Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Maret 2007

Matahari Musim Dingin

with one comment

Jangan pernah percaya pada apa pun yang kau lihat di bawah matahari Melbourne. Mungkin kau pernah menganggap makhluk bersayap merah-biru yang bertengger di genteng rumah berarsitektur Yunani itu hanya sepasang burung Rosella yang menggigil kedinginan. Namun, bukan tidak mungkin mereka adalah para Kookabbura yang menjerit memekakkan telinga karena memandang wajahmu yang tegang dan tersipu-sipu tak keruan. Jangan pula mudah menebak bau kelelawar yang bergelantungan di pepohonan Cenntenial Avenue sebagai sesuatu yang mengingatkanmu pada mayat-mayat perempuan kuning gading Jakarta yang dibakar para lelaki zombi pada Mei 1998 yang perih. Sebab bisa saja dalam sekejap bekas kibasan sayap vampir jalanan itu memberimu harum bawang sehabis kau iris pelan-pelan atau menyengatmu dengan busuk petai sebelum makan malam.

Kau juga tak perlu tersedu-sedan seharian hanya karena bersitatap dengan warna pagi yang seharusnya disapu matahari oranye, tetapi tiba-tiba didera hujan yang muncul dari mata langit yang menghitam. Hari ini winter atau summer? Autumn atau spring? Mana yang harus dipercaya? Tak ada yang harus dipercaya. Segalanya begitu cepat bertukar rupa dan tak ada yang peduli. Kau juga tidak peduli pada perubahan wajah Arendt yang pagi itu dihajar pertanyaan-pertanyaan bodoh Onan, Finley, atau Sandra saat mereka makan roti bakar di beranda, bukan?

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

25 Maret 2007 at 14:45

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian

leave a comment »

Langit warna-warni berlalu begitu saja. Dari waktu ke waktu selalu saja begitu. Kupetik sehelai awan pagi ini. Lembayung warnanya. Dan setiap burung yang melintasi pagi yang sama, tiba-tiba warnanya jadi lembayung. Hujan turun pun berubah lembayung. Kusaksikan segenap alam yang mengepungku disesaki bayang-bayang lembayung. Perempuan berparas molek itu dalam usia yang amat matang datang padaku membawa hati yang lembayung pula.

”Kau…” desisku tertahan saat menatap perempuan berdarah Melayu itu pertama kali setelah 30 tahun tak bersua. Telunjukku tiba-tiba layu saat sosoknya kian menyergam di antara tiupan angin dan kabut yang menderu.

Aku berkaca di bola matanya yang bening. Masih begitu bening. Aku menatap diriku dalam tiupan angin petang bagai alunan gazal yang lembut. Sayatan biola tua yang mendayu-dayu. Aku merasa sudah begitu tua. Tapi sapa lembut perempuan berkulit kuning langsat itu bagai mengelupaskan kerutan-kerutan di keningku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

18 Maret 2007 at 14:47

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sukro dan Sukra

with 2 comments

Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Kilat menjilat sambung-menyambung seperti ingin membakar langit. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai ingin membelah dunia. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. Angin berkesiur liar kian kemari. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Tubuh terbakar hangus seketika. Gosong. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Betapa bodoh dan tololnya aku. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini, mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Dalam badai petir seperti ini, mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku, seorang perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur.

Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Aku bersiaga. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Sebatang rokok siap dinyalakan. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. Setelah menyulut rokoknya, laki-laki itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Masih tersisa dua batang. Kuambil satu. Agak mletot karena terduduki. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan.

“Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Tanpa menoleh ke arahku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

11 Maret 2007 at 14:48

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Mimpi untuk Dresden

with one comment

Buku kecil bersampul kertas krep warna ungu pucat. Ada tiga nama tertulis di dalamnya. Urutan pertama yang akan kutemui dalam waktu seperempat jam. Kubuka kembali buku di genggamanku. Ingin kupastikan namanya tak tertukar dengan nama lainnya. Ryan, 27 tahun.

Layar kecil yang menggantung di langit-langit kereta yang kunaiki menunjukkan tujuan stasiun berikutnya. Union Square Garden. Aku sedikit bergegas keluar dari kereta. Udara tak tertahankan dinginnya. Kunaikkan syal putih di leherku. Pipiku mengeras membeku.

Keluar dari stasiun subway, aku segera melintasi taman Union Square dan menuju ke arah 12th Street. Dia menungguku di toko buku Strand. Kami berjanji bertemu di section fotografi. Aku segera naik ke lantai dua. Belum kulihat sesosok manusia pun di sana. Aku memutuskan untuk tetap menunggu di sana, dan membuka sejumlah buku-buku fotografi peperangan. Di sana tampak sejumlah besar foto mayat korban peperangan. Bertumpuk seolah sisa jagalan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

4 Maret 2007 at 14:50

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: