Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Damhuri Muhammad

Tembiluk

with 42 comments

Di masa silam, anjing itu tak lebih dari anjing biasa, milik seorang tuan yang mendalami ilmu hitam.

Puncak kedigdayaan ilmu hitam itu adalah hidup abadi, alias tak bisa mati. Namun, setiap kaji-penghabisan tentulah membutuhkan pengujian, agar pencapaiannya benar-benar tak diragukan. Maka, pada suatu malam keramat, ia menggorok leher anjingnya hingga putus dari batang leher, dan kepala hewan itu menggelinding seperti buah mumbang jatuh dari pohon. Sebelum penyembelihan, ia memasang jimat di ekor anjingnya, disertai mantra gaib yang hanya bisa dilafalkan oleh pengikut jalan sesat seperti dirinya. Ia tidak bermaksud membunuh anjing kesayangannya, karena ia hanya sedang membuktikan kedahsyatan ilmu yang telah sempurna dikuasainya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

27 Mei 2012 at 09:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Orang-orang Larenjang

with 28 comments

1
Dari pagi ke pagi, mulut-mulut itu, satu demi satu, bagai beralih-rupa menjadi toa. Bila toa di surau mengumandangkan azan, maka toa-toa segala rupa yang terpancang seperti antena itu begitu kemaruk memancar-luaskan gunjing, asung, dan pitanah, bahkan sekali-dua melepas umpat dan makian. Gema suara mereka bagai gendang irama gambus di musim helat, begitu semarak, begitu menyentak.

Ah, betapa lekas, betapa gegas, gunjing itu tersiar, bahkan jauh sebelum pantang dan larang kami langgar. Toa-toa itu bagai beranak-pinak, sambung-menyambung, balik-bertimbal, berteriak di pangkal kuping kami. Perihal beban berat yang bakal ditimpakan di pundak kami, tentang utang yang selekasnya mesti kami lunasi. Diselang-selingi pula dengan peringatan yang kadang terdengar serupa ancaman: ”siapa melompat siapa jatuh.” Sekali lagi, jauh sebelum pantang dan larang yang disebut-sebut itu kami terabasi. Seolah-olah kami telah lengah menimbang dan menakar, bahwa bila ”hidung dicucuk, tentulah mata bakal berair.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

17 April 2011 at 23:45

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Banun

with 59 comments

Bila ada yang bertanya, siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar, pada sebuah pergunjingan yang penuh dengan kedengkian, seseorang menambahkan kata ”kikir” di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Oktober 2010 at 15:57

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ratap Gadis Suayan

with 10 comments

Di mana ada kematian, di sana ada Raisya, janda beranak satu yang bibir pipihnya masih menyisakan kecantikan masa belia. Ia pasti datang meski tanpa diundang. Di dusun Suayan ini, kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan. Maka, bilamana kabar kematian dimaklumatkan, orang-orang akan bergegas menuju rumah mendiang. Begitu pula Raisya. Tapi ia tidak bakal ikut-ikutan sibuk meramu daun serai, pandan wangi dan minyak kesturi sebelum jenazah dimandikan, tidak pula memetik bunga-bunga guna ditabur di tanah makam seperti kesibukan para pelayat perempuan. Raisya hanya akan mengisi tempat yang telah tersedia, di samping pembaringan mendiang, lalu meratap sejadi-jadinya, sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya.

Duduk, berdiri, melonjak-lonjak, menghentak-hentakkan kaki, berputar-putar mengelilingi jenazah sambil terus menyebut-nyebut dan memuji tabiat baik mendiang semasa hidup. Ada irama di suara tangisnya, kadang seperti melantunkan sebuah nyanyian yang memiuh-miuh ulu hati. Lagu kematian itu serasi dengan entak kakinya. Ratapan, tarian, nyanyian, bersekutu jadi satu. Remuknya perasaan tuan rumah tidak mampu menandingi dalamnya kepiluan Raisya, tukang ratap yang telah mahir menanak risau itu. Mendengar ratapannya, mungkin Raisya lebih berduka ketimbang keluarga mendiang. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya tukang ratap yang terbiasa mendulang perih rasa kehilangan di setiap kematian yang dijenguknya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Agustus 2008 at 10:37

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Bigau

with one comment

Semenjak usianya genap 80 tahun, orang-orang Kampung Lekung berkeyakinan, ajal Kurai sudah dekat. Melihat tubuh ringkihnya terkulai letai di atas dipan usang tanpa selimut, barangkali tak akan habis baju sehelai, ia sudah mengembuskan napas penghabisan. Rimba persilatan tentu berkabung sebab kehilangan pendekar paling licin yang pernah ada di Kampung Lekung. Mungkin sudah tiba saatnya, lelaki yang seluruh bagian tubuhnya tahan bacok dan tak mempan peluru itu mewariskan ilmu silat tua, lebih-lebih mewariskan Rantai Celeng yang telah tertanam selama bertahun-tahun di dalam daging paha sebelah kirinya. Sebelum terlambat, sebelum mayatnya dibenam ke liang lahat, sebaiknya Kurai segera menentukan siapa yang pantas menjawab hak waris barang keramat itu.

“Harganya lebih mahal dari harga diri Kurai sendiri,” begitu luapan kekesalan seorang cukong barang antik yang datang ke Kampung Lekung tapi ditolak mentah-mentah oleh Kurai.

“Bujuk tua bangka itu, agar mau mewariskannya pada salah seorang di antara kalian! Itu bila kalian tidak ingin melarat seumur-umur.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

12 Agustus 2007 at 13:52

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Menantu Baru

with one comment

Sudah lama Irham tak menerima kiriman oleh-oleh. Rendang Ikan Pawas Bertelur. Gurih dan sedapnya seolah sudah terasa di ujung lidah. Apa Mak sedang susah? Hingga tak mampu lagi beli Ikan Pawas Bertelur dan bumbu-bumbu masaknya? Tak mungkin! Kiriman wesel dari anak-anak Mak, rasanya tak kurang-kurang. Lebih dari cukup. Jangankan Rendang Ikan Pawas Bertelur, bikin Rendang Hati Sapi pun Mak tentu mampu. Tapi, kenapa Mak tak berkirim oleh-oleh lagi? Mak sedang sakit? Kenapa pula tak ada yang berkabar? “Bukan kau saja, saya juga sudah lama tak dikirimi Krupuk Cincang,” keluh Ijal, kakak sulung Irham yang tinggal di Cibinong.

Sejak kecil, mereka memang punya selera berbeda-beda. Kepala boleh sama-sama hitam, tapi tabi’at lidah tak serupa. Mak hafal makanan kesukaan masing-masing mereka, anak-anak kesayangannya. Ijal suka Krupuk Cincang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

9 Juli 2006 at 01:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tuba

leave a comment »

Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. Saat ditemukan, mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa, seperti korban overdosis, lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. Amat menakutkan. Para sesepuh adat, alim ulama, dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. Tanpa firasat, juga tanpa wasiat.

Tadi pagi masih segar bugar, kini sudah terbujur kaku jadi mayat….”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 April 2006 at 02:01

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: