Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Ratih Kumala

Rumah Duka

with 14 comments

Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.

Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 Juli 2008 at 07:18

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Foto Ibu

with 11 comments

Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 Juni 2008 at 13:53

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Wanita Berwajah Penyok

with 4 comments

Dari sepasang garis bibir, sebuah cerita akan sebait ingatan dituturkan: di tempatku ada wanita berwajah penyok. Jika kau selalu berpikir bahwa hidup adalah berkah, maka kau tak akan setuju lagi setelah melihatnya. Tetapi, jika kau senantiasa setuju bahwa hidup adalah kutukan, maka kau akan kian meyakini apa yang telah lama kau percaya.

Wanita itu tinggal dipasung pada ruang sempit yang tak bisa disebut manusiawi. Dia buruk rupa dan gagu. Konon kapasitas otaknya pun kurang hingga orang menyebutnya idiot. Orang akan takut kala melihatnya. Saat ingin berkata-kata hanya ada vokal yang keluar tanpa pernah benar-benar ada konsonan yang menyertainya. Mulutnya pun hanya bisa mengerjap-ngerjap. Orang akan teringat akan bentuk mulut ikan serta mengeluarkan bau tak sedap. Orang akan tertarik dengan bentuk mulutnya saat ia mencoba berbicara. Mereka yang berbaik hati karena kasihan dan awalnya berusaha untuk mengerti apa yang akan dituturkannya, lalu berubah menikmati sebuah keanehan sekaligus kejijikan oral yang tak dimiliki orang pada umumnya. Ruangan pasung itu tanpa jendela. Hanya sebuah pintu kayu yang selalu tertutup. Satu-satunya bolongan yang ada hanyalah lubang kotak kecil di pintu tempat ibunya atau orang lain memberi makan dari situ sehari dua atau sekali.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 Februari 2005 at 06:54

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: