Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Maret 2008

Kipas Cendana

with one comment

Hidupku sebatang kara. Akan tetapi, aku masih bisa hidup berkecukupan dalam arti tidak tergantung pada siapa-siapa, bisa makan tiga kali sehari dan bisa tinggal di sebuah kamar sewaan. Di kamar itu ada sebuah dipan dan kamar mandi dan dapur. Di emperan belakang atapnya agak menonjol jauh dari tembok sehingga kompor dan rak piring, ember dan sepeda bisa ditaruh di situ. Di kamarku ada sebuah televisi bekas yang menghiburku setiap hari.

Kalau saja anak perempuanku tidak kawin dengan seorang pria yang bekerja di Timur Tengah mungkin aku tidak sendiri karena anakku bisa mengurusku dan dua cucuku bisa menghibur aku. Akan tetapi syukurlah anakku bisa membantu kehidupan ekonomiku. Sejak lama ketika istriku masih ada, hidup kami pas-pasan. Istriku masak di emperan belakang untuk dijual. Ada ikan pepes, ada nasi uduk, sambal goreng tempe, ada ikan bakar, terung bakar, dan sambal yang kuberi nama ”Sambal Inul Cili-cili”.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

30 Maret 2008 at 17:53

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pantura

with 5 comments

Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap terbit di timur dan tenggelam di barat. Banjir masih juga melanda Pati, Jawa Tengah, meski sudah dua minggu, air tak juga surut. Sementara di Riau dan Jambi, hutan terbakar. Tapi apa peduliku, sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini, dari Pati ke Rembang, untuk menemui Kiai Zaim Zaman, barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda pesantren di desa kami. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km yang terdiri dari truk, mobil-mobil pribadi, kontainer, bus, maupun motor karena tak mampu menembus banjir.

Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas, sawah-sawah yang siap panen, perumahan, perkebunan, tambak, kolam ikan, dan pertokoan, meliputi kota-kota Demak, Kudus, Rembang, Pati, Jepara, Juwana, Tuban. Tapi, apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir.

Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Terdengar gelak-tawa seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Mendadak mendung datang menyergap disusul hujan lebat. Subhanallah. Saya yang satu minggu kehujanan terus, rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. Tubuh saya menggigil dan saya sudah tak tahu jalan. Gelap gulita. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. Rasanya tubuh ini beku.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 Maret 2008 at 15:33

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Senja di Pelupuk Mata

with 7 comments

Rumah kayu berhalaman luas ini demikian riuh. Dedaunan kering tersapu angin bergulung di tanah, menghadirkan bau legit setelah gerimis sempat menerpa. Inilah saat putri bungsuku, Wardhani, akan berpamitan untuk pergi ke rumah suaminya. Para tetangga juga semua kerabat berkumpul memberikan ucapan selamat dan salam perpisahan.

Suasana begitu riuh namun berlawanan dengan yang kurasakan di hatiku. Entah mengapa jiwaku terasa sangat hampa. Sesak tanpa jelas sumber dan asal-usulnya. Tiga anak perempuan yang kukandung selama sembilan bulan satu per satu sudah meninggalkanku. Luh Wayan, putri pertamaku, sudah menikah dengan seorang bule yang menyukai kemampuan Luh menari. Greg nama menantuku itu memboyong putriku ke Amerika. Negeri yang begitu jauhnya hingga rasanya mustahil dapat kujangkau. Entah bagaimana rupa cucu pertamaku, aku sama sekali tidak tahu. Luh hanya menelepon mengabarkan kelahiran anak pertamanya. Seorang bayi laki-laki bertubuh montok dan berambut pirang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 Maret 2008 at 16:57

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Kiriman Laut yang Terlambat

leave a comment »

Bila malam menjejak, memanjang sampai mau beranjak di penghujung lain, seiring dengan pasang naik, dari zona pesisir sebelum jalan membelok ke pedalaman, dari salah satu rumah yang dialingi pohon-pohon bakau dari tangan lautan itu akan bangkit tembang pilu mirip lolong. Mungkin juga bukan tembang, karena hanya ada satu kalimat yang diserukan dan diulang-ulang dari awal malam dan sempurna sampai mau pagi—seperti yang diceritakan Marklopo. Di rentang waktu saat para lelaki pergi melaut, ketika pasang mengapungkan perahu dari rangkulan lumpur, sampai saat terakhir untuk mendarat sebelum laut surut dan meninggalkan satu kilometer pantai berlumpur bau amis.

Lelaki rembulan yang berpedati. Lelaki rembulan yang berpedati,” katanya—dilantunkan oleh suara panjang melengking di tengah rintihan dan gerung tangisan. Lalu sunyi, dan suara angin hanya mendesus membuat daun-daun meriap di tengah sedu sedan dan isak kecil. Sebuah jeda emosi sebelum kembali mengeras menyerukan teriakan melengking, tidak ritmik tapi dalam melodi tajam yang diulang-ulang, semacam blues atau pekikan rock yang paling distortif—dan karenanya menyiksa yang mendengar. Tapi apa memang ada perempuan yang dikurung dan dibungkam lelaki, yang diam-diam mencari kesempatan pertolongan rahasia dari para perempuan dan anak-anak? Seperti si putri yang ditawan di menara oleh penyihir dan dijaga naga yang selalu tertidur bila malam tiba?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

9 Maret 2008 at 06:16

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ropponggi

with one comment

Stasiun Nagoya terlihat sangat sibuk, bahkan di siang hari. Aku melangkah gontai menuju bangunan depannya yang berwarna pualam dengan relief lengkung sebagai pintu masuk utamanya. Aku seperti mengenal tempat ini dengan lebih baik daripada tempatku bekerja. Dan sebulan terakhir ini tampaknya menjadi kenangan yang indah antara aku dan Stasiun Nagoya, yang akan berakhir hari ini.

Ketika sudah berada di atas kereta Shinkansen dalam perjalanan kembali ke Tokyo, aku tiba-tiba mengerti arti sebuah kalimat di apartemen kecilku yang lebih merupakan perangkap daripada sekadar tempat tinggal. Kalimat yang ditinggalkan penghuni sebelumnya. Dia mencoret-coret dengan kasar pada pintu toilet sebuah kalimat sederhana tetapi tidak sesederhana itu. ”Tuhan itu Adil, tetapi Dunia Tidak!” pesan singkat dari surga atau dari korban kehidupan Dunia.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

2 Maret 2008 at 15:05

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: