Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for November 2006

Di Sini Dingin Sekali

with 7 comments

Ibu semakin jarang berbicara. Suaranya terbenam entah di mana. Tidak ada lagi dongeng, dan tidak ada lagi candanya. Semua lenyap. Hanya kini, suara-suara keluar dari tangannya. Apa saja yang dipegangnya selalu berisik. Kadang aku mengira, gempa susulan terjadi lagi. Terutama ketika ia sedang berada di dapur.

Seperti pagi ini. Aku bangun karena suara berisik dari dapur darurat yang terletak di dekat rumpun pohon pisang. Suara air yang dimuntahkan ke panci. Suara kayu bakar yang sedang dibelah. Suara-suara juga muncul dari tangan ibu ketika memarut kelapa atau memotong sayuran. Dan yang sering sekali membuat tubuhku begitu terasa dingin, ketika air dibiarkan mendidih terlalu lama. Mengeluarkan suara yang sangat menakutkan. Bergemuruh, seperti dulu ketika gempa besar terjadi.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

26 November 2006 at 15:19

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Surga untuk Petani

with 8 comments

Seorang petani uzur, di desa kaki gunung, menghabiskan 90 tahun, seluruh hidup, untuk bercocok tanam. Ia lahir di gubuk tengah sawah, di sebelah lenguh sapi dan kotek ayam. Usia sembilan bulan ia diajak ke ladang oleh ibunya memetik cabai. Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, kawin, beranak cucu dan bercicit, ia lakoni sebagai petani. Ia sungguh-sungguh petani tulen, nyaris di sawah sepanjang pagi, sore, petang, acap kali malam, kalau menjaga air untuk mengairi sawah yang tengah disemai padi.

Suatu pagi, petani itu memetik tomat di ladang. Dengan tangan keriput, napas tersengal, ia angkat sekeranjang tomat ranum itu ke gubuk. Siang nanti cucu perempuannya akan mengambil tomat itu, dijual ke pasar esok pagi. Petani itu merasa nyaman ketika angin bertiup semilir. Ia melepas baju kausnya yang lapuk berlubang-lubang, lalu merebahkan dirinya di balai-balai, dekat sapi yang tengah asyik memamah rumput. Beberapa ekor anak ayam bertengger di pagar bambu dan cabang-cabang pohon kelor.

Ia tidur sangat lelap, terlalu lelap, sehingga tak mendengar panggilan cucunya. Ia tidak bangun ketika cucu itu menggoyang-goyangkan tubuhnya yang dingin. “Duh, Kakek meninggal!” seru cucunya tertahan berbalut sedih.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

19 November 2006 at 15:21

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sebuah Makam di Pucuk Bukit

with one comment

“Dul, bawalah aku pulang…,” sekonyong-konyong Ibu merajuk di seberang meja makan. “Kebun kelapaku…,” sambungnya menuai kata-kata. “Sudah sebulan kutinggalkan. Ilalang pasti sudah menyemak.” Bagai daun kekeringan, matanya benar-benar memohon.

Perlahan, aku menelentangkan sendok di tengah- tengah piring, menawarkan sekulum senyum, dan menyambut tatapan mata Ibu di seberang meja. Khayalku mengapung seketika. Alangkah senangnya perasaan Ibu kemarin, ketika berjalan kaki seperti beradu bahu denganku mengelilingi kompleks perumahan. Di pekarangan tetangga daun kelapa mendesau di pucuknya. Tentulah kibasan angin pagi yang menenteramkan di pucuk-pucuk daun itu yang telah membuat ingatan Ibu seperti diterbangkan kembali ke kampung halaman. “Bah ..,” cetusnya seraya menghentikan langkah saat itu. “Tak kusangka di Jawa ini ada pohon kelapa. Rendah dan lebat pula…,” katanya dengan mata terpesona.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

12 November 2006 at 15:25

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Istri

with 2 comments

“Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk mencintai dan melupakan, Nak. Sudah saatnya engkau memikirkan janji pernikahanmu yang dahulu, ’sampai kematian memisahkan’ dan kematian itu sudah terjadi. Kini saatnya bagimu untuk melupakan dia yang sudah pergi dan memikirkan masa depan anak-anakmu. Rita dan Joko memerlukan seorang ibu untuk mengasuh mereka pada masa remaja mereka. Seorang ibu yang mau mengasihi mereka dan mendampingimu.”

“Ibu, waktu setahun ter- lalu singkat untuk melupakan.”

“Kau tidak boleh larut terus di dalam duka.”

“Tidak, Bu. Pekerjaan menuntutku untuk sibuk. Itu pun, upaya untuk melupakannya. Semakin sibuk aku, semakin dalam bayang-bayang wajahnya di dalam lubuk hatiku. Ia telah menjadi bagian dari diriku, dan anak-anakku. Justru aku merasa takut untuk memberi ibu tiri bagi mereka, yang cinta kasihnya tidak sebanding dengan ibunya. Tidak ada yang salah dengan janji pernikahan itu. Kematian bukanlah berarti harus menjadi izin untuk menikah kembali, Bu.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 November 2006 at 15:27

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: