Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Triyanto Triwikromo

Lengtu Lengmua

with 47 comments

Tepat tengah malam celeng-celeng yang telah kerasukan ratusan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan mereka untuk mendengarkan lagi keributan bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau….

Laut tak sedang mendamparkan perahu Nuh ke kampung yang karena terlalu sunyi lebih mirip hiu tidur itu. Laut—dalam ketenangan musim kemarau—juga tidak sedang menebarkan kolera busuk ke tanjung tenang berpenghuni orang-orang yang teramat karib dengan lapar dan kemiskinan. Tetapi memang ada sembilan perahu yang merapat ke ujung tanjung tak jauh dari makam keramat. Sembilan perahu itu mengusung sembilan celeng milik Jamuri, juragan dari kota, yang dikawal oleh sembilan cempiang atau jagoan berseragam loreng-loreng.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

18 Maret 2012 at 15:45

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Burung Api Siti

with 62 comments

Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. Para pembunuh terbakar. Tubuh mereka menyala. Siti bertanya, ”Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?”

Tak ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban, kadang-kadang cepat, kadang-kadang ritmis, kadang-kadang sembarangan. Mereka juga melompat, berlari, melompat lagi, dan berlari lagi. Dan yang membuat lelaki kencur 10 tahun itu lebih takjub, bangau-bangau itu berdiri tegap saling menatap dengan paruh menusuk ke langit. Ia tak tahu kenapa sang pejantan hanya mengeluarkan suara sekali dan para betina berkali-kali.

Itulah pemandangan yang berulang-ulang dilihat oleh Siti dan berulang-ulang pula membuat dia kehilangan cara untuk mengungkapkan ketakjuban. Akan tetapi, hari itu, pada Oktober 1965 saat angin laut begitu asin dan amis, burung-burung bangau itu nyaris tidak melakukan gerak apa pun. Isya sudah usai menghampiri kampung di ujung tanjung itu tetapi satwa-satwa tropis ini tetap saja membisu. Siti menduga ada ratusan ular raksasa yang menelan mereka. Dan dalam benak lelaki kencur itu hewan melata yang menjijikkan itu mula-mula menyambar sayap, lalu menghajar, dan meng-kremus kepala-kepala mereka.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

30 Oktober 2011 at 14:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ikan Terbang Kufah

with 20 comments

Kau tak tahu di mana tubuh Kufah, Kiai Siti, Zaenab, dan ikan-ikan terbang itu menghilang bukan?

Kufah tidak percaya pada akhirnya orang-orang kota benar-benar akan menghancurkan makam Syeh Muso yang menjulur di ujung tanjung yang dikepung oleh hutan bakau dan cericit ribuan bangau. Mereka akan membangun resor di kampung penuh ikan terbang itu.

Kufah keberatan bukan karena nisan Syeh Muso sering menguarkan cahaya hijau yang menyilaukan mata, tetapi jika sewaktu-waktu tanjung itu turut dilenyapkan, ia tidak akan bisa berlama-lama memandang bulan sambil mengecipakkan kaki di kebeningan air laut yang jika pasang tiba, kerap mengempaskan segala benda tak terduga.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

7 November 2010 at 10:16

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sepasang Ular di Salib Ungu

with 5 comments

Akhirnya setelah mencicipi sihir James Bond Martini di balkon The Coogee Bay Hotel yang disaput dingin dan asin angin, Margareth Wilson, yang kupastikan berjalan sambil tidur, membaca juga nubuat tentang perahu kencana dalam Kitab Ular Kembar yang kabur dan penuh bercak darah itu. Kubayangkan ia harus memaknai segala tanda, gambar, simbol-simbol, dan kadang-kadang menyelam ke lautan misteri huruf-huruf Latin yang distilasi menjadi semacam reptil-reptil kecil dari gurun yang purba dan jauh itu.

Nubuat itu, kau tahu, agak berbelit-belit, sehingga untuk memahami pesannya, siapa pun akan seperti seekor koala yang kesulitan mencari jalan keluar dari labirin busuk yang mengepung dan membelit. Meskipun demikian seperti seorang penafsir peta harta karun piawai, Margareth tak kesulitan sedikit pun menyusupkan wahyu semesta yang mungkin penting itu ke lorong-lorong otak.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

12 April 2009 at 20:57

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Dalam Hujan Hijau Friedenau

with 3 comments

Kereta yang sesaat berhenti di Stasiun Friedenau itu memang semula ingin menumpahkan aku dan 99 pasang malaikat yang ingin merayakan pernikahanmu dengan Ellen Adele, Arok. Dari Apartemen Carstennstr 25 B—tempat kita (sepasang iblis manis pemuja Mozart), menggambar percintaan ribuan kelelawar di kanvas bekas dan menciptakan komposisi kebrengsekan Berlin di gamelan sengau dan piano busuk—aku memang merayu para malaikat itu agar mau mengunjungi makamku di Waldfriedhof Zehlendorf. Tentu aku tak bisa lagi melihat tubuhku yang hingga Agustus yang biru masih disorot kamera dan asyik masyuk dalam pemotretan untuk reklame sabun bagi para perempuan uzur itu. Tentu di bawah langit Berlin yang senantiasa menyerupai bentangan kain tetoron abu-abu aku hanya mendapatkan guci abuku dililit akar dan digerogoti para cacing. Dan setelah kremasi yang indah pada Rabu tersaput salju di kuburku, aku memang tak bisa lagi merasakan teduh cemara zedar perkasa yang kini mungkin dilupakan oleh siapa pun yang berjalan tergesa-gesa mengejar kereta. Namun, sebelum menghadiri pesta pernikahanmu, aku memang perlu merasakan sihir cinta yang pernah kausepuhkan di pohon-pohon dan dedaunan penuh embun itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 Juli 2008 at 11:50

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Iblis Paris

with one comment

Ya, jika pada malam yang liar dan panas, kekasihmu tiba-tiba menusukkan moncong pistol ke lambungmu, sebaiknya dengarlah kisah brengsekku ini

Segalanya begitu cepat berubah setelah Khun Sa meninggal. Aku, boneka kencana Raja Opium Segitiga Emas yang disembunyikan dan kelak kau kenal sebagai Zita, memang tidak mungkin mengikuti upacara kremasi bersama-sama gerilyawan Shan. Aku tak mungkin mencium harum abu kekasih atau sekadar membayangkan mati perkasa dalam amuk api percintaan. Aku juga tak mungkin berjalan tertatih-tatih di belakang keranda dan mencoba menembakkan pistol di jidat sebelum kekasih lain mempertontonkan kesetiaan hanya dengan menangis sesenggukan. Sejak 1996 yang menyakitkan, Pangeran Kematian memang menyuruhku menghilang ke Prancis. Ia yakin benar Mong Thay Army, serdadu kepercayaannya, tak mungkin bisa melindungiku dari kekejaman para petinggi junta, sehingga memintaku menyingkir ke negeri yang tak terjangkau oleh bedil dan penjara Burma.

”Bukankah kau ingin sekali bertemu dengan Maria di Lourdes? Bukankah kau ingin mendapatkan tuah Bernadette Soubirous?”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 Februari 2008 at 14:28

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Belenggu Salju

leave a comment »

Tak ada kepak gagak di Compton yang selalu menguarkan bau sampah busuk, anggur murahan, dan bangkai manusia yang disembunyikan di ghettos atau rumah-rumah besar yang mengonggok tanpa lampu. Juga tak ada salju atau angin santer yang membekukan tiang listrik atau menggigilkan para negro yang sedang menari acakadut atau menyanyikan rap keras-keras di sembarang trotoar malam itu. Tetapi di kota yang seakan-akan tak pernah disentuh tangan Kristus itu, aku justru senantiasa mendengarkan jerit burung kematian memekik tak henti-henti sepanjang hari. Selalu terdengar berondongan peluru dan siapa pun menganggap letusan-letusan itu hanya sebagai derit mobil yang direm mendadak oleh pembalap kampungan. Selalu ada bisik-bisik transaksi kokain, morfin, ganja atau hasis, tetapi segala desis hanya terdengar sebagai siulan rahasia kanak-kanak untuk mengajak geng kecil mereka mengintip percumbuan sepasang kekasih di kegelapan taman.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 Juli 2007 at 13:58

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Matahari Musim Dingin

with one comment

Jangan pernah percaya pada apa pun yang kau lihat di bawah matahari Melbourne. Mungkin kau pernah menganggap makhluk bersayap merah-biru yang bertengger di genteng rumah berarsitektur Yunani itu hanya sepasang burung Rosella yang menggigil kedinginan. Namun, bukan tidak mungkin mereka adalah para Kookabbura yang menjerit memekakkan telinga karena memandang wajahmu yang tegang dan tersipu-sipu tak keruan. Jangan pula mudah menebak bau kelelawar yang bergelantungan di pepohonan Cenntenial Avenue sebagai sesuatu yang mengingatkanmu pada mayat-mayat perempuan kuning gading Jakarta yang dibakar para lelaki zombi pada Mei 1998 yang perih. Sebab bisa saja dalam sekejap bekas kibasan sayap vampir jalanan itu memberimu harum bawang sehabis kau iris pelan-pelan atau menyengatmu dengan busuk petai sebelum makan malam.

Kau juga tak perlu tersedu-sedan seharian hanya karena bersitatap dengan warna pagi yang seharusnya disapu matahari oranye, tetapi tiba-tiba didera hujan yang muncul dari mata langit yang menghitam. Hari ini winter atau summer? Autumn atau spring? Mana yang harus dipercaya? Tak ada yang harus dipercaya. Segalanya begitu cepat bertukar rupa dan tak ada yang peduli. Kau juga tidak peduli pada perubahan wajah Arendt yang pagi itu dihajar pertanyaan-pertanyaan bodoh Onan, Finley, atau Sandra saat mereka makan roti bakar di beranda, bukan?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

25 Maret 2007 at 14:45

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Malaikat Tanah Asal

with one comment

Ketika jendela surga dibuka, ketika pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu, seorang malaikat yang lahir dan tumbuh dari doa serampangan perempuan kencur yang dianggap gila, sekali waktu akan merindukan tanah asal yang kabur. Tanpa sayap, dia akan menumpang kereta, menyusuri rel dan pelacur, menatap kabut dan maut, dan menceracau tentang hutan yang gaduh.

Lalu setelah sampai di stasiun—biasanya pada akhir Ramadan yang sarat debu—ia akan terbang ke kota sejuk penuh bunga, berhenti di batas desa, dan mencoba menggapai wajah perempuan cilik yang mengabur di sendang bening itu.

“Wahai, gadis kecilku, seharusnya kaulah yang lebih berhak menjadi penjaga jagat. Bukan aku atau sesuatu yang menyerupai waktu!” lolong malaikat itu sambil memerintahkan angin menggesek-gesekkan kesedihan di bilah seribu bambu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 Oktober 2006 at 15:30

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sayap Kabut Sultan Ngamid

with 2 comments

Ya, kau juga tahu, hari itu, Minggu 28 Maret 1830, Ramadhan telah berlalu. Karena itu, dalam lukisanku, aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana. Jadi, sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran.

Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. Dan orang-orang, terutama aku, percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. Karena itu, sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan, aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 November 2005 at 09:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: