Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Oktober 2006

Jas, Tongkat dan Kesunyian

leave a comment »

Laki-laki tua itu berjalan terbungkuk-bungkuk, diiringi derai suara batuk. Dengan tongkatnya, ia menyusuri jalanan desa Tawang Abang. Jas potongan kuno yang riuh dengan hiasan pangkat-pangkat telah lekat di badan karena cucuran keringat. Di dekat gedung sekolah, ia berhenti melepas lelah. Bagi anak-anak, kehadiran laki-laki itu selalu dianggap aneh dan merangsang untuk digoda.

“Mbah Jagal… siapa lagi yang mau kamu sembelih?” teriak si Gendut.

“Katanya tukang jagal, kok tidak bawa pedang?” sahut si Gundul.

“Pembunuh jelek!” teriak si Jegrak.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

29 Oktober 2006 at 15:29

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Malaikat Tanah Asal

with one comment

Ketika jendela surga dibuka, ketika pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu, seorang malaikat yang lahir dan tumbuh dari doa serampangan perempuan kencur yang dianggap gila, sekali waktu akan merindukan tanah asal yang kabur. Tanpa sayap, dia akan menumpang kereta, menyusuri rel dan pelacur, menatap kabut dan maut, dan menceracau tentang hutan yang gaduh.

Lalu setelah sampai di stasiun—biasanya pada akhir Ramadan yang sarat debu—ia akan terbang ke kota sejuk penuh bunga, berhenti di batas desa, dan mencoba menggapai wajah perempuan cilik yang mengabur di sendang bening itu.

“Wahai, gadis kecilku, seharusnya kaulah yang lebih berhak menjadi penjaga jagat. Bukan aku atau sesuatu yang menyerupai waktu!” lolong malaikat itu sambil memerintahkan angin menggesek-gesekkan kesedihan di bilah seribu bambu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 Oktober 2006 at 15:30

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Gerobak

with 7 comments

Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba, gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami, seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung, atau bahkan gerobak sampah lainnya, dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan di depan. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Dari balik dinding gerobak berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut, biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil, dengan seorang bapak bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut.

Karena tidak pernah betul-betul mengamati, aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas, ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota, kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang, memasang tenda plastik, menggelar tikar, dan tidur-tiduran dengan santai. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. Apabila tanah lapang sudah penuh, mereka menginap di kaki lima, dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumah-rumah gedung bertingkat. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung kakekku.

“Kakek, siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 Oktober 2006 at 15:32

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Safrida Askariyah

leave a comment »

Mereka berteriak girang, sementara Safrida hanya melongok kepala sekilas dari jendela kamar rumoh inong. Di keudee Tengku Banta Manyang ramai sekali yang tengah menonton televisi. Bangku kayu yang berjejer di luar warung sesak dengan orang kampung.

Gaduh. Mulut-mulut beranti-anti berkomentar. Hati Safrida masih perih. Padahal sudah banyak ia membunuh serdadu pemerintahan. Ia dipuji panglima sebagai wanita perkasa. Wanita yang mewarisi semangat baja Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati—wanita yang tidak mau dijajah.

Dendam itu belum tergerus. Waktu yang bergulir tak kuasa meredam rupanya. Wanita itu sudah mencoba untuk melupa, tapi tidak bisa! Ingatan itu begitu kuat melekat di otaknya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

8 Oktober 2006 at 15:33

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Cerita tentang Orang Mati yang Tidak Mau Masuk Kubur

leave a comment »

Hampir selama 30 tahun, sepasang mata yang seakan memancarkan api kebencian itu selalu mengikuti aku pergi. Selama itu pula membuatku nyaris menjadi gila. Dengan mengikuti bimbingan seorang kiai, akhirnya aku bisa menganggap tidak ada kehadiran sepasang mata itu, meskipun masih selalu mengikuti aku.

Adanya lintang kemukus yang muncul di langit dini hari adalah benar-benar pertanda alam akan adanya pageblug. Dan 40 hari kemudian, ternyata perang saudara meledak. Tidak hanya di daerah kami, malahan di seluruh negeri, sejak terdengar berita terbantainya para jenderal di sebuah lubang sumur di pinggiran kota Jakarta.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 Oktober 2006 at 15:35

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: