Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Februari 2006

Arwana

with one comment

Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar, berputar-putar dengan gagahnya. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh, tapi meyakinkan keganasannya. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu, seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu.

Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa, dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar, duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. Tak lama, terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. Ajudan setengah berlari membuka pintu, masuk, dan menutup kembali. Beberapa detik, ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu.

”Pak Muis, SH dan rombongan, dipersilakan,” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

26 Februari 2006 at 08:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tina Diam Saja

with 3 comments

Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). Keterangan yang dibaca oleh Dita, ”Gadis ini tidak bisa ngomong. Padahal, menurut dokter neurolog, tidak ada yang salah dalam diri gadis ini.”

Perempuan remaja ini, tidak berbicara, tidak ingin bicara!

Dita yang mulai berbicara, ”Tina, aku mendengar dari Mamamu, kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara. Kalau kau mau, bisa curhat kepadaku. Apa yang jadi masalahmu sayang?”

Perempuan muda itu, sekali lagi cuma diam, diam saja.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

19 Februari 2006 at 08:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pengukir Nisan

with one comment

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka,” katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

12 Februari 2006 at 08:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Lonceng

with 3 comments

Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga. Lelaki tua ini, apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil, ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang, ya, nama-nama seseorang. Banyak nama yang disebutkan, tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala, tidak kenal. ”Tanya saja kepada kepala desa,” kata pemilik warung itu, seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun.

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

5 Februari 2006 at 08:39

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: