Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Iyut Fitra

Jendela Tua

with 12 comments

Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan.

Sebuah jam lama di tonggak rumah gadang menunjukkan pukul delapan malam. Ibu tua itu baru saja selesai berdoa setelah sholat isya. Dengan sedikit tertatih ia berjalan menuju almanak yang tergantung di dinding. Setelah mengamati angka demi angka dalam almanak tersebut, perhatiannya beralih pada sebuah foto keluarga dengan bingkai yang lumayan besar di sisi dinding yang lain.

Ibu tua itu mengamati satu persatu foto yang terpampang tersebut. Suaminya. Dan lima orang anaknya. Tiga laki-laki dan dua orang perempuan. Entah mengapa, mereka sama-sama tersenyum saat berfoto. Ibu tua menghela nafas panjang.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

26 Oktober 2008 at 10:25

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Rumah untuk Kemenakan

with 3 comments

Di bingkai jendela rumah gadang, Kalan menatap jauh ke halaman. Gelap yang terpampang. Sebuah panorama kelam dari malam yang menerjang. Segelap hatinya yang berselimut gundah. Getir. Ngilu. Dan serasa ada sayat yang tak putus-putus membuat dadanya tak henti dari kecamuk. Pikirannya kusut.

Sebulan yang lalu, setelah percintaannya yang panjang dengan Darti, perempuan berambut lebat yang bekerja sebagai pelayan toko dengan gaji yang teramat minim, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Tak ada yang dapat mereka janjikan, sebagaimana mereka tidak bisa membuat komitmen apa-apa selain hidup yang sederhana.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

10 Februari 2008 at 08:19

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Langit Malam

with 2 comments

Detak yang lamban. Seperti kemarin juga. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Pukul dua belas tengah malam. Angin menusuk gigil. Mencucuk sumsum dan tulang. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. Menuju jantung kota kecilku, sekaligus menceburkan diri ke dalam malam. Berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku ke ruang-ruang lengang melenakan.

Kuingat kata-kata Ibu sore tadi. Di beranda tempat kami bisa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar. Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. Namun, sore kali ini menjadi lain. Setelah aku bercerita panjang, akhirnya Ibu berkata keras kepadaku seolah- olah saja ia sedang disengat kalajengking.

”Anak dendang? 1) Kau mau menikahi anak dendang? Apakah Ibu tidak salah dengar?”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

30 Oktober 2005 at 09:31

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: