Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Isbedy Stiawan ZS

Mata Ibu

with 2 comments

Sungguh, aku tak dapat menolak—bahkan secara halus—ketika Linda memintaku agar mengantarnya ke rumah ibuku. Tetapi, aku tetap mengulur-ulur waktu….

Aku hanya mau silaturahmi,” ujarnya kemudian. Ringan.

Aku bimbang. Sulit sekali untuk menyatakan tidak atau ya. Justru yang terbayang adalah wajah ibuku. Meskipun ibuku sudah tak lagi dapat melihat sejak lima tahun karena diabetes, ibu pasti tahu kalau yang kubawa bukan Mirna, istriku. Kemudian ia akan bertanya macam-macam tentang Linda. Perasaan seorang ibu yang sudah 60 tahun lebih hidup pastilah akan berkata lain. Setidaknya, dia akan berkata dalam hatinya bahwa aku sudah berani bermain api. Atau kebiasaan ibu yang selalu berterus terang akan bertanya: “Kamu sudah beristri lagi, ya? Jangan lukai hati perempuan. Jangan sekali-kali menipu istri, Rud.”

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

18 Juni 2006 at 01:40

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Hanya untuk Satu Nama

with one comment

Hanya untuk satu nama: Demi.

Kalimat itu terukir rapi di atas foto Mas Zen berlatar belakang bunga tulip yang tengah mekar. Tentunya foto itu diabadikan saat musim bunga sedang berlangsung di Belanda. Aku menerima kiriman itu dari Mas Zen tiga tahun lalu. Saat Zen kuliah di negeri Kincir Angin itu.

Di bawah kalimat itu tertulis dengan tipografi puisi: “Rademi Pratiwi,/bila musim salju tiba seperti sekarang ini,/aku makin rindu padamu./Ingin mendekapmu/sepanjang tidurku/di balik selimut tebal.//Atau dalam mantel tebal menembus salju/sepanjang jalan di Amsterdam ini/kita saling melingkarkan tangan/di pinggang.//Kau tahu,/aku selalu bayangkan/kau ada di dekatku,/dalam dekapanku…”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 April 2005 at 06:35

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Terompet

leave a comment »

Tidak seperti biasa, Sisi yang meneleponku. Ia memintaku-tentu amat mengharap-agar menemaninya jalan di malam Tahun Baru. Bukan semata karena ia kalau segera kusanggupi, tapi disebabkan Nina. Aku ingin menghiburnya, aku sudah amat rindu berjalan dengannya.

“Nina menyuruhku meneleponmu. Ia mengharap sekali kau mau menemani kami. Yang terpenting ia ingin kau ada di sisinya saat ia merayakan ulang tahun…,” ujar Sisi. Nina lahir pada 31 Desember pukul 19.00 dan kini di usia ke-13 ia minta dirayakan bersamaku. “Katanya, ia telah mengundang teman-teman sekolah.”

Aku pikir apa salahnya membahagiakan putriku yang tengah masuki usia remaja? Selama ini, sejak aku berpisah dengan Sisi, aku cuma mengucapkan ulang tahun melalui telepon. Atau menyuruh office boy mengantarkan kue ulang tahun buat Nina. Dan, sesekali membawanya ke pantai atau tempat bermain di mal.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 Januari 2005 at 06:59

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with ,

Meniti Sepi, Menanti yang Pergi

leave a comment »

Kau tidak juga tersenyum, padahal sudah berulang kubikin lelucon di hadapanmu. Ada apa sebenarnya denganmu? Berbagai cerita bernuansa humoris yang kuingat telah kukisahkan semenarik mungkin. Tapi, kau tetap tak tertawa. Apa yang telah terjadi padamu?

Malam telah berganti beberapa kali. Siang berulang melepas mantel benderangnya: kembali ke pekat. Tinggal kita di rumah ini. Sepi terasa. Waktu seperti merangkak pergi dan singgah. Sesungguhnya, apa yang kau pikirkan? Tentang anak-anak yang meninggalkan rumah ini dan menetap di kota lain? Kawin dan beranak? Hanya surat-suratnya yang kemudian menjumpai kita, katanya, melepas kangen?

Kita sekarang dipanggil Opa dan Oma. Sungguh, panggilan yang dulu amat kita khawatirkan jika datang amat cepat. Dan, ternyata dugaanku benar. Anak perempuan kita yang kedua dipinang, menikah, setelah itu dibawa ke lain kota. Kau menangis waktu itu, tatkala Selvi melambai di depan gerbang. Menaiki mobil yang sekejap kemudian berpacu. Kau sedih. Aku maklum, kau amat terpukul. Tetapi, hukum hidup harus begitu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 Agustus 2004 at 09:51

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Abang Yun

with one comment

Kehadiran Abang Yun setelah puluhan tahun tidak pulang begitu cepat tersiar. Bahkan sampai kampung tetangga berita kedatangan Abang Yun menjadi perbincangan. Seakan bisa mengalahkan berita kunjungan pejabat dari kota saja. Kabar yang begitu cepat menyebar itu boleh jadi karena Abang Yun sudah dianggap meninggal hanya tak ada kuburannya.

Sangkaan itu wajar saja. Di kampung kami sangat meyakini bahwa orang yang pergi meninggalkan aib dianggap mati. Orang itu tak akan berani pulang, ia akan lenyap selama-lamanya. Jika ia berjumpa dengan orang kampung di perantauan, kalau tidak dia yang mengingatkan maka sebaliknya yang menemuinya tidak akan bercerita tentang perjumpaannya. Jangan coba-coba melanggar keyakinan ini, kalau tak hendak terkena cemooh orang sekampung.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

25 Januari 2004 at 11:15

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: