Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for September 2007

Candik Ala

with 10 comments

Setelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut kuning menerpa seisi alam. Cuaca seperti inilah yang oleh ibu disebut sore “candik ala”. Suatu sore yang jelek. Suatu sore yang membawa malapetaka dan penyakit. Dalam cuaca seperti ini, kami diharuskan masuk ke dalam rumah.

Aku tidak lagi mau bertanya kepada ibu, perihal kenapa kita mesti takut kepada cuaca seperti itu. Karena kalau aku bertanya hal-hal aneh, seperti misalnya larangan untuk duduk di depan pintu yang nanti akan dimakan Batara Kala, akan selalu dijawab dengan nada agak marah, dengan kata yang tak kupahami maksudnya: “Ora ilok!” kata ibu.

Tapi kali itu, setelah beberapa kali mengalami sore candik ala, aku tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang ayah, yang sudah berbulan-bulan tidak pulang. Ibu seperti menghindar, memalingkan muka menyembunyikan wajahnya, sambil jawabnya:

“Nanti juga kalau saatnya pulang, pasti pulang.”

“Apa nggak kena penyakit karena candik ala, Bu?” tanyaku tak sabar. Ibu diam saja.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

30 September 2007 at 13:22

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Lak-uk Kam

with 5 comments

Dalam remang, dari jendela yang daunnya disentak diempas-empaskan badai, ia lihat semua: ombak yang menjulang, laut yang seakan terangkat—menganga bagai rahang, bergemulung menelan pantai. Suaranya gemuruh. Bergederam. Jadi inilah “lak-uk kam”, badai musim utara itu, yang menjadikan sebagian pulau porak-poranda, penuh genangan, dan membuat para penduduk pindah-sementara ke balik bukit pulau bagian selatan.

Senja. Lalu malam. Gelisahnya dihantam debar saat lampu suar tiba-tiba menyala. Dia masih ada? Ia julurkan kepala—dingin bagai mengiris muka!—melayangkan pandang ke puncak menara. Tak tampak apa-apa, kecuali lesat cahaya yang bagai terentang sedapat-dapatnya. Ia rasakan juga, saat matanya menyapu menyusur muka laut, lesat cahaya itu seolah ikut bergolak, berkecamuk, mengempas-empas menerpa-nerpa. Sesaat ia tertegun. Lalu, bagai gugup, mengembalikan pandang ke puncak menara.

Dia masih ada.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 September 2007 at 13:30

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Penafsir Kebahagiaan

with 5 comments

Pikirnya anak-anak itu menjual jatah mereka kepada seorang lelaki setengah baya yang memperkenalkan dirinya bernama Markum. Lelaki itu muncul begitu saja di satu sore, masuk serta duduk di sofa sambil menenteng koper kecil. Siti membayangkan salah satu dari anak-anak itu juga meminjamkan kunci apartemen kepadanya. Mendengar seseorang masuk, Siti segera keluar dari kamar dan menyambutnya:

Selamat sore.” Markum terkejut dan memandang ke arah Siti. Namun Siti segera berlalu menuju lemari es, bertanya ia mau minum apa. Markum agak tergeragap dan meminta sekaleng minuman soda. Siti membuka sekaleng minuman dan menyodorkannya kepada Markum. Dibukanya jendela, membiarkan angin lembut California menyibak tirai. Setelah minum, Markum tampak lebih tenang dan bertanya:

“Sejak kapan Jimmi membawamu ke sini?”

“Sudah hampir enam bulan.”

Markum mengangguk-angguk kecil, mengelus dagunya sendiri, lalu agak ragu kembali bertanya, “Berapa Jimmi bayar kamu?”

“Ah, berapalah gaji pembantu?” tanya Siti dengan senyum genit.

Jadi kamu pembantu, pikir Markum.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 September 2007 at 13:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Marni! Oh, Marni!

with one comment

Sebuah truk berhenti jauh di depan sana. Truk dengan atap terpal. Semula Nawar, mengira truk itu hendak berhenti di halte, karena itu ia terjaga. Ia mencurigai cara perhentian kendaraan itu. Maka ia pun bersiap-siap melarikan diri.

Namun Nawar terlambat kabur. Tak terduga olehnya, dua lelaki berseragam sudah berada di sebelahnya. Mereka memegang tangannya kuat-kuat. Mereka menggiringnya.

”Hayo Cepat!” bentak salah seorang sambil menghentakkan lengan Nawar.

Nawar menatap mereka dengan rasa takut. Meskipun tidak jelas benar terlihat olehnya. Seorang di kiri dan seorang lagi di kanannya. Ia tak tahu hendak berkata apa.

”Apa yang kau lihat, goblok!” Yang di kiri mementung kepalanya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

9 September 2007 at 13:45

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Dua Tanjung

with 2 comments

Ini bulan yang kesepuluh itu, Puti. Maka kini kau kutunggu di Sungai Batang Kuranji. Seperti janji kita. Kita akan bertemu di sini, bukan? Sambil menunggumu, aku mencelupkan jari-jari kakiku ke dalam sungai ini. Memain-mainkannya. Dingin yang menjalar ke seluruh tubuh kujadikan perisai kegundahan ini. Di sini, di sungai ini, kuharap tidak ada yang melihatku, Puti.

Kemarin, kudapatkan dirimu termenung di depan jendela kamarmu ketika aku lewat hendak mencangkul sawah bersama abak. Kau menatapku dengan raut sendu. Aku tahu apa yang ada dalam hatimu. Aku iba. Aku ingin menyabarkanmu kala itu, tapi itu tak mungkin, Puti, sebab ada abak. Aku tak ingin hari itu diceramahi abak dan kemudian kami bertengkar. Kamu tahu? Semalam kami telah melakukan itu. Puti, aku sudah tak sabar membawamu, seperti janji kita berdua. Membawamu ke kota jauh.

Puti, di awal cerita, kuingat, kita tumbuh beriring bersama kanak-kanak. Seperti mencabuti bunga-bunga di halaman rumah. Berlarian sepanjang kampung dengan dada telanjang. Membakar diri di sawah di samping rumah. Atau mengerjakan pekerjaan sekolah bersama-sama. Ah, masa lalu itu Puti, tak bisa aku lupakan. Ia seperti kenangan yang selalu menggaris seluruh ingatan. Kau juga begitu, bukan?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

2 September 2007 at 13:46

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: