Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for April 2006

Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding

with one comment

Bulan, selaksa celurit menggantung di dinding, bilik-bilik kandang. Segaris cahaya menelusup, rebah di halaman. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang. Terang, di belakang rumah serupa gubuk, tempat tinggal Madrusin, sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin. Cericit tikus, decak cicak, krik-jangkrik, kecipak air dari padasan. Lenguh sapi menggaung, kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun, melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak; saling berpaut. Serupa tarian rombongan seronen; beriringan, menuju arena kerapan sapi.

Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut, bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. Bulan, perlahan redup, menepikan bayang. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. serupa pengembara letih; tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. Begitu pun, Madrusin. Tatap matanya lelap. Ia terdiam. Diam-diam arakan awan yang terus bergerak, bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan. Pada Asnain, calon istrinya yang telah raib. Pada Gani, yang belum lama ini, hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. Beruntung, Madrusin bisa mengelak, sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

30 April 2006 at 01:59

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tuba

leave a comment »

Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. Saat ditemukan, mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa, seperti korban overdosis, lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. Amat menakutkan. Para sesepuh adat, alim ulama, dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. Tanpa firasat, juga tanpa wasiat.

Tadi pagi masih segar bugar, kini sudah terbujur kaku jadi mayat….”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 April 2006 at 02:01

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sumur

with one comment

Lima tahun setelah hari ini, gadis itu akan sering berada di depan televisi. Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya. Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah, darah, selalu darah. Mengalir, dari perut yang belah. Menggenang dari kepala yang rengkah. Lalu meluncur, masuk ke dalam sumur.

Lima tahun setelah hari ini, tentu pula, ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah, saat itu semua tak penting lagi. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata, sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka. Ayahnya sendiri bukankah juga. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi, ia pikir itu bisa saja. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong, janji palsu, omong sok tahu. Tangis dibuat-buat, tawa diejan, akting murahan. Tidakkah mereka memang menggali, rakus, jadi budak rating dan iklan?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 April 2006 at 02:03

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pohon Keramat

with 4 comments

Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus, tetapi subur bagi pohon jati, sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. Seperti oase, karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan, terutama buah-buahan seperti mangga, jambu, nangka, belimbing, dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya, yang penduduknya beragama Islam santri, desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. Namun, di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat, bahkan bisa dibilang fanatik. Walaupun demikian, tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC, singkatan dari takhayul, bidah, dan churafat.

Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua, barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. Saking besarnya, pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. Bahkan, di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap, terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. Tetapi, para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

9 April 2006 at 02:05

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Rumah Bercerita 460 Watt

leave a comment »

Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. Hampir tak ada waktu untuk istirahat. Memperbaiki talang yang bocor, menggali lubang untuk resapan, membuat pagar bambu, mengecat kamar mandi, memperbaiki engsel pintu dan jendela, memasang kabel-kabel listrik.

Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. Tidak cukup untukku hidup. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. Tapi aku akan mencobanya, hidup dengan 460 watt. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik, karena tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah, tidak terlalu membutuhkan listrik.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

2 April 2006 at 02:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: