Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Yanusa Nugroho

Bukit Mawar

with 36 comments

Namanya Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan ”Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum.

Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Arjuna, laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit gemetar bahwa itu pilihan ibunya. Ibunya hanya penjual bunga di makam.

”Apa ibu sampean penggemar wayang?” ada saja yang bertanya begitu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

29 April 2012 at 22:51

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Bukit Mawar

with 55 comments

Namanya Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan ”Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum.

Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Arjuna, laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit gemetar bahwa itu pilihan ibunya. Ibunya hanya penjual bunga di makam.

”Apa ibu sampean penggemar wayang?” ada saja yang bertanya begitu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 April 2012 at 20:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Salawat Dedaunan

with 66 comments

Masjid itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material.

Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah.

Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun. Mungkin saja si pembangun masjid ini dulunya berangan-angan betapa sejuknya masjid ini di siang hari karena dinaungi pohon trembesi. Mungkin saja begitu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

2 Oktober 2011 at 20:16

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Raja Kuru

with 27 comments

Lampu minyak bergoyang perlahan, tersapu angin kemarau. Apinya berkebit-kebit, bahkan pada saat tertentu nyaris padam. Malam pekat di luar sana, namun juga sepekat kabut yang menyelimuti perasaan Duryudana.

Karna. Nama itu kini seakan menambah persoalan yang dihadapinya. Dulu, hanya Arjuna yang dikhawatirkannya akan merebut Surtikanti, namun setelah dilihatnya Surtikanti agak tak acuh pada Arjuna, Duryudana agak tenteram.

Piala anggur di tangan kirinya. Rambutnya kusut. Wajahnya keruh dimainkan cahaya api minyak. ”Suruh Togog kemari.” perintahnya dingin pada penjaga ruangan.

Sang penjaga segera undur dan beberapa saat kemudian kembali bersama seorang laki-laki tua, gemuk. Laki-laki itu membawa sebuah kotak, berisi sitar.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

2 Mei 2010 at 13:23

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Bayangan Darah

with 7 comments

Bayangan DarahSetelah semua perkelahian ini, lalu apa? Setelah perseteruan ini, lantas apa? Masih adakah yang tersisa ketika kita habiskan seluruh kebencian dan sakit hati ini? Ataukah kita memang dilahirkan untuk saling bunuh? Mungkinkah kebencian adalah kehidupan kita? Dan tanpa itu, kita bahkan tak berbekas sama sekali?

Dua sosok itu termangu oleh pikiran masing-masing. Tubuh mereka menua. Napas mereka memburu, tetapi keinginan untuk saling bunuh masih saja menyala di mata mereka.

”Mengapa tak kau akhiri saja semua ini, di sini, sekarang juga…,” ucap yang satu dengan suara setengah menggeram.

”Aku pun heran, mengapa kau berlama-lama dengan urusan ini?” balas yang satunya dengan suara penuh dendam.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 Agustus 2009 at 11:01

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Blarak

with 15 comments

Aku terbangun karena daun jatuh. Dengan agak tergeragap, kusingkirkan daun kering itu dari wajahku. Kulihat wajah Mbah Tuhu cerah semringah memandangku.

Hehehe… mari pulang, sudah sore…” ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya yang tak jauh dariku berbaring. ”Dari tadi, sebetulnya saya mau membangunkan sampean, tapi… kok kelihatannya pules bener, tidak tega, saya. Eh, malah daun yang membangunkan sampean… heheheheh…”

Aku hanya tersenyum. Segar. Belum pernah aku terbangun dari tidur dengan perasaan seperti ini. Tanpa banyak bicara, kami segera menyusuri tegalan. Sepi. Serangga mulai menyanyi. Bumi mendingin dan sebentar lagi, kabut pasti turun.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

8 Februari 2009 at 09:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Hikayat Gusala

with one comment

Sebatang nyiur itu kini telah mulai menampakkan kecantikannya. Memang belum lagi setinggi anak berusia 10 tahun, namun pelepahnya yang menguning, yang sebagian masih terbungkus tapas, juga sebagian daunnya yang kuncup, mampu menyemarakkan pagi di pekarangan si pemilik. Kelak, entah 10 atau 20 tahun lagi, barulah nyiur itu mampu memberikan manfaat yang sebenarnya bagi si pemilik.

Si pemilik adalah seorang petani berkulit hitam, sebagaimana umumnya orang asli Awangga. Sosoknya cukup besar bila dibandingkan manusia biasa, dan memang dia memiliki darah raksasa, yang diperolehnya entah dari bapak, kakek atau kakek buyutnya di masa lalu. Banyak penduduk Awangga yang memiliki ciri-ciri tubuh semacam itu. Kekar, besar, pendiam dan pemalu, namun, sekaligus pekerja keras yang tenaganya seakan tak ada habis-habisnya.

Gusala, demikianlah orang memanggilnya. Mengapa dia dipanggil demikian dan siapa yang berhak menamainya demikian, dia tak tahu secara pasti. Memang, Gusala tak mengenal siapa kedua orangtuanya sejak lahir. Dia hanya tahu, tumbuh dan memiliki saudara sebanyak tujuh orang, di tengah sebuah keluarga petani. Semula dia tak mengerti, mengapa dirinya sangat berbeda dari saudara-saudara maupun kedua orangtuanya. Dia hanya sering bertanya dalam hati mengenai perbedaan itu, namun tak pernah terlintas jawaban apa pun di kepalanya. Dan Gusala pun tak pernah mempersoalkan benar, karena semua yang ada di sekelilingnya tak mempersoalkannya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 November 2008 at 12:18

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Kembang Dewaretna

leave a comment »

”Mas, ayo, sudah setengah delapan, lho…,” suara itu terdengar lembut meskipun ada nada khawatir ketika mengucapkan ajakan itu.

Laki-laki yang masih mencangkung dengan sebatang kereteknya itu menoleh sesaat. Sepasang matanya menatap perempuan yang menyapanya.

Yang ditatap merasakan kekosongan. Sepasang mata itu seperti lorong panjang dan gelap tak berlampu; seperti jalan yang dulu sering dilaluinya.

”Sampean sakit?” tanya perempuan itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

17 Februari 2008 at 22:27

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Nyanyian Klaras…

with 2 comments

Apa yang bisa kukatakan kepadamu tentang orang-orang ini. Atau lebih baik begini. Jika kau bermaksud mengukur, atau menakar, atau mengira-ira bagaimana watak mereka, kau mungkin akan kesulitan. Tak ada ukuran yang bisa kau gunakan.

Kesulitanmu itu bisa jadi karena apa yang kau saksikan adalah sesuatu yang baru dan belum pernah melintas dalam mimpimu sekalipun. Atau, bisa jadi, kau kurang “alat” untuk menentukannya.

Maaf, jangan tersinggung. Ini memang sulit. Jangankan kau, aku sendiri yang lahir dan besar di sini pun tak paham benar apa yang terjadi dengan mereka. Aku yang meminum air tanah daerah ini pun masih tak paham mengapa semua ini begitu membingungkanku.

Begini. Kebingunganku berawal ketika aku sudah mengerti apa artinya sekolah.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

25 November 2007 at 09:31

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Dinding Mawar

with one comment

Tingginya hampir tiga kali tinggiku. Membentang dari utara hingga selatan, selebar kira-kira 700 meter. Tebalnya aku tak tahu persis, karena, bahkan dari celah-celahnya saja, aku tak mampu menembus sisi lain dari bentangan ini. Dan percayalah ini memang sebuah dinding; dinding mawar.

Semuanya adalah mawar kampung, mawar yang paling kusukai, karena satu-satunya yang mampu mengharumkan alam sekitarnya. Mawar jenis lain, yang impor atau yang sudah silangan, kurang kusukai. Mengapa? Sederhana saja. Mawar-mawar itu, meskipun kelopaknya lebih besar-besar dan warnanya lebih beragam, lebih sedap dipandang mata, bagiku tak lebih seperti Mona, Ingrid, atau Mely. Cantik, tapi hanya manequin. Sempurna fisiknya, tapi tak memberiku “kehidupan” sama sekali.

Maaf bila aku membandingkan bunga dengan perempuan. Bagiku perempuan itu penting, karena dia adalah ruh bagi laki-laki. Mawar yang mampu memberiku ruh adalah mawar kampung ini. Dengan ruh yang kumiliki itu, aku memiliki tenaga luar biasa, sehingga seringkali aku menitikkan air mata, merasuki keindahan alam ini. Percayalah, itu semua karena mawar kampung ini.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 Desember 2006 at 15:13

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: