Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Pamusuk Eneste

Kursi Empuk di Dada Sumarti

leave a comment »

Ketika kaum kerabat, handai tolan, kenalan, dan tetangga satu per satu meninggalkan rumah duka, tahulah Sumarti bahwa ia akan sendirian. Sumarti akan menjalani sisa hidupnya seorang diri. Ditemani pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan penjaga malam. Itu pun sepanjang Sumarti mampu membayar mereka setiap bulan.

Sesekali putri, menantu, dan cucunya akan datang berkunjung.

“Nuwun sewu…,” terdengar suara pembantu Sumarti.

Sumarti menoleh.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

24 Juni 2007 at 14:07

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Raibnya Seorang Suami

leave a comment »

Pakbitels sedang keluar negeri, kata orang. Pakbitels sedang menyingkir dari hiruk-pikuk kehidupan kota dan kini menyepi ke sebuah desa di lereng gunung, kata yang lain. Pakbitels diamankan yang berwajib, ujar yang lain. Pakbitels mungkin diculik orang tak dikenal, komentar yang lain lagi. Bermacam-macam lagi kata orang mengenai Pakbitels.

Sehari sebelum raib, Pakbitels bercerita bahwa istrinya mengomel terus semalaman karena merasa disepelekan. Dianggap sepi. Dicuekin.

“Masak kerjamu baca iklan melulu. Ngapain kek! Cari duit kek! Ngojek kek! Ngobjek kek! Cari tambahan penghasilan apa kek! Jangan baca iklan melulu dong! ’Kan Ayah tahu tiap bulan keuangan kita defisit. Aku terpaksa ngutang ke tetangga! Malu ’kan aku ngutang terus!” semprot istrinya.

Sebelum itu, istri Pakbitels mengeluh tentang kebiasaan Pakbitels menonton acara televisi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

17 Desember 2006 at 15:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sepucuk Surat

with one comment

Ketika Pakemon sedang membaca koran pagi di teras depan rumahnya, sambil menikmati secangkir kopi arabika, seorang kurir dari kantor tempatnya bekerja tempo hari datang. Kurir itu mengabarkan, Pak Presdir baru saja meninggal dunia.

“Saya mengantar ini, Pak,” kata kurir itu seraya mengajukan surat ke tangan Pakemon.

“Dari siapa?” tanya Pakemon.

“Tidak tahu Pak. Saya cuma disuruh antar.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

28 Desember 2003 at 11:26

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: