Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Oktober 2008

Jendela Tua

with 12 comments

Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan.

Sebuah jam lama di tonggak rumah gadang menunjukkan pukul delapan malam. Ibu tua itu baru saja selesai berdoa setelah sholat isya. Dengan sedikit tertatih ia berjalan menuju almanak yang tergantung di dinding. Setelah mengamati angka demi angka dalam almanak tersebut, perhatiannya beralih pada sebuah foto keluarga dengan bingkai yang lumayan besar di sisi dinding yang lain.

Ibu tua itu mengamati satu persatu foto yang terpampang tersebut. Suaminya. Dan lima orang anaknya. Tiga laki-laki dan dua orang perempuan. Entah mengapa, mereka sama-sama tersenyum saat berfoto. Ibu tua menghela nafas panjang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

26 Oktober 2008 at 10:25

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Seonggok Daging Beku

leave a comment »

Gelgel meringkuk tak berdaya. Darah terus-menerus mengalir dari paha kiri dan betis kanannya. Seluruh wajahnya memar, bahkan nyaris bonyok. Segerombolan tentara tak berusaha menolong, malah mempermainkannya bagai seonggok sampah bau yang pantas ditinju dan ditendang. Setiap saat kawanan tentara itu mengambil kesempatan untuk menonjok wajahnya. Seorang tentara muda berbadan kurus bahkan memukul kepala Gelgel dengan popor senapan. Seketika darah segar menyembur… Gelgel hanya diam bagai sekerat daging beku.

Ini tuduhan dan siksaan kesekian yang ia terima dari para tentara. Dalam setiap sesi interogasi para tentara selalu meneriakkan pertanyaan yang sama, ”Kamu anak PKI tak tahu diri. Bapakmu yang membunuh tentara dan mencuri senjata. Di mana kamu sembunyikan?” Sebelum mulut Gelgel terbuka gagang pistol menghantamnya. Berdarah-darah sudah bukan peristiwa aneh. ”Di mana kamu sembunyikan? Ayo jawab!!” Plok-plok-plok, tiga kali pipi Gelgel ditempeleng. Itu termasuk siksaan fisik paling ringan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

19 Oktober 2008 at 13:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Apalah Nama

with 8 comments

Rekan-rekan sekerjanya menyebut namanya Syahbudin Tip. Syahbudin tidak keberatan dengan nama barunya itu. Bahkan, ia lebih menyukai nama Syahbudin Tip daripada Syahbudin Geming, namanya yang sebenarnya.

Rekan-rekannya memberi nama tersebut bukan tanpa alasan. Di restoran tempat mereka bekerja, hanya Syahbudin yang paling sering menerima tip dari para pengunjung. Dalam soal tip ini, Syahbudin-lah yang paling beruntung jika dibandingkan dengan teman-temannya. Mungkin, keberuntungan itu diperolehnya karena para pengunjung restoran terharu melihat wajahnya yang memelas itu. Sejak lahir wajahnya memang seperti itu.

Karena hanya Syahbudin yang menerima sebagian besar tip dari pelanggan, pengelola restoran membuat peraturan agar tip yang diterima setiap petugas dimasukkan ke kotak kaca yang tersedia di samping kasir. Setiap hari, pada saat restoran akan ditutup semua uang tip tersebut akan dibagi rata dengan semua petugas restoran. Langkah ini dianggap paling adil untuk setiap karyawan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

12 Oktober 2008 at 11:14

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ompung dan Si Pematung

with 2 comments

Sembilan puluh satu dia sekarang. Yang dia rencanakan untuk hidupnya, semua sudah tercapai. Yang tak pernah dia bayangkan pun malah sudah dia nikmati. Sebuah kuburan sudah dia persiapkan di atas bukit. Dan dia membayangkan, patungnya, patung setengah badan, akan diletakkan hati-hati di atas penampang marmer Italia yang dikirimkan anaknya dari Turino. Patung itu akan ditempatkan hanya selangkah dari gerbang kuburannya.

Dirinya, yang diabadikan dalam batu berwarna perak itu, akan kelihatan seperti hidup, melayangkan tatapan abadi mensyukuri lembah, memuliakan teluk, dan seakan-akan tak pernah berhenti memuja pulau yang membentang di mulut teluk, nun di sana. Pulau yang tercipta untuk menjinakkan gempuran obak Samudra Hindia. Setinggi apa pun. Hatta sedahsyat tsunami. Karena itulah, kota kecil yang menyusu di teluk itu akan abadi. Dia hanya akan lebur kalau seluruh daratan sudah binasa.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 Oktober 2008 at 07:21

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: