Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Agustus 2003

Liang

with 2 comments

Tangis Wasti pecah, pagi itu. Kantong air matanya jebol ditohok kalimat-kalimat runcing mengilat para tetangganya. Liang matanya terasa perih, sangat perih. Air matanya terlalu banyak mengalir, hampir sepanjang waktu, seperti aliran selokan yang membelah kampung itu.

Kompleks perumahan di pinggir sungai itu terasa tambah sesak saja dengan penghuni baru. Kompleks perumahan? Ah, tidak juga. Yang disebut “kompleks” itu sebenarnya tak lebih dari deretan atau jejalan rumah-rumah kecil ukuran 3 x 3 meter. Bahan yang dipakai umumnya batu bata tanpa diplester dan dikerjakan secara “ekspresif”. Tonjolan dan lepotan semen mencuat seperti goresan kuas seorang maestro. Beberapa bagian dari rumah-rumah itu ditutup dengan tripleks atau papan kayu bekas peti kemas. Cat rumah-rumah itu berwarna-warni, seperti gebyar pawai, begitu riuh, seperti percakapan mereka yang berlangsung setiap waktu.

“Lha kalau setiap tahun Wasti pulang bawa anak, tempat kita pasti sumpek,” seorang perempuan gemuk tertawa berderai. Tawa itu disambut para “nasabah” yang bergerombol merubung rentenir.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

31 Agustus 2003 at 12:07

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Keroncong Cinta

with one comment

Dengan sebal Madelaine meneguk habis jus jeruk dan menyelesaikan sarapannya. Ditengoknya jendela. Langit sepenuhnya warna aluminium. Gerimis di luar membuat pohonan dan jalanan basah kuyup. Sejak pagi cuaca begini terus. Bahkan, dari kemarin. Madelaine menghela napas berat. Tak ada pilihan. Dia meraih mantelnya, lalu payung dan jas hujan. Dengan cepat ia mengenakan mantel dan mengalungkan syal. Bimbang sejenak. Memakai jas hujan atau membawa payung. Akhirnya dilemparkannya jas hujan dekat sepeda. Diraihnya payung dan bergegas ke luar. Segera saja dingin menyerbunya tanpa ragu- ragu. Dia mempercepat langkahnya. Memakai sepeda di musim dingin dan hujan menjengkelkannya karena sudah bisa dipastikan wajahnya akan basah kuyup. Namun, jalan kaki dan memakai payung juga menyebalkan. Dia harus berjalan lebih jauh mengarungi udara dingin. Salju yang kemarin masih elok jadi becek dan kotor dan licin.

Dikenangnya matahari yang benderang dan udara hangat Indonesia. Cuti yang kelewat sebentar. Cuma sebulan! Sungguh sialan, pikirnya. Sambil menyelinap dari satu gang ke gang lain, dia membayangkan gang-gang di Indonesia. Tak serapi di sini, namun seronok.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Agustus 2003 at 12:09

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Cintaku Jauh di Komodo*

with 6 comments

Hanya laut. Hanya kekosongan. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar, membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya, meski perahuku melaju menembus angin yang bergaram. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam, tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. Bagaimana cinta akan berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo, jika cinta ini belum juga berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak, dari suatu masa ketika cinta pertama kali ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati, dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

17 Agustus 2003 at 12:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Mati Sunyi

with 3 comments

Koran-koran menulis tentang kematian Bibiku. Banyak tokoh berkomentar bahwa bangsa ini telah kehilangan salah satu anaknya yang terbaik. Seorang pejuang kemanusiaan telah pergi! Bangsa ini berduka. Televisi pun tak kalah haru birunya, mulai berlomba menayangkan kisah sang anak bangsa. Bahkan pemerintah mengumumkan pengibaran bendera setengah tiang. Penghormatan diberikan karena anak bangsa ini telah mengharumkan nama bangsa. Tercatat, di masa bangsa disorot sebagai bangsa yang kurang menghargai hak asasi manusia, telah tampil seorang perempuan yang setiap kata dan tindakannya menggetarkan hati. Membuat bangsa ini sanggup tegak menghadapi hujan kritik atas berbagai persoalan kemanusiaan.

Andai saja politik sempit tidak ikut bermain, seharusnya dialah yang pantas tahun lalu mendapatkan Nobel Perdamaian!” begitu salah satu komentar koran lokal dengan sebuah berita yang nyaris emosional mengutip komentar seorang tokoh nasional.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

10 Agustus 2003 at 12:13

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Semakin dan Semakin ke Barat

with 2 comments

Lelaki itu adalah masa kecilku. Masa kecil berterik matahari di gersang sawah kemarau pada musim burung-burung melintas, ketika mosaik retakan tanah mendidihkan cairan tubuh lewat telapak kaki tak beralas kami–aku, adikku, dan anak-anaknya. Masa kecil berbasah keringat menyambung, mengikat, dan menancapkan tonggak-tonggak bambu setinggi belasan meter untuk menyangkutkan jaring penangkap burung. Masa kecil berlarian ke sana kemari menghalau camar, dara laut, ayam-ayaman, belibis, dan sesekali blekok maupun kuntul putih pada petang harinya, agar berbelok terbang menerjang jaring puluhan meter yang kami bentang di sepanjang pematang sawah. (Wah, kepala burung-burung yang naas itu menancap pada jaring sampai ke leher, sia-sia menggelepar mencoba melepas diri, sampai akhirnya dengan napas tersengal tergelantung seperti sebuah shuttlecock yang menancap dalam pada net setelah dihantam King Smash yang termasyhur itu.)

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

3 Agustus 2003 at 12:18

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: