Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Maret 2009

Peti Ayah dan Tiga Puluh Satu Tahun Setelah Itu

with 9 comments

Tiga puluh satu tahun silam, dari tahun kutulis cerita ini, aku memang ingat, tanpa sengaja, ayah menemukan sebuah peti besi seukuran kardus mi instan. Kala itu ayah menggali tanah di belakang rumah dengan hasrat menanam sebatang pohon pisang batu. Ketika galian telah sedalam betis ayah, kami mendengar bunyi berdentang keras ketika beliau mengayunkan cangkulnya. Dengan penuh heran ayah mengurik tanah berlubang itu dengan sebelah tangannya. Ayah merasakan sebuah benda keras. Di akhir cerita, ayah berhasil mengangkat peti dari tanah yang digalinya itu. Peti besi itu telah berkarat, termasuk gemboknya. Kalau tak salah, usiaku kala itu sebelas tahun. Aku menemani ayah menanam batang pisang batu itu.

Tapi ayah tak membolehkan aku melihat di saat beliau membukanya. Hanya beberapa kata yang terlontar dari mulut ayah, yang kuingat, ”Astaga. Tak salah. Benar-benar tak punya perasaan,” demikian kata ayah dengan muka merah dan pucat.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

29 Maret 2009 at 15:11

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Foto

with 3 comments

Gelap datang menyungkup. Lampu padam tiba-tiba. Sepi di luar rumah karena hanya sesekali kendaraan bermotor lewat. Kegelapan seperti ini merupakan hal biasa bagi kota kecil yang terletak di kaki gunung itu.

Timisela memanggil istrinya agar menyalakan lilin. Foto yang sejak tadi dipegangnya dimasukkannya kembali ke dalam map dan diletakkannya di atas meja. Istrinya yang kemudian datang dengan membawa lilin menyala di tatakan gelas, menatap suaminya yang menyandar di kursi.

”Masih menatap foto itu lagi?” istrinya bertanya. Timisela tidak menjawab. Ia memilih berdiam diri karena pertanyaan seperti itu telah puluhan kali didengarnya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 Maret 2009 at 21:00

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Menanti Kematian

with 15 comments

”Budiman! Ada kabar gembira! Lamaran kamu diterima! Bulan depan kamu bisa mulai kerja! Dengan gaji pokok per bulan lima-belas juta! Berarti tidak lama lagi kamu bakalan terbebas dari utang-utang kamu. Terbebas dari teror para penagih utang yang selama berbulan-bulan mengejar ke mana pun kamu pergi.”

Memang aku diterima kerja di mana?”

”Perusahaan minyak, Bud! Di Dubai, Timur-Tengah!”

Budiman seketika terdiam. Temannya yang bekerja di agen tenaga kerja itu dibiarkannya terus bicara di telepon dengan penuh semangat. Tentang gambaran masa depan yang sangat cerah. Tentang jaminan kesejahteraan yang sudah jelas membayang di depan mata. Tentang sekian tahun lagi pulang ke Indonesia sebagai orang kaya….

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 Maret 2009 at 06:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Penyusup Larut Malam

with 13 comments

Sunyi wajah lelaki tua, lusuh, bersarung dan berpeci. Langkahnya pincang memasuki pelataran rumah Aryo. Lepas asar, dalam gerimis, wajah lelaki tua lusuh itu seperti susut. Menahan kegugupan. Dia menemukan pencariannya pada Aryo — meski mereka belum saling kenal. Matanya juling. Tak tepat membidik wajah Aryo. Aneh, rekah bibirnya kian menakik senyum, “Nah, kaulah yang kucari!” Tangan kanannya terjulur. Menyalami Aryo, erat dan akrab.

Menolak duduk di kursi. Lelaki tua bermata juling itu memilih bersila di tantai. Aryo menduga-duga. kenapa lelaki tua itu datang ke rumahnya, begitu rupa rendah hati.

“Belilah ladang saya, Nak,” pinta lelaki tua juling itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

8 Maret 2009 at 17:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Membakar Api

with 7 comments

Setelah yakin istrinya menghilang dari rumah sakit, tentu bersama bayi mereka yang baru lahir, Mirdad segera menelepon sang istri. ”Artika, di mana kamu? Bagaimana dengan bayi kita?” Suaranya lebih ditujukan untuk kotak suara, yang diawali pesan pendek Artika, ”Suamiku, jika kamu mau melihat anak kita, kembalikan dulu ayahku ke rumah.”

Lagi-lagi urusan Lohan, pikir Mirdad.

Beberapa minggu terakhir, menjelang melahirkan bayi pertama mereka, keadaan Artika menjadi tak begitu baik. Mirdad sangat khawatir, terutama memikirkan bayi di dalam kandungan istrinya. Dan jika ia bertanya, Artika selalu membawanya kembali ke persoalan itu, ”Aku memikirkan ayahku. Bagaimana aku bisa tenang jika ayahku konon sedang dipasung dan disiksa dan aku tak tahu di mana ia berada.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 Maret 2009 at 06:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: