

    9 Juli 2012 at 08:14

  13. bagus ceritanya,, tapi kurang klimaks menurutku

    tri

    9 Juli 2012 at 11:52

  14. Cerita yang mengalir..
    Tapi kok serasa kurang,,pengen tau kedalaman tokoh darko..

    heru kelana

    12 Juli 2012 at 09:56

  15. ceritanya belum tuntas nih..

    yuri

    17 Juli 2012 at 23:19

  16. membaca komen2 di atas, cerita ini sangat behasil, 2 jempol untuk anda.

    Wtoto

    24 Juli 2012 at 14:14

  17. bagus, pengen tau kelanjutan ceritanya darko dan pak lurah kenapa? w rasa angka itu angka kematiannya pak lurah. hehe

    Muhamad Ramlan

    27 Juli 2012 at 16:53

  18. kemana darko? bener2 darko ini adalah lakon ihlas dalam cerita yang culas.
    di kenyataan atau tidak pejabatnya sama aja bobrok moral, kacau dah bangsaku.

    ef suma

    2 Agustus 2012 at 15:05

  19. Servis dari hati memang gak ada yang mengimbangi. Darko-nya kayak sesepuh misterius, lanjut dong.

    Noke

    12 Agustus 2012 at 23:25

  20. ada yang tau ini sudut pandang apa? seperti orang pertamka(kami) tp sepertinya kami gak ngapa2in…

    LEOSESEORANG

    26 Agustus 2012 at 21:12

  21. […] dengan 23 komentar           […]

  22. pak lurah gaul.

    hapex

    13 September 2012 at 14:18

    • Hahaha

      dimas

      21 Agustus 2015 at 07:33

  23. sederhana. sedikit kata kias, namun istimewa. sedep ah. bacanya pun gak lelah🙂

    Agung

    21 September 2012 at 17:20

  24. bagus tuh ceritanya,
    tpi mengapa lurah nanya no togel.
    ga tanya yg laen

    ipank

    18 November 2012 at 11:35

  25. hmmmmm aku cuma bilang waw luar biasa…..

    rijal gayo

    24 November 2012 at 22:01

  26. bagus

    nasir

    8 Desember 2012 at 09:43

  27. bikin penasaran endingnya, keren🙂

  28. tolong dong unsur instrinsiknya

    Muhammad

    27 Maret 2013 at 17:56

  29. Unsur intrinsik ya pleaseee

    Nadya

    30 Maret 2013 at 20:16

  30. keren bangeeet…. kesedihan yg sangat mendalam, sampai tdk bs diungkapkan lg dg kata dan air mata.

    DUNIA FHASION PRIA

    23 April 2013 at 21:25

  31. berbekal keahlian yang bukan sebenarnya.

    hipnoterapi surabaya

    24 Juli 2013 at 14:37

  32. gambarnya jorok-jorok ah, tidak berpendidikan… banyak yang saru! Tukang pijat kok gambarnya gitu?!

    Bunda Lucu

    18 Agustus 2013 at 18:37

  33. mengalir… enak dibaca dan meninggalkan tanya…..

    yeti wulandari

    1 Februari 2014 at 13:44

  34. tokoh pak lurah yang antagonis, dan kecemasan darko kurang dikupas..

  35. jadi, kemana si pak Darko?

    Muhammed Bagus Dwianto

    29 April 2014 at 20:30

  36. darko kembali ke alamnya

    Asrof Sip

    16 Mei 2014 at 15:12

  37. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 01:58

  38. mana unsur intrinsiknya??!!!

    shafwan

    6 April 2015 at 20:32

  39. wow kereeen

    Chafid Ahmad

    7 April 2015 at 09:35


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: