Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘S Prasetyo Utomo

Ular Randu Alas

with 45 comments

Tersembunyi kisah rahasia pada sebatang pohon randu alas tua. Tak seorang pun berani menebangnya. Seabad sudah pohon randu alas itu berumur. Aku menduga, pohon randu alas yang menjulang kokoh di tepi jalan pertigaan menuju perumahan tempat tinggalku berumur lebih dari seabad.

Sejak aku kecil, pohon randu alas itu telah tumbuh sebesar sekarang—empat rentangan tangan orang dewasa—rindang dan menggugurkan daun-daun kering kekuningan pada musim kemarau. Umurku kini enam puluh dua, sudah beberapa tahun pensiun, menjadi saksi pohon randu alas yang berdiri tegak, rimbun dedaunan, dan dianggap angker.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

4 September 2011 at 13:15

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pengunyah Sirih

with 20 comments

Mulut Sukro senantiasa memerah. Bibir, gigi, dan lidah lelaki setengah baya itu mengundang perhatian orang lantaran memerah. Ludahnya merah segar. Kebiasaannya mengunyah sirih, sebagaimana dilakukan para wanita zaman dulu, membekaskan warna memerah di mulutnya. Tapi menjelang dini hari, di bawah pohon trembesi, bukan hanya mulutnya yang memerah. Sekujur tubuhnya memerah, melelehkan darah. Luka-luka tubuhnya menganga. Darah mengucur kental, merembes di berbagai bagian tubuh dan wajah.

Tak lagi terdengar Sukro mengerang. Orang-orang kampung berhenti melampiaskan kemurkaan: menganiayanya dengan kayu, batu, dan senjata tajam. Tubuh Sukro terkulai. Seseorang memeriksa detak nadi lelaki setengah baya itu. Tak berdenyut. Tubuhnya tak bergerak. Tapi kebencian orang padanya masih tersungkup sumpah serapah, ”Ayo, tampakkan kesaktianmu, Sukro! Mana buktinya kalau kamu kebal? Hiduplah kembali!”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

10 Januari 2010 at 08:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Memburu Mata Kera

with 2 comments

Hasrat Aji menembak mata kiri induk kera itu kian menggoda.
Mata kanan induk kera telah dibutakan dengan peluru senapan angin.
Tenang sekali Aji saat membidik induk kera di dahan pohon rambutan, tepat pada mata kanannya.
Anak kera terperosok dari dekapan induk kera.
Terguling di semak. Menahan kegirangan, Aji merenggut anak kera itu.
Memasukkannya dalam kandang besi. Diamemelihara anak kera seperti merawat anak manusia.
Telah begitu lama dia tinggal di rumah sendirian.
Hidup tanpa teman, dalam sunyi merapuh. Tanpa istri. Dan tentu, tanpa anak.
Belum setahun, istrinya memaksa bercerai dan meninggalkannya.

Anak kera itu dipanggil Mona–nama mantan istri Aji yang menikah kembali, dan punya anak dari suaminya sekarang. Monalah yang dapat menghibur perasan Aji sepulang dari kantor sore atau senja hari. Ia bermain-main dengan Mona. Perasaannya menjadi murka, bila dilihatnya pada remang pagi induk Mona bergelayutan di dahan pohon rambutan, disertai kera-kera lain, merenggut buahnya dari ranum kemerahan. Kera-kera itu meninggalkan goa persembunyian, kian berani memasuki perkampungan, menggasak buah-buahan dari ladan-ladang sekitar rumah.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

24 Mei 2009 at 11:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Penyusup Larut Malam

with 13 comments

Sunyi wajah lelaki tua, lusuh, bersarung dan berpeci. Langkahnya pincang memasuki pelataran rumah Aryo. Lepas asar, dalam gerimis, wajah lelaki tua lusuh itu seperti susut. Menahan kegugupan. Dia menemukan pencariannya pada Aryo — meski mereka belum saling kenal. Matanya juling. Tak tepat membidik wajah Aryo. Aneh, rekah bibirnya kian menakik senyum, “Nah, kaulah yang kucari!” Tangan kanannya terjulur. Menyalami Aryo, erat dan akrab.

Menolak duduk di kursi. Lelaki tua bermata juling itu memilih bersila di tantai. Aryo menduga-duga. kenapa lelaki tua itu datang ke rumahnya, begitu rupa rendah hati.

“Belilah ladang saya, Nak,” pinta lelaki tua juling itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

8 Maret 2009 at 17:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sakri Terangkat ke Langit

with one comment

Desau angin berpusar kencang. Merobohkan pohon-pohon. Berdebam. Merontokkan daun-daun kersen di sekitar pabrik gula yang telah lama mati. Gedung tua berlumut, dengan cerobong asap berkarat itu berderak-derak. Sakri memandangi angin yang terus berpusar, mengangkat genting-genting gedung tua pabrik gula dengan rel membentang tanpa lori melintas di atasnya. Tak pernah dilihatnya sebelum ini angin mematahkan ranting-ranting, menerbangkan genting-genting pabrik gula, yang cerobongnya tak lagi membubungkan asap.

Lelaki tua itu menantang desau angin dari langit dan gemeretak dahan patah di Bumi. Rintik hujan tajam meruncing, nyeri menghunjam wajahnya. Makin takjub ia ketika melihat cerobong asap gedung pabrik gula yang senyap itu bergetar dan membubung ke langit. Berpusar. Tinggi. Tak terlihat lagi. Orang-orang menjerit. Meminta Sakri meninggalkan pabrik gula yang seluruh temboknya berlumut dan ditumbuhi rerumputan mengering.

Dengan menyungging senyum, Sakri menyambut pusaran angin. Kedua tangannya dibentangkan. Tubuhnya yang keriput kurus, dengan rambut memutih beruban, terangkat. Dipusar angin. Menjelang senja itu, dalam desis gerimis, pusaran angin telah mengangkat Sakri dari tempatnya berdiri di bawah pohon kersen. Lenyap.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

27 April 2008 at 16:04

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pohon Mangga Alas Tua

with 3 comments

Jalan setapak di tepi Alas Tua terus mendaki, licin, rimbun, dan sunyi. Salma menelusuri jalan setapak, sehabis diguyur hujan siang tadi. Ia melintasi tepian Alas Tua, hutan di tepi kota. Kandungannya membesar. Tinggal hitungan hari ia melahirkan. Perjalanan ke makam kedua orangtuanya kali ini didorong keinginan yang aneh tiap jengkal tanah. Dinikmatinya debur dada penuh harap. Ia ingin melahirkan anak lelaki yang tampan, yang memiliki rekah senyum menawan. Ia terus melangkah di antara jalan setapak, di bawah pohon-pohon mangga yang merimbun, dengan kuncup-kuncup daunnya yang hijau muda kemerahan.

Perempuan bunting itu tak mengenal rasa takut, malah memancarkan daya pikat yang kuat, pada senja berkabut. Senja melarutkan kesenyapan jadi detak harapan bagi perempuan bunting itu. Senyap senja menelannya jadi perempuan terselubung bayang-bayang pengharapannya sendiri. Ia takjub terhadap bayi yang diangankan lahir sebagai lelaki tampan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

29 Juli 2007 at 13:57

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Cermin Jiwa

with 4 comments

Wajah Ulfa jernih, tenang, dan penuh percaya diri. Sepasang lengkung alisnya serupa mantra. Menenteramkan siapa pun yang menatapnya. Ia keluar dari rumah kayu. Menampakkan sosok samar di kebun anggrek. Hangat matahari menyingkap kabut di rambutnya. Dari celah-celah bunga anggrek, ia menatapi Ismail, lelaki muda di seberang jalan. Lelaki itu menyusuri kesunyian ke kantor. Sepasang kupu-kupu mengitari kepalanya. Cahaya matanya serupa cermin jiwa: memantulkan hangat semesta yang membuka cakrawala Ulfa.

Di kebun anggrek itu Ulfa memantulkan kesegaran bunga-bunga mekar. Gadis itu sengaja berada di kebun anggrek. Ia bisa mencium aroma asap jerami dibakar. Menghirup bau tanah basah sawah sehabis dibajak. Mencuri pandang pada Ismail, lelaki kurus, dengan hidung mencuat, bibir tipis dan jarang berbincang. Ketampanan lelaki itu terselubung sepi. Tinggal di rumah kayu yang luas dan terpelihara, lelaki kurus itu terlambat menikah. Ulfa selalu menatap matanya yang memantulkan keteduhan tanah yang ditumbuhi rumput, perdu, dan bunga-bunga liar.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 Mei 2007 at 14:19

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Empat Perempuan dalam Perut Babi

with 3 comments

Mencapai pelataran rumah Sekar, termangu di bawah pohon kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi perempuan itu, sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus labirin buram, tabir waktu yang telah diluruhkannya.

“Kamu mau membeli lukisanku?” tanya Sekar sinis, seperti tak memerlukan kehadiranku. “Tampaknya kau begitu yakin, aku akan melepaskan lukisan itu.”

“Aku masih berharap kau mau melepas lukisan itu.”

“Tak akan kulepas, kecuali aku mati.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 Januari 2007 at 15:04

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pembunuh Bertopeng

leave a comment »

Perempuan penyanyi kelab malam itu tak merasakan getar angin yang lamban di atas kuil emas Buddha tidur. Somsri senantiasa mencari makna ajal yang damai di wajah patung keemasan itu. Belum juga dimengertinya, mengapa kedamaian yang menenteramkan terpancar pada wajah Buddha menjelang wafat. Selalu saja ia menatap wajah kekasih gelapnya, Somjai, yang terperangkap kecemasan. Setidaknya, kilau keemasan patung Buddha tidur, yang begitu panjang, dan pertikaian hatinya untuk mengantar lelaki itu ke Kuil Wat Pho telah membuatnya tersadar, ia tak perlu lagi sembunyi-sembunyi mengasihi lelaki muda itu. Ia memiliki ruang yang bebas untuk mengepakkan sayapnya seperti pesona merpati-merpati yang berkeliaran di pelataran candi.

Lelaki muda itu, Somjai, pernah mengungkapkan keinginannya pada Somsri akan hasratnya menyempurnakan hidup sebagai biksu, dengan kepala gundul mengilat dan jiwon1) melilit tubuhnya. Somjai bicara dengan kesantunan. Matanya teduh. Mata yang memancarkan kebeningan serupa mata air, yang mengalirkan hidup dengan keikhlasan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

17 September 2006 at 15:39

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Pengembaraan Saridin

with one comment

Tak ada lagi yang bisa dilacak Saridin. Ia pulang dengan hampa harapan. Tak ditemukan siapa pun di rumah. Telah beberapa hari ini ia ditinggalkan istri. Untuk masuk ke dalam rumah, ia tak dapat. Rumahnya sudah disita bank. Ia termangu di pelataran. Langit memutih. Burung-burung sriti menyambar-nyambar. Gerimis tipis menerpa puncak hidungnya. Tubuhnya menggigil.

Sendirian, tanpa cahaya, Saridin terdiam sebeku tugu. Ia kehilangan istrinya, yang memilih lari dengan lelaki lain. Ia kehilangan rumah—yang selama ini menjadi tempat bernaung. Perusahaan pun telah bangkrut, dan seluruh karyawan meninggalkannya dengan raut wajah yang murung, sedih dan tak berdaya.

Tetangga sebelah rumah—yang biasanya menaburkan kecemburuan—memandanginya dengan cahaya mata yang sinis, cahaya mata yang bersorak. Dada Saridin terberangus. Ia tak meladeni ejekan tetangga sebelah rumah. Saat gerimis turun mulailah ia meninggalkan pelataran rumah, dan tak berpikir untuk membawa apa pun, kecuali dirinya sendiri.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 Juli 2006 at 01:29

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: