Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Bre Redana

Ketapang Kencana

with 40 comments

Aku menanam pohon ketapang kencana (Terminalia mantaly) di halaman. Pohon ini kurasa sangat cocok di halaman rumah Mami yang telah dibangun sangat bagus oleh Teh Rani. Wujud bangunan benar-benar seperti Teh Rani. Sederhana, ringkas, mencerminkan wawasan, pengalaman, dan cara hidupnya yang sangat modern di berbagai negara. Bangunan ini paling modis di situ.

Tak ada pernak-pernik di fasat bagian luar. Ia seperti kotak-kotak beton, mengikuti kontur tanah yang agak berundak. Bagian yang menghadap gunung dan bukit terekspos melalui kaca besar. Alam menjadi lukisan terbaik ciptaan Tuhan. Aluminium hitam yang menjadi bingkai kaca itulah piguranya. Penyiasatan ruang yang cerdas.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 November 2010 at 07:48

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Doa Natal

with 4 comments

Natal akan segera tiba. Dada kami berbuncah-buncah dipenuhi kegembiraan. Pada Natal nanti, kakakku yang tinggal di Jakarta beserta istri, anak-anak, bahkan Mama yang tinggal di Bogor akan datang mengunjungi kami. Mereka akan natalan di sini.

“Mereka akan tinggal di sini?” tanya Pur, istriku.

“Ya pasti tidak, mereka akan tinggal di Indraprasta,” kataku menyebut nama hotel berbintang di ibu kota kabupaten.

“Ooo…,” sambut Pur. Ia agak kecewa, tetapi kekecewaan itu sangat kecil, tak ada artinya dibanding kegembiraan, karena kesempatan bisa berkumpul bersama seluruh keluarga untuk bernatalan. Lebih istimewa lagi, itu akan berlangsung di sini, di rumah kami di pelosok.

Sangat jarang kakakku—kami hanya dua bersaudara, laki-laki semua—mengunjungi kami. Ia memang sibuk. Dulu ia kemari, ketika mampir karena ada tugas. Istri dan anak-anaknya belum pernah diajak kemari. Kami maklum, tempat tinggal kami terlalu di pelosok, daerah yang dulu dirintis transmigran.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Desember 2006 at 15:09

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Indrakila

leave a comment »

Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar, lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya, ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang, mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. Sebagai penulis, dia malah membayangkan produktivitasnya nanti, di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra.

Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. Ini untuk melukiskan, bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit, di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. Di seberang sana, lembah dan gunung-gunung. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya, lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak, ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya), kebiasaan serta irama keseharian mereka, sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata, fana.

”Kamu ini psikolog, pendeta, atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 Oktober 2005 at 09:35

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pelayanan Kudus

leave a comment »

Aku mendarat, dan seperti biasa-aku sudah diberi tahu sebelumnya-Joni-lah yang akan menjemputku di airport. Kota tempat tinggal Ros, kakak perempuanku, masih sekitar satu setengah jam dari kota di mana airport ini berada.

“Om…”

Kudengar teriakan anak perempuan. Aku menoleh. Dua keponakan perempuanku-alasan utama aku selalu datang ke sini-menghambur ke arahku. Ini hari istimewa, terutama bagi si kecil, Wida (kelas V SD), yang hari ini berulang tahun. Dia berlari-lari ke arahku, diikuti kakaknya, Vivi (kelas II SMP), yang setahun tak kulihat, dalam pandanganku sekarang terlihat begitu cepat besar dan manis. Di belakang keduanya, ada Joni yang senyum-senyum-satu ekspresi paling khas pada dirinya.

“Kalian tidak sekolah?” tanyaku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

26 Desember 2004 at 08:55

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ing Ratri

with one comment

Namaku Vampira Suburbia. Gebyar gemerlap berikut semua cahaya kota besar yang menyala serentak di akhir tahun dan suasana pesta pora yang bisa dirasa di mana-mana meremajakan diriku sehingga tak menjadi tua-tua. Sebagai Nycteris javanica yang tergolong berukuran kecil dibanding makhluk sejenisnya, aku bisa terbang lebih leluasa, lebih bebas menjelajah ke mana-mana. Kini, aku memenuhi janjiku untuk menuju ke sebuah kota, yang pesonanya hanya bisa dijangkau oleh kenangan….

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 Desember 2003 at 11:29

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: