Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘M Dawam Rahardjo

Rumah Hantu

with 6 comments

Djoko Santoso adalah seorang profesional lulusan Fakultas Ekonomi UGM. Ia adalah pengikut aliran keagamaan yang disebut Komunitas Salamullah, yang walaupun ajarannya terutama bersumber pada Islam, tetapi anggota komunitas ini bisa orang dari berbagai agama, seperti Kristen, Katolik, Buddha, Hindu atau Konghucu. Beberapa pengikut aliran yang didirikan oleh Ibu Lia Aminuddin ini bahkan adalah suster-suster dan pastor-pastor Katolik. Tapi Mas Djoko, demikian panggilan akrabnya, sebelum masuk komunitas ini, bukanlah seorang Muslim melainkan pengikut aliran kebatinan Jawa yang namanya Pangestu. “Saya dulu makan sembarang makanan, daging babi, kodok, tengkleng, dan saren, minum ciu dan apa saja yang diharamkan,” katanya. Saren adalah makanan yang dibuat dari darah kambing dan ciu adalah minuman khas tradisional Jawa.

Dulu saya tidak menjalankan shalat,” katanya. “Setelah masuk Salamullah, saya belajar shalat dan kemudian rajin menjalankan ibadah shalat,” katanya mengaku. “Sebab Bunda Lia mengatakan bahwa pengikut Salamullah harus taat menjalankan ajaran agama masing-masing. Ini memang sesuai dengan ajaran Pangestu yang saya anut dulu,” kata Djoko yang berasal dari kabupaten Sukoharjo, dekat kota Solo, pusat aliran kebatinan itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

11 Juni 2006 at 01:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pohon Keramat

with 4 comments

Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus, tetapi subur bagi pohon jati, sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. Seperti oase, karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan, terutama buah-buahan seperti mangga, jambu, nangka, belimbing, dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya, yang penduduknya beragama Islam santri, desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. Namun, di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat, bahkan bisa dibilang fanatik. Walaupun demikian, tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC, singkatan dari takhayul, bidah, dan churafat.

Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua, barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. Saking besarnya, pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. Bahkan, di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap, terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. Tetapi, para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

9 April 2006 at 02:05

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Si Gila dari Dusun nCuni

with one comment

Patek dan Jali adalah dua orang yang bersahabat dalam pola hubungan yang mungkin bisa dianggap aneh. Jali, panggilan akrab Gazali, mulai tinggal di Dusun nCuni, Desa Kwangko, sebuah permukiman nelayan di Kabupaten Dompu, sejak ia ditugaskan memimpin base-camp proyek budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba milik PT Solar Sahara Mina atau sering disebut SSM yang berkantor pusat di Jakarta. Tapi Patek, seorang warga dusun di tepi pantai Teluk Dompu itu sudah lebih lama menjadi warga dusun yang dikenal banyak orang. Berbeda dengan Jali yang dikenal sebagai manajer perusahaan, Patek dikenal sebagai seorang gila, karena perilakunya yang aneh. Sebagian warga yang lain menganggapnya orang yang terbelakang mentalnya, seorang idiot. Namun sebaliknya, ada juga sebagian kecil orang yang menganggapnya pula sebagai semacam orang suci karena ia sangat rajin beribadah, hampir tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berjamaah, di masjid yang berbeda-beda, dengan wirid yang lama. Paling tidak Patek dianggap sebagai seorang yang penuh misteri.

Ia dianggap gila karena sangat pendiam dan tidak bergaul dengan orang dan tidak banyak celoteh. Tidak pernah ia berkata-kata kalau tidak karena orang memulainya mengajak bicara atau bertanya. Itu pun ia tidak banyak omong. Jika bicara, ia tidak menatap wajah orang yang mengajaknya berbicara. Ia selalu menundukkan kepala. Agaknya ia tidak bisa menjawab pertanyaan orang mengenai hal-hal yang sulit, misalnya mengenai kepercayaan atau imannya. Walaupun ia menyadari dirinya seorang Muslim, tetapi tidak bisa menjelaskan rukun iman dan rukun Islam umpamanya, padahal ia tahu dan percaya pada nabi. Kitab suci Al Quran atau bahkan kehidupan akhirat yang ia percayai adanya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 Januari 2006 at 08:50

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Anjing yang Masuk Surga

with 5 comments

Usamah adalah seorang keturunan Arab Pakalongan, tapi kawin dengan seorang keturunan Arab juga asal Solo. Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya, dari kampung Pasar Kliwon, daerah permukiman keturunan Arab di Solo. Ia juga mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. Teman-temannya itu, termasuk ia sendiri, semuanya telah lulus perguruan tinggi, tapi tak semuanya jadi pegawai, sebagian memilih jadi pengusaha. Tapi semuanya sukses, seorang di antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank, Bank Jerman, dan seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga. Usamah sendiri memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka.

Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa. Tapi suatu ketika mereka sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. Mereka mendirikan rumah berderetan. Usamah juga ikut membeli tanah, tapi ia terpisah, karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak dalam, bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. Di situ ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas. Sebagian pekarangannya dipakai untuk memelihhara ayam. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang cukup berkembang. Tapi pada suatu hari, beberapa ekor dicuri orang. Karena itu seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

19 Juni 2005 at 10:15

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: