Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Desember 2005

Langit Bertabur Nguyen

with 2 comments

Langit merah jambu menyelubung Hanoi. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah. Aku jadi teringat Vietkong, Rambo, penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh, gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu.

Aku tahu, Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Tapi, surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami, penuh cerita pilu. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Antara suka dan tiada, aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. Tapi, di bilik hatiku yang lain berucap gemulai, kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. Nguyen telanjur segalanya bagiku.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

18 Desember 2005 at 08:58

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

“Requiem”

with 3 comments

Sebelum mati, aku masih ingat tubuhku melenting: kakiku berkelejotan mencari tumpuan, sedangkan kepalaku menjadi tumpuan di ujung lainnya. Lalu seluruh tubuhku meregang, seolah menolak kehendak malaikat maut yang membetot nyawaku.

Waktu itu, samar masih kudengar tik-tak jam di dinding kamar. Suaranya seperti sebuah requiem. Kemudian secara perlahan-lahan aku melihat kaki, tangan, kepala, dan seluruh tubuhku melayang…

Ketika berhasil berdiri, istriku tampak sibuk memencet-mencet tombol telepon. Aku juga masih ingat ketika kemudian keponakanku membopong tubuhku sendirian menuju mobil yang dipinjam dari tetangga. Ia bergegas memanggil Magenta, istriku, untuk memangku kepalaku di jok belakang.

Dalam 30 menit, mobil sudah sampai di ruang ICU sebuah rumah sakit. Waktu aku dibaringkan di tempat tidur dan selang-selang dipasang di tangan serta mulutku, aku sebenarnya tak berharap untuk hidup kembali.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

11 Desember 2005 at 09:02

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Radio Transistor

with 3 comments

Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai, tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini.

Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu, arus sungai menjadi sangat deras. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

4 Desember 2005 at 09:05

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: