Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Martin Aleida

Batu-Asah dari Benua Australia

with 46 comments

Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat.

Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

12 Februari 2012 at 21:29

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian

with 33 comments

Sudah enam puluh tahun hariara itu tegak di pekarangan belakang sekolah itu. Walau usia sudah mengelupas kulit batangnya, namun dia tetaplah yang paling menjulang di antara pepohonan yang ada di sekeliling.

Di ujung akarnya yang menjentang di permukaan tanah, dengan bersila beralaskan tikar pandan, duduklah Kartika Suryani sejak beberapa saat yang lalu.

Mantan guru itu duduk dengan tegak. Usia tidak membuat punggungnya condong. Binar bola matanya di waktu muda masih disisakan oleh usia. Hanya pojok-pojok mata itu yang berkerut dilukis waktu. Rambutnya yang memutih tidak membuat wajahnya renta. Sinar matahari pagi mendatangkan kecerahan pada penampilannya. Di bawah pohon tua itu dia menanti murid-muridnya. Tentu bukan untuk memberikan pelajaran lagi, tetapi guna menepati janji yang sama-sama mereka sepakati dua puluh tahun yang silam. Janji yang lahir dari pedihnya kebebasan dan kejujuran.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 Mei 2010 at 21:49

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tiada Darah di Lamalera

with 9 comments

Gigil laut utara menggiring kami kemari, ke Laut Sawu yang hangat dan biru begini. Langit begitu rendah. Seperti hendak rebah. Lengkungnya sesekali disaput semburan air yang tegak lurus meniti dalam hembusan napas paru-paru paus pembunuh. Orang-orang yang mendiami pulau kecil di sini menyebut mereka seguni. Sementara aku dan kaumku, mereka beri nama koteklema.

Setahun sekali kami melintas di tengah laut ini, beberapa mil dari rumah penduduk yang jumlahnya tak seberapa. Menyediakan diri sebagai umpan yang akan menghidupi mereka selama laut utara dingin membekukan. Hubungan kami dengan mereka, yang sudah berabad-abad, membuat mereka hafal bahwa paus jenis kami adalah buruan yang mudah ditaklukkan. Sekali tempuling tertancap, kami bukannya melawan, malah mempermudah pertarungan. Kami tidak akan melawan sebagaimana paus pembunuh yang akan menggeliat meronta dalam darah, berputar-putar, menyiksa, mau meremukkan perahu seisi-isinya. Membuat ombak marah, memerah, amisnya mencemari langit yang begitu biru, begitu damai. Terkadang di antara pemburu yang baik hati tapi tak berdaya itu ada yang mati atau tinggal terkatung-katung berminggu-minggu sebelum terdampar di benua selatan. Sementara untuk menaklukkan kami layaknya seperti mengikuti pesta besar yang pada akhirnya toh akan usai.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 Juni 2009 at 21:24

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ompung dan Si Pematung

with 2 comments

Sembilan puluh satu dia sekarang. Yang dia rencanakan untuk hidupnya, semua sudah tercapai. Yang tak pernah dia bayangkan pun malah sudah dia nikmati. Sebuah kuburan sudah dia persiapkan di atas bukit. Dan dia membayangkan, patungnya, patung setengah badan, akan diletakkan hati-hati di atas penampang marmer Italia yang dikirimkan anaknya dari Turino. Patung itu akan ditempatkan hanya selangkah dari gerbang kuburannya.

Dirinya, yang diabadikan dalam batu berwarna perak itu, akan kelihatan seperti hidup, melayangkan tatapan abadi mensyukuri lembah, memuliakan teluk, dan seakan-akan tak pernah berhenti memuja pulau yang membentang di mulut teluk, nun di sana. Pulau yang tercipta untuk menjinakkan gempuran obak Samudra Hindia. Setinggi apa pun. Hatta sedahsyat tsunami. Karena itulah, kota kecil yang menyusu di teluk itu akan abadi. Dia hanya akan lebur kalau seluruh daratan sudah binasa.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 Oktober 2008 at 07:21

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh

with one comment

Mangku tak sudi mati di tanah tumpah darahnya, Bali. Tidak! Hidup terlalu menyesakkan, hingga dia bersumpah lebih baik mati di daratan yang jauh. Tak pernah dia bayangkan jasadnya akan diantar ke kayangan bersama api ngaben yang meliuk. Suatu kematian terhormat yang buatnya adalah angan-angan yang jauh. Tetapi, dia yakin, mati sekadar diantar selantun doa tentulah mungkin. Dan, itu sudah jauh lebih mulia daripada kematian ayahnya.

Orang tua itu dibunuh karena menerima tanah cuma-cuma dari organisasi tani yang dituduh merampas tanah tuan tanah dan membagikannya kepada petani tak bertanah seperti dia. Huru-hara politik pun menggelegar. Bali berdarah. Hukum rimba direbut orang-orang yang dirasuki roh leak. Tuan tanah, yang menjadi korban landreform, melihat matahari baru menyingsing untuk merebut kembali tanah mereka.

Begitulah, suatu pagi, ayah Mangku diseret ke tepi lubang, tengkuknya dihantam linggis, dan bersama jasad petani senasib, dia ditimbuni, tanpa doa, konon pula air mata.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

4 Mei 2008 at 19:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Bertungkus Lumus

leave a comment »

Dia menguakkan daun jendela keluar dan mempersilakan angin pagi menyongsong masuk dengan leluasa. Hati-hati disingkapkannya kain putih yang menutupi laptop di atas meja kecil, yang berdiri begitu rapat seperti hendak mencium bibir jendela. Beberapa saat dia berdiam diri dengan wajah cemas, seakan-akan benda yang tertutup di bawah kain putih itu cuma pembawa bencana. Dia meninggalkan tempatnya berdiri, kemudian datang lagi menenteng kemoceng. Kain penutup dia singkapkan dan debu yang tertidur di atas perangkat komputer itu dia kebutkan. Saban hari dia begitu, semacam ritus, selama hampir setengah tahun belakangan ini.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

27 Januari 2008 at 08:59

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tukang Urut di Tepi Danau

with 2 comments

Sudah kusaksikan bagaimana Asikin dibunuh pensiunnya sendiri secara perlahan. Juga Asril. Beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun, mereka mulai berjuang melawan waswas dan perasaan tak berharga, disia-siakan. Perasaan yang terus menyiksa mereka sampai beberapa bulan setelah mereka sudah tidak lagi disambut dengan senang hati di kantor, kalau mereka singgah sekadar melepas rindu. Asikin mengalami gangguan pencernaan. Ambeiennya bertambah parah dan terjadi pendarahan. Setelah konsultasi dengan beberapa dokter, akhirnya dia jatuh ke tangan seorang ahli jantung yang mengirimkannya ke rumah sakit khusus untuk dibedah.

Sementara kawanku Asril memutuskan ikut anak dan menantunya ke pulau seberang. Tetapi, perasaan seperti orang yang dicampakkan tetap menghantuinya, sekalipun dia sudah jauh dari kota. Dia kira rokok dan makan enak, berleha-leha tanpa gerak badan, akan mengatasi kecemasan. Dia dihantam stroke, terpenjara di kursi roda. Begitu hebat tantangan hari-hari pensiun itu baginya, angin selat yang sejuk membelai lembut sekalipun tak kuasa meneduhkan hatinya. Pagi itu, jasadnya ditemukan mengapung di pantai, tak jauh dari kursi rodanya yang menunggu dengan hampa di darat.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

27 Mei 2007 at 14:15

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: